
KIYARA POV
Jam dua siang aku kembali ke rumahku dengan Mas Dave yang ada di sebrang rumah Bunda dan Ayah, rumah terasa sangat sepi jika di bandingkan dengan rumah Ayah-Bunda yang ramai selain karena lebih banyak orang yang tinggal di sana juga sudah ada tangis bayi kecil yang menggemaskan. Mommy dan Daddy, juga memilih tinggal berdua di perumahan yang dulu Mas Dave pernah tinggal setelah menikah tak lagi meminta satu bulan tapi
semaunya mereka sebosennya di sana katanya, masih mau merajut kembali kebahagian yang sempat pudar, menyisakan aku dan Mas Dave berdua di rumah besar ini yang kadang malah membuatku sering merasa sedih karena selalu terbayang saat aku keguguran ternyata saat sepi seperti ini aku baru menyadari bahwa sebetulnya aku belum se-ikhlas itu kehilangan buah hati pertamaku, membuatku sering menangis di penghujung salat.
“Mas Dave itu orangnya kadang susah di tebak, kadang suka ngegoda sampek akunya malu sendiri kadang sampek aku kesel, tapi kadang juga jadi orang pendiem kalau aku nggak sengaja melakukan kesalahan, tapi kalau di pikir-pikir seru juga berumah tangga sama orang seperti Mas Dave,” ucapku sembari menatap gemas foto bayi Mas Dave yang aku taruh di ruang keluarga.
Hari ini rencananya mau mendekor area dapur sedikit, lebih tepatnya menata ulang area dapur biar keliatan lebih rapi dan tertata lagi. Lalu membuat makanan untuk makan malam nanti, menu sederhana saja karena Mas Dave lebih suka menu-menu sederhana khas sunda.
“Ini, kenapa perut aku rasanya nggak enak gini ya,” ucapku sembari mengusap pelan perutku, meresapi siapa tahu
sudah ada makhluk kecil lagi di dalam sana.
“Sayang, kamu kenapa elus-elus perut kamu kayak gitu? Sakit?”
Aku memundurkan langkahku, terkejut dengan suara besar yang baru saja menyentakku kembali ke dunia nyata dan meninggalkan dunia lamunan. “Eh, Mas udah pulang … kok aku nggak dengar suara mobil kamu masuk, ayo sini aku bawakan tasnya.”
Dengan penuh semangat aku membawakan tas Mas Dave dan menggandenganya menuju kamar. “Kamu kenapa tadi kok elus-elus perut kamu?” tanyanya lagi.
“Eh, nggak apa-apa cuman lagi mikir kapan kita di kasih kepercayaan lagi sama yang di atas,” ucapku dengan
senyuman manis, biar Mas Dave nggak merasa kalau aku lagi mellow sekarang.
“Secepatnya, semoga ya … kamu ini sudah selesai haidnya?” tanya Mas Dave sembari mengusap pucuk kepalaku.
“Hem, belum Mas haidnya kayak nggak lancar flek aja,” jawabku dan dia menganggukkan kepalanya.
“Mas mau langsung mandi atau mau istirahat dulu?” tanyaku sembari meletakkan tas kerja suamiku di atas meja kerjanya yang ada di dekat jendela kamar.
“Mandi dulu aja, gerah.”
“Ya sudah aku siapkan bajunya dulu.”
Mas Dave sudah masuk ke dalam kamar mandi dan aku mengambilkan baju santai yang akan di pakai Mas Dave sore ini. Sampai beberapa menit kemudian Mas Dave keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang dililitkan di bawah pusarnya saja.
“Bajunya di atas kasur, Mas,” ucapku yang masih sibuk mengambil bajuku sendiri karena berniat akan mandi juga.
“Kamu mau mandi?” tanyanya.
“Heum, aku belum mandi masih bau acem ini, Mas kalau mau asharan duluan aja aku belum selesai,” ucapku.
“Iya, Mas.”
Di dalam kamar mandi aku memilih mandi cepat, kepikiran ucapannya Mas Dave yang mau membicarakan sesuatu. Satu kelemahanku lainnya, kalau udah diomongin kayak gituh malah keponya kebangetan ha ha ha, dasar aku.
Saat sudah di ruang keluarga Mas Dave belum ada di sana, samar-samar aku mendengar suaranya tengah mengaji, lebih baik aku menyiapkan minuman dan camilan dulu untuk menemani ngobrol sore kali ini.
**
DAVE POV
Aku melihat istriku tengah duduk di atas sofa ruang keluarga, memakai dres rumahan tapi bukan daster kali ini lebih modern dan aku suka melihatnya seperti ini, berusaha berganti-ganti model pakaian dan menyesuaikannya dengan kondisi yang ada dan tentu saja dia sudah pandai memanjakanku dari mulai memanjakan perut, mata, ah pokoknya semuanya dia manjakan.
“Mas sini, aku sudah buatkan minuman sama camilan,” ucapnya seraya tersenyum cerah padaku, tuh kan baru juga aku bicarakan dalam hati dia sudah memanjakanku lagi.
“Kamu buat apa, Sayang?” tanyaku sembari mendudukan tubuhku di sampingnya.
“Ini aku coba buat resep baru, semacam pizza tapi bumbunya lokal, coba deh sama Mas,” ucapnya sembari mengambilkan satu potong pizza yang topingnya memang terlihat berbeda dari pizza yang biasa aku makan.
Gigitan pertama aku masih meraba-raba rasa makanan yang di buat istriku ini, enak sih tapi aku penasaran
ini pizza rasa lokal pakai apa ada irisan dagingnya juga. “Emh, ini enak … tapi ini rasa apa ya Sayang? Ini bukan rendang kan ya? Kok item begini sausnya?” tanyaku.
“Ini tadi aku bikin di Bunda, namanya pizza rawon hihihi … cocok nggak di lidah Mas?” tanyanya dan aku mengangguk sembari menghabiskan satu potong lagi sampai lupa niatan untuk berbicara tadi.
“Oh, iya aku mau ngobrolin keuangan, kemarin aku belum terbuka sepenuhnya he he he sorry, ya,” ucapku sembari menggaruk tengkukku yang tak gatal sama sekali, sebetulnya agak was-was bicarain ini sama istri, soalnya Kiyara tipe cewek yang disiplin harus serba ketata dan jelas apapun itu, beda sama aku yang pokoknya semua beres dan aku nggak rugi beres deh.
“Loh, bukannya permasalahan uang udah beres semuanya Mas? Dari di Singapur kan kita udah bahas ini sedikit-sedikit, beberapa hari lalu juga kamu udah bahas ini aku kira sudah beres semua, ternyata masih belum selesai?”
Tuh kan nadanya udah kesel, salah aku sendiri sih udah tahu punya istri yang disiplinnya minta ampun, ini malah akunya yang ngulur-ngulur, nyicil pembahasan penting macam ini.
“Sorry, kemarinkan aku ada gadai motor gede aku ke temen buat tambahan modal pembuatan kantor baru, maklum buat usaha pertama masih pontang-panting,” jawabku dan seketika aku merasakan pandangan leser dari arah sebelah kananku.
“Mas … astaghfirullah … aku kan sudah bilang kalau ada apa-apa itu bilang, jangan sampai apa-apa diputusin sendiri kita ini udah nikah, meskipun keputusan final semuanya ada di kamu tapi aku juga berhak tahu, setidaknya ngomong dulu gitu loh, aku juga masih punya tabungan banyak bisa buat bantu kamu, semenjak nikah sama kamu kan uang aku nggak berkurang sama sekali kamu udah menuhin kebutuhanku, astaga Mas Dave,” keluhnya.
“Ini aku gadainya udah lama kok sebelum kita nikah, tabungan aku kan terkuras buat bangun kantor utama jadi waktu belum panen besar dan penjualan meningkat aku gadai dulu moge aku, niatnya mau aku bayar sehabis aku dapat keuntungan penjualan sayur dan buah tapi malah katanya suruh puter dulu biar kantor aku cepet beres, jadinya ya aku belum nebus moge aku, niatnya bulan depan aku mau ngambil pake keuntungan dari uang bengkel,” ucapku membela diri biar nggak kelihatan banget salahnya.
“Apalagi rahasia kamu yang belum kamu ceritain sama aku?” tanyanya, sambil cemberut … uh jadi gagal fokus sama bibir ranumnya jadi pingin anu, Dave ... Dave ... orang istri idugnya udah kembang kempis malah mikir ngelantur.