
AUTHOR POV
Sudah empat pulu hari berlalu, kini kondisi baby triplets semakin menggemaskan saja bagaimana tidak menggemaskan pipi ketiganya semakin bulat saja, dengan rambut sedikit pirang dan bola mata biru lautnya kecuali si bungsu yang bola matanya coklat pekat seperti milik Ibunya, membuat siapa saja yang melihat ketiga bayi itu akan gemas dibuatnya.
Di rumah Dave sedang ada acara aqiqahan baby triplets, karena sewaktu acara 7 harian atau puput puseur semua
diadakan secara sederhana tanpa mengundang banyak orang bahkan sanak saudara dari keluarga Kiyara maupun saudara Dave yang ada di Jerman. Sehingga untuk acara 40 harian ini mengundang banyak orang serta sanak saudara, dan tentu saja anak yatim piatu juga, karena kambing yang disembelih untuk aqiqah banyak sehingga selain tamu undangan yang sengaja diundang sedikit lebih banyak juga Dave dan Kiyara berencana untuk membagikan besek hajatan kepada para pekerja yang menyambung hidupnya di jalanan, seperti tukang angkot, becak, dan mungkin kalau beruntung ada pekerja kebersihan yang masih sibuk membersihkan jalanan kota Bandung dari sampah-sampah.
“Yang, ini baju kamu nyaman?” tanya Dave pada Kiyara, sekarang apapun yang akan dikenakan Kiyara selalu saja mendapat pertanyaan nyaman atau tidak dari suaminya itu.
“Nyaman kok, Mas …” jawab Kiyara.
“Itu susuu kamu kayaknya nggak nyaman Yang, terlalu ngepres dibagian sana,” komen Dave.
“Apasih, Mas ini aku yang ngerasain loh. Enggak kok, ini nyaman aja sama aku toh nanti ditutup kerudung yang panjang nutupin dada kok, tenang aja ya,” ucap Kiyara lembut.
“Iya deh,” pasrah Dave.
Semenjak istrinya itu melahirkan keposesivan Dave bertambah berkali lipat karena body sexy istrinya semakin bertambah sexy di matanya, buah dadanya yang semakin besar dan kencang sudah pasti selalu menggagalkan fokusnya, dan dia sama sekali enggan berbagi itu pada siapapun kecuali ketiga anaknya saja.
“Mas, bouncernya sudah disiapkan di depan?” tanya Kiyara.
“Sudah, Sayang, tinggal bawa Baby aja ke sana,” jawab Dave.
Dan setelah Kiyara sudah siap dengan segala keperluannya, kini mereka berdua jalan bersisihan menuju ruang keluarga, baby Rendra dan Lendra di gendong Papa Dave dengan setelan yang sama yaitu baju koko, lalu Kiyara menggendong baby Syta yang sama-sama menggunakan gamis berwarna putih serta kerudung berwarna senada.
“Masya Allah, keponakan Onty,” teriak Shakira.
Oek … oek … oek
Oek … oek … oek
Puk …
“Natal,” ucap El yang kini usianya 14 bulan dan sudah bisa berjalan meski tertatih, sudah bisa berbicara meski hanya beberapa kosa kata dengan sebutan huruf yang kadang aburadul tak karuan.
“Kamu itu, Nak … kuliah udah mau lulus juga, masih suka teriak-teriak kayak anak kecil, tuh keponakan kamu sampai nangis kayak gitu, meni kalah sama El liat dia soleh banget malah marahin kamu, normalnya mah El yang teriak-teriak,” omel Tante Fani pada anaknya.
“Ih, Mami mah … nggak tau aja aku ini lagi suennneng banget punya keponakan baby triplets kayak gini, mana aku baru liat lagi, Mami sih, ke Bandung nggak ngajak-ngajak Shakira jadinya kan Shakira heboh gini,” balas Shakira dengan bibir mengerucutnya, membuat pria yang sejak tadi memerhatikannya mengulum senyum terus, karena menurutnya tingkah Shakira itu lucu, spontanitasnya buat orang spot jantung.
“Sudah-sudah, sini baby Lendra sama Nenek aja,” ucap Bunda Alana yang baru saja masuk ke ruang tengah setelah mempersilakan beberapa tamu untuk masuk ke dalam rumah dan beberapa ada yang di teras yang sudah disulap sedemikian rupa sampai ada tenda yang iasa digunakan oleh orang-orang hajatan.
Acara yang dimulai dari pukul setengah dua sore itu, berjalan dengan khidmat di mana doa-doa untuk ketiga bayi kecil nan menggemaskan itu banyak dilantunkan, juga untuk kedua orang tua dan keluarga besar, belum lagi salawat yang terus mengalun, membuat acara semakin khidmat dan khusyuk.
Acara doa bersama sudah selesai kini semua hadirin sedang sibuk dengan makanannya masing-masing yang kesemua olahannya terbuat dari daging kambing. Beberapa kotak nasi pun sudah di bagikan ke sekitaran jalan yang dekat perumahan Kiyara dan Dave.
“Teuteu, nanti atu tiyum Ade ya,” ucap El yang kini tengah berada di pangkuan Kiyara.
“Iya, boleh … tapi Kakak El harus makan dulu, biar kuat tiyum Adenya,” ucap Kiyara.
“Euum, Tatak mamam banak-banak, aaaa …”
“Meni hideung, budak tehh …” ucap Bunda Alana pada Kiyara.
“Heum, iya El ini nggak pernah rewel juga ya Bun, selalu jadi anak yang baik dan penurut, sama adik-adiknya juga masyAllah meni baik, suka akunya kalau dia main ke sini, selalu bisa ngehibur aku yang kadang rungsing sama bayi-bayi aku,” jawab Kiyara.
“Semoga cucu-cucu Bunda, jadi anak soleh solehah,” gumam Bunda Alana.
“Oh, iya Dave kemana?” tanya Bunda.
“Lagi ke dalem, nganter makan buat Uncle, Aunty, Nico, Jeslyn, dan si bontot Joana, kasihan jetlag …jadi nggak bisa menikmati acara juga,” jawab Kiyara dan diangguki oleh Bunda Alana.
“Nanti disini suruh agak lama, nanti kita ajak jalan-jalan di sekitaran Bandung kan banyak tempat wisata, tapi kamu jangan ikut ya, watir,” ucap Bunda.
“Iya, Bunda … Kiyara di rumah aja, nanti Kiyara minta tolong sama Bunda dan Ayah buat menjamu keluarganya Mas Dave ya, nanti kalau ada rezeki dan si kembar sudah bisa diajak keluar-keluar Bunda sama Ayah aku ajak ke Jerman, buat berkunjung ke kerabat Daddy di sana,” ucap Kiyara.
“Atu itut,” ucap El yang tiba-tiba saja menyahut, seperti tahu apa yang sedang dibicarakan saja.