
“Emang Ayah sama Bunda kemana?” tanya Nasyta, ya semenjak mereka bertetangga, panggilan ke sahabat orang tuanya mengikuti panggilan anak-anaknya sehingga tidak ada lagi panggilan Tante atau Om yang ada Papa, Mama, Ayah, Bunda dan sejenisnya.
“Luar kota, biasalah Kak soal kerjaan,” jawab Nayra meski dengan senyuman tetap saja orang disekitarnya bisa menangkap kesedihan di wajah cantik itu.
“Ya sudah, makanlah di sini tidak apa,” jawab Nasyta.
Kiyara, Dave, dan Lendra turun secara bersamaan dari lantai dua rumahnya. “Loh, ada Nasyta,” ucap Kiyara
sembari tersenyum ramah pada anak sahabatnya itu.
Nasyta, menganggukkan beberapa kali kepalanya sembari tersenyum lebar. “Pagi, Ayah, Bunda, Kak Lendra,”
sapanya.
“Pagi,” jawab ketiganya kompak.
“Papa, sama Mamamu pulang kapan?” tanya Dave yang kini sudah duduk di kursinya.
“Katanya paling lama seminggu, Yah, tapi ya Ayah tahu sendiri kadang bisa lebih dari segitu,” jawab Nayra menyiratkan kesedihan.
“Ya sudah, tidak apa-apa kalau kamu kesepian di rumah tidurlah di sini biar Nasyta ada temannya juga,” ucap Dave lembut, dia sangat tahu jika anak perempuan yang duduk di samping anak sulungnya itu tengah bersedih hati, karena sering di tinggal oleh kedua orang tuanya untuk mengurus bisnis mereka yang tengah berkembang, bahkan dalam satu bulan waktu untuk anaknya bisa hanya dihitung jari.
“Beneran, Yah? Nayra boleh menginap di sini?” tanya Nayra heboh.
“Heleh, kayak yang nggak pernah nginep di sini aja, padahal hampir tiap minggu juga nginep di sini,” sela Nasyta, sedikit kesal dengan reaksi berlebih yang di tunjukkan Nayra, meskipun dia tahu tingkah menyebalkan Nayra, hanyalah sebuah topeng untuk menutupi rasa sedih dan luka hatinya saja.
Bragh …
“Makan, sudah siang nanti kita terlambat sekolah!” ucap Rendra dengan tegas, lelaki itu sedari tadi sudah menulikan telinga, tapi seakan pembicaraan gadis di sampingnya itu tak ada hentinya.
“Rendra!” ucap Dave memperingati, menurutnya Rendra terlalu berlebihan sampai menggebrak meja hanya untuk memperingati Nayra.
“Tidak apa Yah, ini salah Nayra,” lirih Nayra sembari menahan air matanya agar tidak jatuh.
“Ayo, makan semua … yang banyak ya makannya biar di sekolahnya semangat!” ucap Kiyara, menengahi pertengkeran kecil di meja makan.
Pada akhirnya mereka sarapan dengan hening, menikmati suapan demi suapan nasi goreng yang dibuat oleh Kiyara.
“Aku sudah selesai,” ucap Rendra dan langsung berdiri dari duduknya menyalimi kedua orang tuanya untuk berpamitan, membuat Nayra merasa sangat sedih dengan sikap dingin yang selalu ditunjukkan Rendar padanya.
“Tunggu, Bang!” teriak Lendra yang juga sudah selesai menghabiskan makannya, lalu menyalimi kedua orang tuanya di susul Nasyta.
“Kamu belum selesai Sayang?” tanya Kiyara pada Nayra yang masih tampak termenung dengan memegang sendoknya dan tak lama terdengar suara deru mobil keluar dari rumah, membuat Kiyara dan Dave menghembuskan napasnya berat, sudah bisa di tebak itu pasti perbuatan anak sulung mereka.
“Kamu bareng sama Ayah dan Bunda saja, kita juga mau keluar,” ucap Dave kemudian dan diangguki oleh Nayra.
Selang beberapa menit kemudian, Nayra sudah menyelesaikan makannya dan langsung diantar oleh Dave dan Kiyara. Sepanjang perjalanan Nayra, tampak murung dan sibuk dengan pemikirannya sendiri.
“Dulu, seingatku Abang tidak pernah memperlakukanku seperti ini, meski memang sedari kami kecil dia seorang yang pendiam, tapi dia tak pernah sedingin ini padaku, apa lebih baik aku menyerha saja, karena mungkin saja rasa sayang dan cintaku hanya faktor cinta monyet karena aku baru masuk usia puber,” gumam Nayra dalam hati, tapi tak berselang lama kemudia dia menggelengkan kepalanya, kembali meyakinkan diri bahwa cinta itu harus diperjuangkan.