Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Berteman?


“Kiyara, mau pakai kerudung yang mana?” tanya wanita paruh baya, saat melihat gadis gendut yang di bawa pulang anaknya itu keluar dari kamar mandi kamarnya dengan mengenakan daster berlengan panjang yang tampak sangat cocok dikenakan Kiyara, terlihat seperti ibu muda.


“Yang simple aja Mom, yang instant,” jawabnya tanpa ragu.


“Ini aja ya, kayaknya enakeun adem juga kainnya,” jawabnya sembari menunjukkan kerudung model bergo berbahan jersey, model kerudung yang sering Kiyara pakai saat di rumah, kain yang adem dan mudah penggunaannya membuat kerudung model seperti itu menjadi favoritnya.


“Iya, Mom … Kiyara kalau di rumah juga seringnya pakai itu.” Kiyara meraih uluran kerudung berwarna hitam itu lalu memakainya untuk menutupi  auratnya.


“Terima kasih, Mom … ,” ucap Kiyara tulus.


“Sama-sama, Nak … jangan sungkan lagi ya sama Mommy. Seharusnya Mommy yang malu-malu sama kamu, karena dulu kesan pertama kita bertemu sepertinya Mommy, bukanlah orang yang baik. Terlihat acuh dengan kondisi anak yang sekarat, sementara kamu dan keluarga kamu, membantu Dave dan menemaninya sampai sembuh. Bahkan, Mommy belum berterima kasih secara benar kepada kamu dan keluarga,” ujarnya sembari meraut sedih penuh penyessalan.


Tangan Kiyara, terjulur mengusap lembut punggung Mommy Dave. “Tidak masalah, Mom. Yang lalu biarlah berlalu, Kiyara yakin Mommy punya alasan kenapa bersikap seperti itu dulu,” kata Kiyara menangkan Mommynya Dave.


“Terima kasih, sayang. Kamu sangat baik dan pengertian, jika mengingat masa itu … memang saat itu rumah tangga Mommy sedang ada masalah sehingga Dave terabaikan oleh kami, orang tuanya.”


“Mommy, orang baik … pasti saat itu adalah masa terberat Mom … mana yang harus diprioritaskan, lalu melihat ada yang membantu dan menunggui Kak Dave di rumah sakit, sehingga Mommy, merasa musti mengejar dan mempertahankan rumah tangga Mom dahulu.”


Mommy, mengangguk mengiyakan ucapan Kiyara. Lalu mengambil napas dalam dan memulai bercerita kembali.


“Daddynya, Dave. Dia bermain di belakang Mommy, bahkan dengan sepupu Mommy sendiri, hancur hati Mommy saat itu, ingin mempertahankan hubungan karena melihat ada Dave diantara kami, tapi semuanya percuma … Mommy tidak bisa mempertahankan hubungan, memberi waktu 3 tahun ternyata tidak ada perubahan di rumah tangga kami, malah kehilangan sosok Dave yang semula ceria dan baik. Bahkan jika mengingat masa-masa Dave menginjak SMA sampai lulus perguruan tinggi kemarinini, seperti anak yang broken home, kehilangan arah, suka berantem, dan jarang pulang ke rumah. Tapi, semenjak Mommy memutuskan untuk mengikhlaskan pergi dari


kehidupan Daddynya, dia menjadi anak yang seperti dulu lagi, kembali jadi anak penurut, baik dan sangat perhatian pada Mommy. Ternyata dia menyimpan kesedihannya sendiri selama ini, menutupi semuanya dengan kenakalannya. Bahkan meski terlihat berandal, dia tetap anak Mommy yang pandai.”


Wanita itu tersenyum, matanya menerawang jauh ke depan, mengingat hari dimana dia menemukan buku tabungan Dave saat membersihkan kamar anak blasteran itu. “Mommy, menemukan buku tabungan Dave dan buku kecil ternyata itu adalah catatan pengeluaran dan pemasukkan dia selama SMA. Uang pemberian Daddynya setiap bulan, tidak pernah dia gunakan untuk jajan, anak tengil itu memutar uangnya untuk usaha bengkel dan membantu tukang kebun di rumah lama kami untuk membuat kebun stroberi di lahan kosong peninggalan Ayahnya Mommy di daerah Lembang dan hasilnya dibagi dua dengan Dave, sampai sekarang kedua usahanya masih berjalan dan terus berkembang bahkan bertambah di bidang lainnya juga.”


Kiyara, tersenyum … merasa bangga dengan Kakak kelasnya itu. “Ternyata Kak Dave, anak yang baik. Mungkin, dulu suka membullyku karena dia kesepian atau aku jadi bahan pelampiasan karena kekesalannya terhadap orang rumah, tapi ternyata dia sosok anak yang sangat memikirkan dan menyayangi Mommynya,” monolognya dalam hati.


Suara adzan terdengar menggema, membuat keduanya berhenti bercerita. Memilih mendengarkan dan menjawab adzan dalam hati lalu membaca do’a setelah adzan.


“Mommy, kita salat berjamaah?” tanya Kiyara.


“Iya, ayo kita ke musholla di lantai satu.”


Belum sempat membuka pintu, sudah terdengar ketukkan dari luar dan siapa lagi jika bukan Dave.


Tok … tok … tok … .


“Mom, ayo salat dulu !” ajaknya.


Ceklek … .


“Iya, Nak … kamu nggak ke masjid?” tanya sang Mommy.


“Di rumah dulu untuk hari ini, besok baru ke masjid bareng sama Kak Dafa, biar ada temennya …”


“Dasar … salat ke masjid aja nunggu ada temennya dulu.”


Kiyara menahan tawanya, melihat ekspresi lucu Dave yang disindir sang Mommy. Ekspresi yang tak pernah ia temui, selama ia kenal dengan seorang Dave.


“Udah, sih Mom. Mending kita salat dulu nih, ntar keburu abis waktu maghribnya,” ucap Dave.


“Mom, ke belakang dulu ya Dav … mau nata buat makan malem,” ucap sang Mommy setelah menaruh mukenah dan sajadah di tempat semula, meninggalkan Kiyara yang masih khusyuk berdoa menghadap kiblat, sedangkan Dave baru saja akan melipat sarungnya.


“Iya, Mom.”


Lima menit berselang Kiyara sudah selesai dan keluar dari musholla diikuti Dave di belakangnya, sengaja menunggu tamu yang dia undang dan jemput langsung dari rumahnya. “Ki … .”


Kiyara menghentikan langkahnya lalu berbalik. “ Ada apa, Kak? Apa chat Kakak dibalas Kak Dafa?” tanyanya.


Dave menggelengkan kepalanya. “Belum, cuman mau nanya aja. Apa sekarang kita bisa berteman?”


“Berteman? Bukankah kita dari dulu berteman? Aku kenal Kak Dave dan Kak Dave kenal aku, meski dulu kita kenal karena Kak Dave sering mengolokku, tapi menurutku karena kita kenal dan pernah satu sekolah jadi kita sudah berteman,” ucap Kiyara dengan polosnya.


“Aish … dasar kamu ini. Berteman itu bukan hanya saling kenal dan karena satu almamater saja. Tapi dua orang atau lebih bisa dikatakan berteman itu, ketika kita saling kenal, sering ngobrol, saling membantu, pokoknya hal yang baik-baik lainnya deh …meski ada teman yang nggak baik juga sih. Tapi aku mau kita jadi teman baik, yang bukan jadi teman karena kenal doang, paham nggak?”


Kiyara dibuat terheran-heran oleh perubahan sikap Dave terhadapnya, lebih terlihat manusiwi semenjak bertemu kembali setalah 3 tahun hilang kontak. Membuatnya, membenarkan kata hatinya tadi, bahwa sebenarnya Dave adalah laki-laki baik, tapi berubah karena keadaan saat itu.


“Boleh, Kak Dave sekarang jauh lebih baik daripada SMA dulu yang suka ngebully aku. Aku suka dengan sikap Kak Dave yang sekarang, jauh terlihat lebih memanusiakan manusia, cara bicaranya juga jauh lebih baik terdengar tulus dan tidak lagi membentak. Kita berteman, mulai hari ini,” ucap Kiyara dengan lembut, membuat Dave kembali menerbitkan senyumannya.


“Oke kita berteman mulai hari ini.” Dave terlihat senyum dengan tulus lalu diangguki oleh Kiyara dengan senyum yang tak kalah lebarnya dari Dave.


“Kamu juga berubah banyak, tidak terlalu pemalu sepeti dulu sekarang juga lebih banyak omong, terlihat perempuannya.”


“Maksud, Kak Dave terlihat perempuannya apa?”


“Cerewet, wahahaha …” Kiyara menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dave, yang tampak sedikit konyol sekarang, tidak seperti dulu yang benar-benar selalu menjaga imagenya sebagai berandal sekolah, musti terlihat garang, jarang tersenyum dan suka menindas yang lemah seperti dirinya.


“Dasar aneh,” lirih Kiyara lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Dave yang masih tertawa.


Di meja makan sudah tampak beberapa lauk pauk tersaji, tetapi tidak ada Mommy di sana, membuat Kiyara berinisiatif untuk menuju dapur, barangkali ada yang perlu dibantu pikirnya.


“Mommy …,” panggilnya ketika sudah berada di dekat dapur.


“Iya, sayang …”


Dengan segera dia memasuki area dapur dan terlihatlah punggung wanita yang sedang menyiapkan teh hangat.


“Ada yang perlu dibantu, Mom?” tanyanya.


“Ini, tolong bawakan nila goreng itu sayang … sudah tinggal itu saja dan ini tehnya masih Mom buat, nanti biar Mom yang bawa, kamu tunggu di meja makan saja ya!” perintah sang Mommy dan diangguki olehnya.


Berjalan menuju meja makan, ternyata di sana sudah ada Dave, tengah duduk sembari memerhatikan layar gawainya dengan dahi berkerut dalam … seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.


“Ada apa, Kak? Apa ada masalah?” tanya Kiyara, sembari meletakkan piring berisikan nila goreng di atas meja.


“Ada pesan dari Bang Dafa, katanya kamu disuruh menginap di sini saja … tadi aku sudah jelaskan ke Bang Dafa kalau aku tadi melihatnya keluar dari rumah sampai melihat kamu di luar rumah sendirian. Katanya semua lagi ke luar kota, tapi tidak menyebutkan kemana … Bang Dafa titip kamu katanya, mungkin besok malam atau lusa semuanya baru kembali …  kunci rumah ke bawa semua, lupa nggak naruh di tempat biasanya. Besok di suruh panggil tukang kunci untuk mengambil beberapa baju tapi musti nginep di sini kata Bang Dafa.”


Kiyara, meraut bingung, sedih, juga panik … menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dan kemana perginya semua orang. “Bisa ditelepon nggak Kak?” tanya Kiyara.


Dave, menggeleng sembari memperlihatkan layar gawainya kepada Kiyara.