
[Chapter 214.]
[Salam pertemuan.]
[Silahkan Dibaca.]
Jepang.
Helikopter Ryuto tiba di Jepang, tidak ada sama sekali pasukan yang menghentikan hal tersebut.
Mereka benar-benar tidak menghentikan Helikopter Ryuto, karena mereka sudah melihat lambang keluarga Kurokami.
Helikopter kemudian melesat ke arah kediaman Ryuto dengan cepat, Helikopter melesat tanpa ada halangan apapun.
Namun, Ryuto dan yang lainnya menyadari ada yang mengintai mereka, Ryuto mengamati sekitar Tokyo.
“Sepertinya benar, mereka sudah berada di halaman kediamanku,” ungkap Ryuto, dia memfokuskan oleh kedua Aura besar.
**
Kediaman Ryuto.
Cohza Akura duduk disana, dia menatap ke arah keluarga Kurokami, dia melihat hanya ada satu pasangan yang dulu pernah dia lihat dan beberapa anak-anak.
Cohza menyeringai, ketika dia merasakan apa yang dia tunggu-tunggu, Cohza menatap ke arah langit.
“Akhirnya datang.”
Cohya berkata membuat seluruhnya melihat ke atas langit, disana terlihat sebuah Helikopter besar perlahan-lahan turun.
Belum sempat Helikopter turun, Ryuto dan para istrinya terbang dan melesat turun terlebih dahulu.
Booomm.
“Aku tidak menyangka kedatanganku ke Jepang di sambut dengan meriah,” Ryuto tersenyum menatap ke arah Cohza.
Seida menatap ke arah Ryuto dengan terkejut, dia benar-benar tidak bisa mengukur kekuatan Ryuto kembali.
‘Dia berkembang sejauh ini hanya beberapa hari,' batin Seida, dia benar-benar terkejut dengan perkembangan Ryuto.
Seida kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Eimi, dia senang bahwa Eimi senang, itu saja sudah cukup baginya.
“Aku ingin bertemu denganmu, Ryuto Kurokami,” Cohza Akura menyeringai, kemudian aura miliknya meletus dengan hebat.
Boooooooooommmmmmmmm.
Aura yang sangat kuat menekan seluruh dunia, Aura yang sama dengan Aura milik Ryuto.
Aura penguasa dunia.
Boooooooooommmmmmmmm.
Ryuto juga mengeluarkan aura tersebut, kedua aura saling berbenturan, para istri Ryuto segera melindungi anak-anak dan keluarga Kurokami.
Bzzzt Bzzzt Bzzzt Bzzzt Bzzzt.
Tabrakan kedua Aura membuat berbagai kilatan petir muncul, langit seketika menghitam.
Rumah di sekitarnya hancur tanpa sisa, beruntung di rumah tersebut, tidak ada orang sama sekali.
Kedua orang tersebut melayang perlahan ke atas, mereka saling memandang dan tersenyum ringan.
Keduanya mengepalkan tangan, kemudian energi spiritual melapisi tangan mereka hingga puncak.
Keduanya saling memandang, kemudian melesat satu sama lain dan mengayunkan pukulan mereka.
Booooooooooooooommmmmmmmmmmmmmm.
Ledakan besar sangat kuat, namun dapat dikontrol oleh Ryuto dan Cohza.
Tanpa mereka kontrol, Jepang sudah rata dengan tanah, karena pukulan tersebut, beruntung mereka mengarahkan ledakan tersebut ke arah lautan.
Namun, karena mereka mengarahkan ke laut, sekarang laut terlihat sangat kacau, akibat ledakan tersebut.
Air naik ke atas, memperlihatkan sebuah lubang besar di dasar laut, kemudian langit-langit laut menghitam.
Ryuto dan Cohza menghilangkan aura mereka, keduanya turun. Mereka berdua tersenyum karena sudah melakukan salam antar orang terkuat.
Tap tap.
Ryuto dan Cohza tiba di tanah, mereka saling memandang, lalu Cohza berbalik dan berkata dengan nada santai.
“Akan kutunggu kau di perang terakhir,” Cohza berkata dengan santai dan misterius, Ryuto sendiri mengerutkan keningnya.
‘Perang akhir?’ Ryuto bingung maksud Cohza, Seida sendiri menundukkan kepalanya dan pergi mengikuti Cohza.
Hanya dua orang yang paham maksud dari Cohza, namun kedua orang tersebut belum ingin memberitahu Ryuto.
Ryuto menaikkan bahunya, dia tidak terlalu peduli, dia memandang ke arah tangan kanannya.
‘Menarik, seperti dugaanku, ada lagi tingkatan di atas Prajurit langit.’
Para istri Ryuto mendatangi Ryuto, mereka benar-benar khawatir dengan Ryuto sekarang, bagaimanapun beradu pukulan dengan orang terkuat bukanlah hal sepele.
“Apakah kau baik-baik saja, Sayang?” tanya para istri Ryuto, mereka menatap ke arah tangan Ryuto yang masih memerah.
“Hanya memerah saja, benar-benar berat pukulan orang itu,” Ryuto benar-benar merasa Cohza juga tidak menahan.
Namun, sebelum mereka berkata, mereka merasakan 100 orang mengelilingi mereka dengan cepat.
Wush Wush Wush Wush Wush.
“Ryuto Kurokami, menyerahlah terhadap pemerintah Jepang, jika kau melawan, kau akan ma-“ belum sempat orang tersebut menyelesaikan kata-katanya.
Kepala orang tersebut melayang terpisah dari tubuhnya, seluruh pasukan bertopeng terkejut melihat hal tersebut.
Erika menebas kepala pasukan tersebut, dia terlihat memerah karena marah, para istri Ryuto juga.
Mereka ber-40 mengelilingi Ryuto dan keluarga Kurokami, beserta anak-anaknya, mereka mengeluarkan aura membunuh yang besar ke arah 99 pasukan tersebut.
Bushhhhhh.
Ryuto sendiri selesai memasang pelindung, dia melihat ke arah anak-anak, dia lupa bahwa disini ada anak-anak.
‘Akh, aku lupa kalau ada anak-anak, apalagi mereka menonton berdarah seperti ini,' batin Ryuto, dia menepuk keningnya.
Namun, dia juga heran tidak mendengar teriakan anak-anaknya, Ryuto kemudian melihat ke arah anak-anaknya.
Dia sedikit terkejut, melihat anak-anaknya menggertakkan giginya, mereka terlihat geram dan marah.
Ryuto melihat itu tersenyum dan menepuk kepala mereka, lalu dia berkata dengan nada ringan.
“Kendalikan emosi kalian, jangan amarah mengendalikan kalian, melainkan kalian yang seharusnya mengendalikan amarah.”
Para anak-anak melihat ke arah Ryuto, mereka memeluk Ryuto dan berkata dengan nada patuh.
“Baik, Papa.”
Mereka menurut kepada Ryuto, bagaimanapun Ryuto adalah Ayah yang terbaik bagi mereka.
(Note : Anak-anak itu, Ren, Youma dan Youka.)
Ryuto membalas pelukan mereka dan mengelus punggung ketiganya, dia benar-benar senang dengan anak-anaknya.
Tanpa disadari oleh Ryuto, ketiga anak-anak tersebut tertidur pulas dalam pelukan Ryuto.
Kiba dan Agnes juga melihat hal tersebut, mereka benar-benar senang melihat anak-anak memeluk Ryuto dengan penuh rindu.
Namun, mereka kembali fokus ke arah 40 istri Ryuto yang melindungi mereka, entah bagaimana dalam hati mereka timbul rasa bersalah.
Mereka berdua saling memandang, kemudian mengangguk bersama. Tangan mereka terkepal dan berfikir.
‘Kita harus jadi kuat, agar bisa melindungi anak-anak dan keluarga.’
**
Ke-40 istri Ryuto menatap ke arah 99 pasukan, mereka menatap dengan tajam dan sangat dingin.
Ke-99 pasukan benar-benar merasa tercekik oleh aura yang dikeluarkan oleh 40 istri Ryuto, mereka benar-benar tidak menyangka bahwa istri Ryuto akan semengerikan ini.
“Ji-Jika kalian benar-benar berani memberontak, kami akan menggunakan kekerasan.”
“Semuanya, serang,” teriak salah satu pasukan membuat seluruhnya mengangguk dan melesat ke arah Istri Ryuto.
“Dasar orang-orang bodoh,” Olivia berkata dengan nada dingin, para saudarinya yang lain tersenyum dingin.
Namun, ada yang terkikik dan terlihat tersenyum dengan senang, entah apa yang difikirkan oleh istri Ryuto tersebut.
“Hihihi, mari kita mulai memberikan rasa sakit, karena telah membuat kita marah.”
**
Di suatu tempat.
Akuzo tengah menatap ke arah orang yang berada didepannya, dia menatap dengan dingin, walaupun ada sedikit keringat dingin terlihat.
Keringat dingin tersebut, terjadi ketika dia merasakan tekanan yang sangat berat, tekanan tersebut benar-benar membuatnya jatuh ke tanah dan berbaring.
Namun, sekarang dia tidak peduli dengan hal tersebut, hal utama yang dia akan capai ialah membunuh orang didepannya.
Orang tersebut diikat di tiang silang, orang tersebut ialah, Ryuzen.
“Dengan ini, aku akan menjadi Presiden Jepang, waktunya aku, Akuzo bersinar.”
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thanks you Minna-san.