
Motor matic yang dikendarai Mas Dave membelah jalanan kompleks yang masih sepi, hanya ada segelintir aktifitas
ini, ketika matahari belum menyapa bumi. Udara dingin membuatku memeluk erat Mas Dave dari belakang sembari memasukkan tanganku ke dalam saku jaketnya.
“Dingin, ya,” ucap Mas Dave, untung saja laju kendaraaan motornya cuman 20 km/jam jadi aku masih denger dia ngomong apa, hihihi biasanya aku jadi budeg kalau diajak ngobrol di atas motor kayak gini.
“Iya, dingin banget …” jawabku.
“Nah untung penjual serabinya dikit lagi tuh,” ujar Kak Dave sembari menunjuk tempat jualan serabi yang akan kita datangi.
“Nanti, nggak usah parkir ya Mas, aku turun sendiri aja cuman pesen dulu terus kita ke tukan bubur biasanya, pesen dulu juga lalu lanjut ke apotek,” kataku dan diangguki oleh Mas Dave.
Pagi ini kami mengawali hari di Bandung dengan traveling kecil mencari makanan hehehe, bersama kekasih halalku, suami idamanku. Kami sampai di rumah pukul 7 lebih sedikit dengan membawa banyak sekali makanan hihihi, dan jangan lupakan sekantung kresek test pack yang sekarang di kantungi Mas Dave di dalam jaketnya karena permintaanku tentunya, aku ingin memberi kejutan pada yang lainnya ketika memang aku terbukti hamil, sementara jika tidak biar menjadi rahasia antara aku dan suamiku saja.
“Wah, Tante pulang El …” heboh Teh Asti yang menyambut kedatangan kami di halaman depan bersama Bunda dan Mommy juga yang masih di dalam kebun sayur hidroponikku yang sekarang di rawat oleh Bunda dan Teh Asti selama aku di Singapura, dan mungkin seterusnya akan di lanjutkan keperawatannya sama mereka, sebab aku akan tinggal di rumah yang berada di sebrang sana bersama suami dan ibu mertuaku.
"Aku ke dalem dulu, Yaank," pamit Mas Dave padaku dan kuangguki saja, karena kau mau mengajak Bunda, Mommy, dan juha Teh Asti terlebih dahulu.
“Ayo masuk kita makan sama-sama …” ajakku.
Tin … tin …
Mobil yang teramat aku kenal memasuki halaman rumah Ayah, untung saja tadi aku beli buburnya lebih … kalau
serabi oncom, serabi telor mah jangan di tanya aku beli banyak banget 30 buah belum lagi bala-bala dan rempeyeknya hehehe, entahlah lagi pingin banget sama serabi soalnya.
“Kebetulan banget, Daddynya Dave datang ayo Dek diajak sarapan sekalian, jangan lupa yang udah kita obrolin tadi ya,” kata Bunda sembari berbisik pada Mommy tapi sayang aku mendengarnya dan itu sukses membuatku penasaran. Emh, mungkin saja Mommy curhat dan meminta saran pada Bunda, ya semoga saja mereka rujuk dan bisa saling membahagiakan di usia tua mereka, terlebih Mommy … sudah saatnya kebahagiaan menyertainya setelah perjuangannya yang Mommy lakukan selama ini.
“Teteh, El boleh aku gendong?” tanyaku, sementara kantung kresek berisi serabi masih berada di tangan kanan
dan kiriku.
“Boleh, sini aku bawa itu kamu bawa El,” ucap Teh Asti, uwuuuu … dia pengertian sekali.
“Tahu aja Teteh kalau aku kangen banget,” kataku sembari menaruh sebentar kantung yang aku bawa lalu mengambil alih El dari Mamanya dan dengan sigap Mamud yang suka kelaparan itu membawa serabi masuk hihihi, dan tentu saja aku mengikutinya.
“Ulululu … keponakan Tante pipinya meni tembem gini, uh gemes, nanti kalau udah MPASI makin gemoy nggak ya kamu,” ucapku sembari menciumi El yang ada di gendonganku.
Tin … Tin …
“Astaga, kan … kan … kaget kan keponakanku, siapa lagi sih tuh,” gerutuku gemas, baru saja sampai teras rumah sudah ada mobil masuk lagi dan entah siapa di balik kemudi itu.
Brak …
“Kiyara !!!”
Deg …
“Kiyara, aku mau kamu jelasin sesuatu sama aku!” ucapnya sembari memegang erat bahuku karena tanganku sedang menggendong El.
“Apasih Kak, lepasing nggak?” ucapku.
“Nggak akan sebelum kamu jelasin semuanya ke aku.”
“Jelasin apa coba?”
“Hey, lepasin bahu istriku,” ketus Mas Dave sembari melepaskan cengkraman tangan Kak Tama pada bahuku.
“Ck, jadi bener kalian udah nikah?” ucap Kak Tama dengan nada lemahnya.
“Huh, kan aku udah bilang waktu kita nggak sengaja ketemu di Singapur, lagian Kak Tama aja yang aneh udah ngilang tiba-tiba muncul juga tiba-tiba, mana sikap dan sifat Kakak berubah-ubah lagi, bikin orang naik tensi aja,” gerutuku sebal.
“Aku berubah sikap saat dulu kamu wisuda dan hmenghilang tiba-tiba itu karena aku dapat bocoran dari sahabat kamu kalau kamu suka lelaki cool, misterius, sama cowok yang kayak nggak suka sama kamu padahal aslinya suka, aku menghilang selama beberapa tahun juga aku lagi berjuang keras buat kehidupan yang lebih baik, aku berjuang mati-matian agar punya usaha sendiri, tapi kamu malah nikah sama orang lain, Ki … kamu bener-bener perempuan jahat,” tuturnya dengan menggebu-gebu.
“Heh, lu kalau ngomong di filter dong, ngatain istri orang jahat yang ada lu yang bego, kalau lu cinta kenapa nggak langsung bilang malah pakai drama dasar beggoo … sanalah, jangan ganggu rumah tangga gue sama Kiyara dengan drama jatuh cinta lu ke istri gue. Yang sana masuk dulu, bawa El kasihan dia masih kecil, udah dengerin omongannya dia.”
Aku mengangguk patuh, betul kata Mas Dave lebih baik aku masuk ke dalam kasihan El harus mendengar sesuatu yang seharusnya nggak dia denger. Dan aku sempat membalikkan badanku sekilas, terlihat Mas Dave menjelaskan sesuatu kepada Kak Tama, “Semoga berakhir baik,” lirihku.
“Lagian ya, orang suka malah kayak gituh caranya dikira apaan coba, lagian sahabat aku siapa yang bilang kalau aku suka sama cowok kayak gituh, ada-ada aja, aku mah sukanya semua yang ada pada Mas Daveku seorang, hi hi hi …”
“Ehm, dasar bucin akut …”
“Eh copot-copot, kaget aku, Kak,” ucapku sembari mengerucutkan bibirku.
“Udah bucin, latahan mana ngomong sendiri lagi, sini anak aku kasihan digendong sama Tantenya yang suka ngomong sendiri.”
“Ish, Kak Dafa ini … nanti aja Kakak gendong Elnya, aku lagi kangen berat sama keponakan aku ini,” ucapku.
“Iya-ya, gituh aja ngambek … sewot lagi. Oh, iya tadi Kakak kayak denger suara mobil masuk, Dek, siapa?” tanyanya dengan melongokkan kepalanya ke arah luar.
“Kak Tama, Kakak liat gih ke depan aku takut mereka adu jotos di depan, jangan sampek ada ribut-ribut nanti Mommy mertuaku shock,”ucapku meminta bantuan pada Kak Dafa.
“Tapi duduk permasalahannya apa?” tanya Kak Dafa, si super teliti memang lelaki satu ini, beda sama aku yang kadang cerobohnya minta ampun.
“Kak Tama, dia ternyata suka aku dan caranya sedikit aneh, mana tadi ngatain aku jahat lagi. Pokoknya itu di depan Mas Dave lagi coba meluruskan masalahnya, jadi Kak Dafa e sana deh biar ada wasitnya kalau mereka sampek kelahi,” ujarku, lagi dan lagi moodku hancur seketika dan semua ini gara-gara kehadiran Kak Tama dengan pengakuan anehnya itu.
“Ya sudah, kamu di tunggu di gazebo sama yang lainnya udah buka serabi oncom kamu lo kehabisan baru tau rasa,” godanya lagi.
“Iya-iya, aku kebelakang titip suami aku Kak jangan sampek ada yang lecet.”
“Dasar bucin!” ucapnya sembari berlari kecil ke arah depan.