Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
15. KARENA KAMU SEMPURNA


Maaf telat up ,,,


.


.


~Kesempurnaan bukan terletak pada fisiknya, melainkan dari hati. Hati yang selalu baik, meski pada dia yang pernah menoreh luka~


“Ini minum dulu, Nak … !” ucap Bunda Alana sembari menyodorkan 3 butir obat dan segelas air putih pada anak bungsunya, dengan sigap Dafa membantu adiknya untuk meminum obat.


Dave menatap Kiyara dengan seksama, begitu banyak kepedihan yang dirasa oleh wanita yang entah sejak kapan sudah berhasil menempati tempat paling special di relung hatinya, pun dengan rasa bersalah yang tiba-tiba menelusup ke dalam hatinya, bila mengingat masa-masa SMAnya yang selalu membully Kiyara dengan mulut pedasnya itu.


“Saya juga minta maaf yang sebesar-besarnya pada Kiyara, juga pada Ayah, Bunda dan Bang Dafa. Pertama saya juga pernah menjadi pelaku pembullyan terhadap Kiyara sewaktu SMA, dan dengan tidak tahu dirinya saya juga pernah tiba-tiba menghilang dari keluarga Ayah dan Bunda setelah apa yang telah keluarga Ayah-Bunda berikan pada saya saat orang tua saya sendiri mengabaikan saya yang tengah terbaring di ranjang pesakitan 3 tahun yang lalu. Tapi jujur saja, itu semua saya lakukan karena merasa malu kepada keluarga Ayah-Bunda terutama pada Kiyara.”


Pria paruh baya itu, menghembuskan napasnya dalam … otak dan hatinya dipaksa untuk selaras mengambil keputusan saat ini juga, membiarkan rasa kecewa, kesal, dan marah menyelimuti hatinya atau membiarkan semuanya berlalu begitu saja, mengikhlaskan semua yang telah terjadi agar berlalu seperti waktu yang telah berganti.


“Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. InsyaAllah, anak Ayah wanita yang kuat yang bisa berlapang dada memaafkan perilaku kalian, meski mungkin pembullyan yang dilakukan Tama dan Adiknya sewaktu Kiyara SMP masih terekam jelas, sampai saat ini masih bisa membuat traumanya kambuh, tapi Ayah yakin semuanya akan baik-baik saja dan anak Ayah bisa melawan rasa traumanya.”


“Yah, Bun … Kiyara mau ke kamar dulu ya,” Kiyara yang sedari tadi diam kini memberanikan diri untuk berbicara, meminta izin untuk pergi dari ruang keluarga meski tanpa memandang wajah kedua tamunya.


Sang Bunda seolah tahu dan merasakan kegelisahan anaknya, menjawab dengan cepat apa keinginan buah hatinya. “Iya, ayo Bunda antar ke kamar.” Tanpa menunggu jawaban sang anak, Bunda Alana langsung merangkul tubuh tambun anaknya. Sebagai seorang Ibu, dia paham betul apa yang dirasa anaknya, mungkin menghiburnya dengan girl time bisa membuat mood Kiyara sedikit membaik.


Dua wanita berbeda generasi itu kini sudah berada di dalam kamar bernuansa biru laut, saling menatap menyelami dalamnya kasih sayang yang tergambar jelas di mata keduanya. “Bun …” ucap Kiyara sembari memperlihatkan kedua tangannya yang sedari tadi dia tutupi dengan hijabnya.


“Astaghfirullah … Nak, kenapa ndak bilang dari tadi?” tanya sang Bunda yang melihat tangan anaknya bergetar hebat.


Kiyara tersenyum  lembut sembari mengambil posisi duduk di atas kasurnya. “Kiyara mau belajar menghadapi Bang Tama, Bun. Kiyara mau sembuh total dari trauma itu, Bun.”


“Kita berjuang sama-sama ya, Nak … ! Bunda pasti selalu ada di belakang kamu buat mendukung dan mendo’akan yang terbaik untuk kesembuhan kamu Nak.”


Kiyara tersenyum lalu memeluk erat tubuh Bundanya. “Aku tahu itu, Bunda akan selalu mendukung dan mendo’akan untukku, karena itulah aku bisa kuat menghadapi ujian hidupku karena aku mendapat ridho Bunda dan itu artinya aku juga mendapat ridho dari-Nya. Terima kasih ya Bun, selalu menerimaku apa adanya aku, tidak pernah malu memiliki putri gendut sepertiku ini bahkan Bunda selalu mendukungku dan terus berada di barisan paling depan jika menyangkut sesuatu tentangku.”


Tangan putih milik wanita paruh baya itu terulur mengusap lembut kepala putrinya terlihat sangat nyaman dan menenangkan, ah tangan seorang ibu sekasar apapun bentuk dan rasanya tetap akan memberikan sensasi nyaman dan menangkan untuk putra-putrinya. “Kiyara Mentari kau itu putriku, bahkan jika seluruh dunia meninggalkanmu Bunda akan selalu bersama denganmu, mendukung dan mendo’akanmu selalu. Ahh … jangan sedih-sedihan gini, ayo kita girl time, maskeran, luluran, atau apapun itu.”


“Bunda, sepertinya sudah tidak masuk kategori girl …”


“Hahhaha … kau benar Nak, women time?”


“Oke, kita luluran terus memasak untuk makan siang bersama.”


"Tapi, Bunda sudah mandi."


"Oke ... let's go."


Aroma harum bunga khas bali menyeruak di dalam kamar Kiyara, dan itu sudah cukup untuk merelaksasi pikiran juga tubuhnya dari sekelumit permasalahan hidup, masa lalu dan masa kininya. Kedua wanita itu saling memberi sentuhan membantu satu sama lain membersihkan bagian-bagian tubuh yang sulit terjangkau oleh tangannya


sendiri, terutama Kiyara, dia sangat butuh uluran tangan sang Bunda untuk menggosok punggungnya, ya … apalagi jika bukan karema tangannya yang gempal serasa pendek untuk menjangkau area punggung dengan leluasa.


“Bunda dulu bertemu dengan Ayah di mana?” tanya Kiyara sembari menggosok kakinya.


“Di panti asuhan, saat yayasan tempat Bunda bekerja membuat proyek pemugaran panti asuhan dan Ayahmu menjadi salah satu donatur panti asuhan itu.”


“Apa itu semacam cinta pada pandangan pertama, Bun?”


Wanita paruh baya itu, tampak menerawang jauh. Selama ini putrinya tidak tahu, jika dia dan sang Kakak tercinta berbeda ibu tetapi satu Ayah, semua ini karena permintaan Dafa remaja yang kala itu mulai mengetahui tentang kenyataan bahwa dirinya adalah anak yang di buang oleh ibu kandungnya sendiri di panti asuhan saat masih bayi, yang Dafa tahu Bundanya itu adalah Alana, seorang wanita yang penuh kasih sayang yang merawatnya sedari di panti asuhan dulu.


“Bunda … ?” Kiyara yang tak sabaran menggoyang tubuh Bundanya.


“Ah, iya … bisa dibilang seperti itu.”


Kiyara menundukkan pandangannya, mata yang semula memancarkan binar kini perlahan meredup. “Apa akan ada pria yang mencintaiku, seperti Ayah mencinai Bunda?” lirihnya.


“Akan, insyaAllah akan ada. Setiap insan dilahirkan berpasang-pasangan, Nak. Jangan pernah meragukan kuasa-Nya.”


“Tapi, Bun. Akan seperti jodoh Kiyara jika, Kiyara saja seperti ini?”


Wanita paruh baya itu, mengernyitkan dahinya. “Apa yang kamu maksud ‘seperti ini’?”


Kiyara menundukkan pandangannya, menatap perut buncit yang memiliki tiga belut ukuran jumbo di sana, lalu beralih pada betis dan pahanya yang mengembang. “Kiyara, jauh dari kata sempurna, Bun. Sedangkan laki-laki zaman sekarang lebih memilih rupa dari pada iman ataupun ketulusan hati dan Kiyara juga sadar Kiyara tak sebaik itu pun dengan iman Kiyara yang masih labil, suka naik turun.”


“Kesempurnaan bukan terletak pada fisiknya, melainkan dari hati. Hati yang selalu baik, meski pada dia yang pernah menoreh luka. Kamu itu wanita baik, Nak. Percayalah dengan kuasa Allah, jangan terlalu dipikirkana akan seperti apa dia yang datang nanti, fisiknya, rupanya, kepintarannya itu semua bonus dari hati yang baik dan selalu


terpaut oleh sang Maha Kuasa. Ingat pesan Bunda, yang penting imannya, kalau ada seorang pria yang datang lalu dia membuat kamu selalu ingat dengan Allah, dengan perintah-perintah-Nya maka, jika dia mendekat jangan pernah lepaskan. Bila berbicara masalah iman, memang iman manusia sering kali diuji dengan naik-turunnya kadar keimanan kita sayang, tetap ikhtiar dan istiqomah saja, perlahan.”


Tangan lembut Bundanya, membelai pelan punggung Kiyara. Mencoba mencari padanan kata yang sesuai agar putrinya itu paham, jika segala hal tidak bisa diukur dengan tampilan luarnya saja.


“Bila ada yang bilang cinta ada karena terbiasa, maka Bunda akan bilang, cinta ada karena takdir dan usaha. Satu hal lagi, ada getar tak biasa dalam hati jika orang itu sudah mendekat.”


“Hah … getar tak biasa?” cicitnya, sembari menatap lekat sang Bunda yang kini sudah berjalan menuju bathup tanpa menghiraukan dirinya yang bertambah penasaran tentang ‘cinta’.