Sistem Kekayaan - 10 Detik

Sistem Kekayaan - 10 Detik
Chapter 181


[Chapter 181.]


[Akhir kasus menara.]


[Silahkan Dibaca.]


Tol 58Km Cipali.


Menara Belanda.


June, Arisa, Silvia, dan Erika menatap tajam ke arah roh John Thomson. Mereka berempat santai, namun tetap tidak mengendurkan kewaspadaan.


June menghilang terlebih dahulu, kemudian dia muncul di depan roh John, dia dengan cepat menendang John.


Booommmm.


John terbelalak terkejut melihat hal tersebut, dia menabrak dinding sampai dinding tersebut hancur.


Booommmm.


John terbang ke luar dan terjatuh di tempat medan perang dia dulu, dia terjatuh dengan merasakan sakit di tubuhnya.


“Bagaimana aku bisa terluka?” ungkap John, dia benar-benar bingung dengan hal tersebut, lalu sebuah suara muncul di belakangnya.


“Itu karena, kau lemah,” ucap suara perempuan yang tak lain ialah, Arisa. John berbalik untuk melihat ke arah Arisa.


Namun, sebuah tongkat mengayun dan memukul tepat perutnya. Tongkat tersebut mengangkat John ke atas.


Booommm.


John terbang ke atas dengan terkejut, dia benar-benar merasa terkejut, melihat dirinya bisa dilukai dan luka tersebut tidak bisa disembuhkan.


“Tidak, tidak mungkin, aku harus membalaskan dendam,” ucap John di udara, kemudian muncul di samping Arisa yaitu, Silvia dan Erika.


John terus berucap kata ‘aku harus balas dendam, aku harus balas dendam.’ Ucapan tersebut terus terdengar dari John.


Ryuto, Zero, June, Arisa, Silvia, dan Erika melihat ke atas. Kemudian, awan hitam mulai menyelimuti medan tersebut.


Mereka juga melihat seluruh spiritual jahat melesat cepat masuk ke dalam roh John tersebut.


“Hmmm, sepertinya dia ingin berubah menjadi Roh jahat,” ucap Ryuto, kemudian dia melanjutkan ucapannya.


“Sebenarnya sifatnya sudah jahat sih,” lanjut Ryuto, dia menatap dengan santai tanpa waspada sama sekali.


Keempat istri Ryuto, menatap ke arah John yang mulai berubah menjadi roh jahat. Mereka menunggu John berubah.


Beberapa menit kemudian.


Terlihat John berubah menjadi lebih besar, dia berubah menjadi raksasa, namun wajahnya benar-benar berbeda.


Rawwwrrr.


“Kalian sudah berani menghalangi jalan balas dendam milikku, hanya satu kata untuk kalian, mati,” teriak John.


John mengayunkan tangan raksasa menuju ke arah ke empat istri Ryuto. Arisa yang melihat itu tersenyum.


“Mari kita mulai,” ucap Arisa, sementara June, Silvia, dan Erika mulai tersenyum. Kemudian, mereka mulai menghilang.


Arisa tetap di tempat menyambut pukulan raksasa yang bergerak lambat dalam visi / pandangan Arisa.


Pukulan raksasa tiba, Arisa memutar tongkatnya dan mengayunkan dengan santai ke arah atas.


Booooommmmm.


Tangan raksasa terlempar ke arah atas, John yang melihat hal tersebut terkejut, dia tidak menyangka tangan besar di balikkan.


“Terkejut kan, terkejut kan, fufu~ namun sayang kau harus dibunuh,” ucap suara tepat di atas John.


John menatap ke arah langit, dia melihat sosok perempuan yang memancarkan cahaya tepat di matanya, perempuan tersebut ialah June.


Wushhh.


John terkejut melihat June muncul di depannya dan sangat dekat, lalu dia merasakan rasa sakit di mata kanannya.


Jlebbbb.


June melemparkan belati ke arah mata milik John, dia melemparkan sampai menembus bagian belakang.


Arhhhhh.


Brukkk.


John terduduk dan memegang matanya tersebut, namun saat dia menatap ke arah tanah.


Dia menemukan Silvia dan Erika berjalan santai ke arahnya, dia melihat bahwa keduanya memakai pedang masing-masing.


John terkejut, dia ingin kabur. Namun, saat dia akan bergerak, dia merasakan rasa sakit di bagian perutnya.


Slashhhh.


Tanpa sadar, John menegak dan menatap ke arah langit. Silvia dan Erika menebas perut John, secara menyilang.


“Ke-kenapa, kenapa i-ini bisa terjadi?” gumam John, menatap ke langit dengan tatapan kosong.


“Kenapa kalian menghalangi jalan balas dendamku,” raung marah John. Kemudian, dari luka yang dia dapatkan muncul api berwarna ungu.


Bussshhh.


June, Arisa, Silvia, dan Erika berkumpul dan menatap ke arah John yang mulai terlalap oleh api ungu.


“Api ungu bertindak, sungguh aura jahat yang keras kepala,” ucap June, kemudian Arisa berkata.


“Kau benar, namun raksasa itu masih bisa bergerak,” ucap Arisa, ke tiga saudarinya mengangguk.


Kemudian, John perlahan berdiri, walaupun dirinya terlalap oleh Api, namun keinginannya untuk balas dendam sangat tinggi.


“Mati...mati...mati...” John terus berucap kata mati. Dia kemudian, meraung dengan keras.


“Kalian harus mati,” raung John, kemudian dia mengayunkan tangannya yang diselimuti api berwarna ungu.


Ke empat istrinya bersiap untuk bertarung, mereka melesat ke arah raksasa tersebut, Arisa memukul tangan raksasa tersebut.


Boooommmm.


Tangan raksasa terpental ke belakang, kemudian Erika dan Silvia menebas tepat ke arah Kaki besar milik raksasa John tersebut.


Slash Slash.


Brukkkk.


John terduduk dengan paksa, kemudian dia melihat June melesat ke arahnya, belati berada di depannya.


Slashhhh.


June menebas tepat leher dari John, kepala besar John terbang dan jatuh dengan keras di bawah.


Booommmm.


Tubuhnya tetap duduk tanpa ada tanda-tanda akan berbaring, api ungu menjadi lebih cepat melalap roh John tersebut.


Wushhhhh.


John belum bisa berkata apapun, dia menghilang dari dunia, jiwanya sudah dibawa oleh api ungu.


Tap tap.


June tiba di tanah dekat Arisa, Silvia, dan Erika. Kemudian, langit yang gelap menghilang perlahan-lahan menjadi cerah.


Ryuto dan Zero berjalan ke arah para istri Ryuto tersebut, kemudian saat tiba di dekat mereka, Ryuto segera dipeluk keempatnya.


Greppp.


“Hmmm, benar-benar nyaman dalam pelukan,” ucap Silvia, dia merasa lebih nyaman dengan memeluk Ryuto.


Ketiga saudarinya juga sama, mereka berempat menikmati memeluk Ryuto, sementara Ryuto jelas membalas pelukan mereka.


Zero sendiri, menatap dengan wajah lesunya, dia benar-benar merasa seperti obat nyamuk di sekitar Tuannya.


‘Selepas misi, aku harus menghubungi Anisa,' batin Zero, dia benar-benar terlihat tak berdaya sekarang.


Ke empatnya selesai memeluk Ryuto, kemudian mereka berjalan bersama menuju ke arah mobil mereka.


Ryuto dan Zero berada di belakang, keempat istrinya berada di depan. Entah bagaimana keempatnya menjadi semangat.


Ryuto berhenti di jalan dan menatap ke arah menara belanda, dia bisa melihat sosok roh yang berada di atas menara belanda tersebut.


Sosok roh dengan tatapan tegas, tangan memegang bendera berwarna merah dan putih.


Ryuto yang melihat hal tersebut, dia berbalik dan berjalan menyusul istrinya dan Zero tersebut.


Tanpa sadar, selepas dia melihat roh tersebut. Sudut mulutnya terangkat, membentuk sebuah senyuman penuh arti.


“Sayang, cepatlah,” teriak ke empat istri Ryuto, membuat Ryuto menatap ke arah ke empat istrinya.


“Iya,” Ryuto membalas ucapan ke empat istrinya dan berjalan pergi menuju ke arah istrinya dengan cepat.


Atap menara.


Sosok roh tersebut, perlahan-lahan membentuk sebuah butiran. Dia menatap ke arah medan perang dengan senyumannya.


“Saudara-saudara, kita menang,” sosok tersebut melihat dirinya di medan perang tersebut.


“Sudah berpuluhan tahun, akhirnya aku bisa pergi menyusul kalian,” ucap sosok tersebut, kemudian dia menghilang dan meninggalkan sebuah kertas yang sudah robek.


Kertas tersebut jatuh ke bawah, saat roh tersebut menghilang dari tempatnya, surat tersebut terdapat sebuah tulisan yaitu.


‘Proklamasi.’


[To be Continued.]


Silahkan Like, Comment, Share, Vote, dan tip koinnya.


Jangan lupa klik tombol Favorit agar tidak ketinggalan update terbaru.


Thanks you Minna-san.