
[Chapter 269.]
[Melawan Kera Api Perkasa 2.]
[Silahkan Dibaca.]
Hutan.
Ryuto menatap ke arah kera di depannya. Begitu juga sebaliknya, kera terus memutar tongkat miliknya sambil menatap tajam Ryuto.
Wushh Wushh.
Keduanya melesat satu sama lain. Kera mengayunkan tongkatnya dengan cepat. Ryuto menahan tongkat dengan pedang miliknya.
Booooommmmmm.
Wushhhhhh.
Pohon-pohon di sekitar mereka terbang ke segala arah. Area hutan tempat mereka bertempur berubah menjadi tandus.
Ryuto menatap ke arah kera yang tengah melesat ke arahnya. Melihat hal itu, dia mengayunkan pedangnya ke depan dengan keras.
Wushhhh.
Kera melihat serangan tersebut, hanya memutar tongkat miliknya. Dia ingin memblokir serangan tersebut.
Namun, serangan Ryuto sangat kuat. Kera yang merasakan serangan tersebut, terpental kembali ke belakang.
Booommmm.
Ryuto melihat kera terpental, dia melesat ke arah atas kera tersebut. Ia ingin memukul kera dengan pedangnya ke bawah.
Tiba di atas kera. Ryuto dengan cepat melesatkan ayunan pedang miliknya tersebut. Kera tidak bisa menghindari serangan itu, bagaimanapun juga dia sekarang tidak bisa bergerak.
Booommmmm.
Kera membelalakkan matanya dan terpental ke arah tanah, menciptakan kawah yang sangat besar. Ryuto yang telah selesai memukul tersebut, naik ke atas.
Ryuto menatap dingin ke arah kera. Pedang Ryukuo lepas dari tangannya dan terbang tepat di atasnya.
“Apakah hanya ini, kekuatan dari Kera Api Perkasa itu?” Ryuto mengejek dengan keras, agar dapat terdengar oleh kera tersebut.
Mendengar ejekan dari Ryuto, mata kera berubah menjadi merah. Api seketika menyala dan mengisi kawah tersebut.
Grooooooooaaaaaaaaaaa.
Ryuto tersenyum melihat hal itu, dia benar-benar senang memancing musuh untuk menjadi kuat terlebih dahulu, agar pertarungan mereka menjadi lama.
Ryuto dengan ringan memasang ruang di hutan tersebut. Dia tidak ingin Pertarungan dirinya menghancurkan kehidupan manusia di Kyoto.
Kera berdiri, seluruh tubuhnya sekarang diselimuti oleh api. Kawah yang tercipta sebelumnya sekarang berubah menjadi waduk api.
Kera menatap ke arah Ryuto dengan marah. Dia kemudian, mengambil batu yang berada di bawahnya. Dengan ringan, monster itu melempar batu ke arah Ryuto.
Wushhhhhh.
Ryuto melihat secuil meteor melesat ke arahnya dari bawah. Dia menatap dengan ringan, akan tetapi selanjutnya menjadi serius.
Sringgg.
Ryuto melebarkan matanya, sesuai dugaannya. Kera di depannya bertukar tempat dengan batu meteor tersebut.
Grahhhh.
Kera mengayunkan tongkat yang sudah memanas ke arah Ryuto. Namun, Ryuto sudah mengantisipasi akan hal tersebut.
Ryuto dengan cepat memegang gagang pedangnya dan mengayunkan ke arah tongkat kera di depannya.
Booommmm.
Langit menjadi gelap dan berlubang di tengahnya. Terlihat awan terhisap ke atas, fenomena tersebut di saksikan oleh beberapa orang yang berada di sekitar hutan.
Ryuto berhasil menahan tongkat tersebut, akan tetapi dia harus menguras banyak tenaga untuk menahan serangan tersebut.
Kera sendiri kembali jatuh ke bawah, akan tetapi dia bisa menyeimbangkan tubuhnya. Monster itu menatap ke arah Ryuto yang perlahan-lahan mulai turun.
Ryuto turun karena untuk menghemat beberapa Qi miliknya. Dia tidak memiliki energi spiritual sama sekali karena hal itu digantikan oleh Qi.
Ryuto merasakan tubuhnya menjadi lebih bugar kembali ketika tiba di tanah. Dia merasa bahwa pertarungan tadi membuat, tubuhnya menjadi lebih kuat.
Ryuto menatap ke arah kera dengan sengit. Kemudian, pedang miliknya bercahaya berwarna ungu kehitaman.
“Mari mulai, pertarungan kedua.”
Wush Wush.
Ryuto dan kera saling melesat satu sama lain. Mereka mengayunkan senjata dengan cepat dan keras.
Boom Boom Boom Boom Boom.
***
“Apakah tidak ada cara untukku masuk?” Tifa mencari jalan masuk, akan tetapi tidak ketemu sama sekali.
Alhasil, Tifa menyerah dan menatap ke arah depan di mana pertarungan Ryuto dan kera terjadi. Dia terkejut ketika melihat pertarungan yang begitu sengit.
Tifa bisa merasakan perasaan senang Ryuto karena dirinya terhubung dengan suaminya tersebut. Perasaan senang, gembira, dan bahagia menjadi satu.
“Apakah ini perasaan Suami sekarang... Dia benar-benar terlihat menikmati pertarungan.”
Tifa merasakan perasaan tersebut, ingin sekali bertarung seperti suaminya tersebut. Para istri lainnya juga merasakan apa yang dirasakan oleh suaminya.
Namun, seluruh istri tetap melakukan perintah suami mereka terlebih dahulu, kemudian bertanya terkait kebahagiaan tersebut.
***
Cohza menemukan Seida di sisi gunung tengah memeluk seorang perempuan yang cantik. Dia mengerutkan keningnya ketika melihat Seida menangis tersebut.
“Amel, kenapa kamu tidak menurut untuk berdiam di kediaman!” Seida menangis dengan kencang, hatinya benar-benar hancur melihat kekasihnya terbaring mati di tempat tersebut.
Seida yang tengah bersedih, tidak bisa merasakan kehadiran Cohza yang sudah berada di belakangnya.
Seida merasakan tepukan bahu dari belakang, dia menoleh ke arah belakang dan menemukan Cohza.
“Seida, tenanglah sebentar.” Mendengar ucapan Cohza, Seida ingin marah akan tetapi dia terpotong oleh ucapan Cohza selanjutnya.
“Kekasihmu itu masih bisa dibangkitkan. Ada namanya Kristal Jiwa di Alam Menengah. Namun, itu hanya bisa digunakan sekali.”
Seida merasakan bahwa ada harapan untuk membangkitkan kembali kekasihnya tersebut. Dia sekarang memiliki tujuan untuk pergi ke Alam Menengah, akan tetapi dirinya juga takut akan terjadi sesuatu kembali kepada istrinya tersebut.
“Cohza, apakah Ryuto bisa membangkitkan orang mati?” Cohza sedikit mengerutkan keningnya. Dia tidak pernah tahu, ada istri Ryuto yang terbangkitkan.
“Aku tidak tahu, tapi nanti cobalah untuk bertanya kepadanya.” Seida mengangguk setuju dengan ucapan Cohza. Kemudian, dia melapisi tubuh kekasihnya dengan energi spiritual agar tetap awet.
“Baiklah, ayo menuju ke tempat Ryuto ber---“ ucapan Cohza terhenti ketika mendengar suara ledakan besar di hutan.
Boooooommmmmmm.
Cohza dan Seida menatap ke arah ledakan itu terjadi, mereka melihat sesuatu yang melindungi tempat tersebut.
Keduanya merasakan kekuatan Ryuto yang terus meningkat. Cohza tertegun dan menyeringai.
“Sial, dia menemukan musuh yang kuat. Dia benar-benar bersenang-senang.” Cohza berkata dengan penuh iri.
Cohza dan Seida melesat ke arah Ryuto. Seida menggendong kekasihnya di punggung, agar tetap terhubung satu sama lain.
***
Boom Boom Boom Boom Boom.
Groooaaaa.
“Oryaaaa.” Ryuto dan kera saling memukul satu sama lain. Mereka berdua membuang senjata mereka dan beradu pukulan satu sama lain.
Boooommmmm.
Kedua kepalan tangan beradu dan kedua sosok itu mundur ke belakang karena terdorong oleh gelombang pertarungan.
Kera menatap Ryuto dengan penuh minat. Dia benar-benar senang akan pertarungan yang begitu kuat.
Ryuto sendiri juga senang akan pertarungan tersebut. Fisiknya tumbuh jauh lebih kuat dari sebelumnya. Dia seharusnya belum menyentuh fisik Alam Menengah, akan tetapi karena dorongan dari kera membuatnya bisa menembus batas fisik miliknya.
Ryuto dan kera saling menatap, keduanya saling tersenyum satu sama lain. Kemudian Ryuto berkata dengan lantang.
“Mari kita ke pertarungan puncak, teman.”
Ryuto benar-benar menganggap musuh di depannya adalah teman. Kera sendiri yang dianggap teman memukul dada dengan riang.
Graaaaa.
Ryuto tahu bahwa kera setuju. Dia ingin membuat kera menjadi peliharaannya sekarang. Dirinya mengumpulkan energi Qi di tangannya.
Qi yang dimiliki Ryuto sangat tipis sekarang. Dia perlu beristirahat selepas ini, agar Qi miliknya kembali penuh lagi.
Kera melihat itu dengan senyumannya, mengepalkan tangan dengan keras. Api menyembur dan menyelimuti tangan tersebut.
Ryuto dan kera selesai menyiapkan serangan mereka. Keduanya saling menatap dan melesat satu sama lain.
Wush Wush.
Tiba di tengah arena keduanya saling mengayunkan pukulan mereka dengan keras. Kedua pukulan saling bertemu.
Boooommmmmmmmmnnmm.
[To be Continued.]
Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.
Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.
Thank you Minna-san.