
AUTHOR POV
Rumah yang dulu terasa sepi kini perlahan menjadi ramai, dan membuat Dave selalu bersyukur setiap harinya dan juga selalu berjanji pada dirinya sendiri agar terus menjaga ini semua sampai nanti. Dia yang pernah mengalami ketidakberuntungan perihal keluarga, selalu terus belajar dan belajar, agar apa yang dia bangun bersama dengan istri tercintanya itu, tak mudah runtuh, mulai dari menemani tumbuh kembang anaknya dari dalam buaian, anak-anaknya bisa berprestasi di sekolah, dan sampai nanti saat anak-anaknya sudah bisa menggapai cita dan cintanya masing-masing di kemudian hari.
“Hayo, melamun apa?”
“Eh, Sayang … anak-anak sudah tidur?” tanya Dave.
“Heum, sudah … Mas mau dibikinkan apa?” tanya Kiyara, karena saat anak-anak sudah tidur seperti ini, waktunya mereka untuk berduaan seperti saat masih berdua dulu, saling mencurahkan perhatian dan membicarakan banyak hal berdua.
“Duduk aja, di sini temani Mas nonton tv,” jawab Dave dan langsung menarik tubuh istrinya agar duduk di sampingnya.
“Kamu kurusan lagi, Yang,” ucap Dave saat mendekap tubuh istrinya itu.
“Nggak tahu, aku belum timbang. Tapi kayaknya enggak,” jawab Kiyara.
“Kamu jangan diet-diet loh Yang, jangan capek-capek juga,” pesan Dave, bukan tanpa sebab Dave berucap seperti itu semenjak kelahiran si kembar bobot istrinya itu sudah turun lagi sampai sekarang bobot Kiyara menjadi 70 kg, lebih kurus daripada saat SMA dulu, meski bagi wanita dan mungkin orang diluaran sana bobot segitu untuk orang yang memiliki tinggi badan 158 cm seperti Kiyara akan dikatakan gendut, tapi bagi Dave, istrinya itu tak lagi gendut malah bodynya terlihat sangat bagus dan sexy.
“Mas kan tahu, aku nggak pernah diet-diet … hanya mengurangi karbo sedikit karena aku juga nggak mau masa tuaku sakit-sakitan jadi aku mengawalinya dengan jaga makan, bukan berarti diet loh ya, cuman mengurangi nasi dan memperbanyak makan sayur dan buah, mungkin karena sudah berlangsung lama aja jadi aku nggak nyadar kurusan, tapi kata orang aku itu masih gendut sekalipun udah punya anak tiga, dikata nggak pernah ngurus anak-anaknya yang masih kecil, heuh meni susah jadi manusia tehhh … serba salah dan yang menyalahkan juga sama-sama manusianya,” gerutu Kiyara dan langsung saja mendapat usapan lembut dikepalanya.
“Kamu ini, langsung aja merepet. Nggak apa-apa diomongin orang, yang tahu kamukan kamu sendiri, aku dan anak-anak, kita mah nggak akan ada benernya di mata orang yang nggak suka sama kita, tapi kita juga akan selalu bersinar di mata orang yang menyayngi kita tulus apa adanya. Jadi jangan dimasukkan hati ya, harus jadi Ibu yang senang … bahagia … agar kita yang ada di rumah ini jadi keluarga yang senang dan bahagia juga,” ucap Dave menenangkan istrinya itu.
“Eumh, iya Mas ku Sayang, makasih ya selalu menghibur dan membesarkan hatiku,” ucap Kiyara dan diakhiri dengan kecupan kecil untuk suaminya itu.
“Oh iya, tadi sewaktu aku berangkat ke kantor, anak-anak nggak buat ulahkan?” tanya Dave, sebab ia sangat tahu bagaimana tingkah anak-anaknya itu.
“Enggak, kok mereka pada soleh, solehah, dan soleh lagi he he he, tadikan ada Hisyam sama El juga ke sini, alhamdulillah sangat membantu meredam kenakalan anak-anak kita,” ucap Kiyara, yang mana setiap harinya selalu dipusingkan dengan tingkah anak-anaknya yang selalu membuatnya jantungan.
“Aktif Sayang, anak-anak kita nggak ada yang nakal, cuman terlalu aktif mengeksplor hal-hal baru, kamu juga nggak mau pakai baby sitter sih buat anak-anak kan jadi capek sendiri begini kalau aku lagi ada urusan ke kantor,” ucap Dave sambil mengusap lembut kepala istrinya itu yang kini sedang bersandar manja di atas dada bidang milik Dave.
“Heum, kamu bener … dan insya Allah aku akan selalu menemani kalian sampai maut yang memisahkan,” ucap Dave dengan tulus.
“Semoga kita diberi umur panjang ya Mas, biar bisa melihat anak-anak kita tumbuh dewasa dan meraih cita, cintanya masing-masing.”
“Aamiin … eumh Sayang, anak-anakkan sudah mau umur 4 tahun, gimana kalau kita program adek buat triplets,” ucap Dave dan langsung mendapat delikkan tajam dari istrinya.
“Enaknya aja, jangan dulu atuh Mas, da kita udah sepakat loh mau ngasih adek kalau triplets udah masuk SD,” ucap Kiyara yang disambut cengiran oleh Dave, suaminya yang menerapkan prinsip seperti orang zaman dahulu ‘Banyak anak banyak rezeki’.
“Tapi, nanti kembar lagi ya Yang, please!” mohon Dave.
“Eh, dikira aku Tuhan apa … berdoa sama Allah dikasihnya apa nanti single, duoble, triplets atau quarter, sebagai orang tua harus menerima mau dikasih berapa sama Allah,” celoteh Kiyara.
“Atuh da, Allah ngasihnya juga sesuai usaha Yang,” ujar Dave.
“Iya tapi balik lagi sama takdir-Nya, atuh Mas.”
“Ya udah deh, kita usaha dulu aja sekarang nyicil bikin rambutnya,” kata Dave dengan tangan yang sudah tak dikondisikan.
“Heh, ada begitu ya mau hamilnya masih 3 tahun lagi, dicicilnya dari sekarang, akh aduh … ih, di kamar aja ngerakuen kalau ada yang liat di sini mah rawan anak-anak bisa liat kalau lagi kebangun malem-malem,” ucap Kiyara dan langsung disambut suaminya dengan senang hati.
.
.
Kuylah, Dave banyak anak banyak rezeki … tapi yaa … gimana gitu, ehehehe.
Gimana nih temen-temen, mau langsung next triplets dewasa atau maih mau nemenin perjalanannya Kiyara dan Dave mengasuh buah hati mereka?