
"Aaaaa ..."
"Sssttt ... jangan teriak," ucap Dave sembari berjalan cepat menghampiri Kiyara untuk membekap mulut gadis gendut tetangganya itu.
"Jangan teriak, nanti Mommy sama Bunda mikir yang enggak-enggak," ucap Dave kembali sembari menutup bibir Kiyara.
"Ehm ... ehm ..." Kiyara mengangguk-anggukan kepalanya, pertanda akan diam tak akan berteriak dan membuat huru-hara di rumah tetangganya itu.
"Kak Dave, itu ... itu ..."
"Apa?"
"Badan, Kakak."
Dave, dengan polosnya melihat ke arah badannya sendiri sembari memundurkan diri beberapa langkah dari badan Kiyara.
"Kenapa badanku?" tanyanya setelah tak melihat ke anehan di tubuhnya.
"Kakak, kok telanjang dada di depanku sih, itu pusar Kakakkan aurat, nggak sengaja kelihatan tadi
sama aku, sana ih pakai baju dulu," ucap Kiyara sembari menutup matanya dengan kedua tangan.
"Ya Allah kirain ada apa Ki, iya-iya bentar Kakak pakai baju dulu. Kamu nunggu di balkon kamar Kakak aja dulu."
"Ehm, Kakak masuk ke kamar mandi dulu biar aku nggak liat Kakak telanjang lagi, dosa."
"Iya-iya, bentar."
Dave, segera berjalan menuju kamar mandi hanya dengan lilitan handuk yang melilit di pinggangnya sampai lutut, tak sempat mengambil baju terlebih dahulu.
Sementara Kiyara setelah mendengar derap langkah yang menjauh dia segera berjalan dengan hati-hati ke arah pintu balkon dan membukanya dengan segera.
"Eh, kok gelap ... Ya Allah ini masih subuh, mending aku keluar kamar Kak Dave bukannya malah ke balkon gini subuh-subuh, mana dingin banget lagi," ucapnya dan berniat kembali masuk untuk keluar dari kamar Dave dan memilih masuk kamar mandi dekat mushollah bawah untuk sekadar mencuci muka dan berwudhu.
Dengan langkah tertatih, dia berjalan perlahan menuju pintu kamar Dave, meski jempol kakinya masih terasa nyut-nyutan saat digunakan untuk berjalan tapi dia tak punya pilihan lain, karena sangat tak mungkin dia akan terus di kamar Dave seharian ini.
Ceklek ...
Belum sempat tangannya membuka handle pintu kamar, suara pintu kamar mandi milik Dave kembali terbuka.
"Astaghfirullah, kenapa udah di dalem lagi sih Ki," ucap Dave, sembari berjalan kembali ke arah kamar mandi.
"Aku mau keluar aja dari kamar Kakak, mau ke bawah ," kata Kiyara sembari menundukkan kepalanya, karena malu sendiri melihat Dave yang barusan keluar hanya mengenakan boxer ketat berwarna hitam dengan tubuh putih khas bule yang terlihat begitu atletis.
Brak ...
"Untung aja, Kak Dave segera masuk ke kamar mandi lagi dan aku sudah berada di dekat pintu ini, kalau tidak bisa-bisa jantungku copot karena berdetak lebih kencang dari biasanya," lirihnya saat sudah berada di luar kamar Dave.
Setelah sedikit tenang, Kiyara perlahan berjalan menuruni anak tangga ... rumah rasanya masih sangat sepi seingatnya juga di luar masih gelap.
Tapi dia belum tahu pasti ini sudah jam berapa, karena tadi belum sempat melihat jam.
"Kamu mau ke mana?" suara bariton yang dia kenali kini terdengar sangat jelas berada di belakangnya.
"Eh, udah beres Kak?" tanyanya mengalihkan pikirannya yang tiba-tiba gagal fokus.
"Ditanya kok balik nanya sih, iya udah beres. Kakak tanya kamu mau ke mana?" tanya Dave sekali lagi.
"Emh, anu ... itu, aku tadi bukannya bilang ke Kakak mau ke bawah mau cuci muka sama wudhu sekalian mau subuhan," jawabnya gerogi.
"Kamu nggak lihat jam ya?"
Kiyara, meggeleng polos ... melihat ada yang sudah mandi sepagi ini dia pikir ini sudah masuk waktu subuh.
"Ini masih jam 3, Kakak mandi mau tahajudan," ucap Dave.
Deg ...
Malu sekali rasanya Kiyara, berniat menghindari Dave di dalam kamar malah dia salah jadwal salat.
"Emh, lagian Kak Dave juga kalau udah tahu jam 3 pagi kenapa tadi aku di suruh keluar kamar di suruh nunggu di balkon, kan dingin mana gelap lagi," ucap Kiyara.
"Hehehe, iyaya ... sorry-sorry, sini deh aku bantuin turun tangga sebagai permintaan maafku," ujar Dave sembari memegang bahu Kiyara membantunya untuk menuruni sisa anak tangga rumahnya.
"Ehem ... kalian ngapain?"