Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Isi Hati Mommy


MOMMY DAVE


.


.


Wanita paruh baya yang masih setia di atas ranjang rumah sakit itu, kini tengah mengembangkan senyumnya. Meski dia tahu jika anak dan menantunya saling mencintai tapi sempat terbesit ketakutan di dalam hatinya jika mereka masih belum saling menerima karena pernikahan yang serba dadakkan itu , belum lagi pikiran khawatir dan takut akan datangnya orang ketiga, katakanlah dia terlalu overthingking, tapi pengalaman hidupnya membuat rasa trauma itu tetap ada meski mungkin hanya sedikit kadarnya.


“Semoga kalian selalu bahagia, Nak …maafkan Mommy yang merepotkan kalian di awal pernikahan kalian. Mommy tahu bagaimana susahnya menjadi pengantin baru yang serba menyesuaikan ini itu, tapi kalian selalu bisa tersenyum dan meredam gejolak muda kalian, saling merangku untuk menguatkan satu sama lain tanpa pernah terlihat adu mukut di depan Mommy, kalian anak-anak Mommy yang luar biasa, Sayang,” ucapnya sembari menatap lembut dua orang yang tidur di sofa saling berhimpitan itu.


Awalnya, dia ingin minum karena tenggorokkannya terasa kering, tapi saat netranya menangkap sosok yang membuatnya bahagia tengah tertidur pulas di sofa dia langsung lupa seketika dengan niatnya, malah sibuk memerhatikan dua orang itu.


“Perasaan tadi anak nakal itu tidur di bawah pakai selimut tebal yang sengaja di bawa, kenapa sekarang malah meluk Kiyara seerat itu, dasar anak nakalku sudah jadi bucin akut,” gerutu Mommy tapi masih dengan senyuman tulusnya tapi tak lama berselang setitik air mata turun dari sudut matanya.


“Bahagia selalu, Sayang. Mommy, doakan kehidupan kalian jauh lebh baik daripada kehidupan Mommy, jadilah suami yang baik untuk istrimu dan jadilah Ayah yang baik untuk anak-anakmu kelak, Nak. Maafkan Mommy, yang tidak bisa memberikan kebahagiaan untukmu, tidak bisa memberikan keluarga yang utuh untukmu, maaf,” lirihnya lalu perlahan kembali memejamkan matanya.


Seorang ibu, pernah sejahat apapun memperlakukan anak tetap akan terbesit rasa sayang dan kecewa atas sikapnya sendiri. Seperti wanita yang kini tengah berbaring di ranjang pesakitannya lagi, dia menyadari pernah abai pada anaknya, sering membentak Dave kecil juga, tapi semua perilaku itu perlahan membuatnya sakit sendiri, bagaimana pun dia sadar jika telah menyakiti fisik dan hati anaknya. Belajar, dan terus belajar, menjadi Ibu yang baik untuk anaknya, setidaknya kini dan beberapa tahun belakangan hanya itu yang dia bisa, karena dia sudah tak bisa lagi belajar menjadi istri yang baik karena ikatan suci itu sudah ternodai oleh nafsyu sang mantan suami, berpisah dan fokus untuk memberikan yang terbaik yang dia bisa untuk kebahagiaan sang anak di masa depan, di masa yang entah dirinya masih akan bisa berdiri di samping anaknya atau malah sudah hanya tinggal di dalam hati sang anak saja.


Hati ibu yang bertaut dengan sang anak sedari masih dalam buaian, tak akan pernah tega melihat anaknya kehilangan arah, tersesat dalam alur hidup yang gelap. Begitu juga dengannya.


Keras kepalaku sama denganmu


Caraku marah, caraku tersenyum


Seperti detak jantung yang bertaut


Nyawaku nyala karena denganmu


Aku masih ada sampai di sini


Melihatmu kuat setengah mati


Seperti detak jantung yang bertaut


Nyawaku nyala karena denganmu


Semoga lama hidupmu di sini


Melihatku berjuang sampai akhir


Seperti detak jantung yang bertaut


Nyawaku nyala karena denganmu


DAVE


Kini dia tengah duduk bersama Mommynya, di dekat jendela besar yang memperlihatkan arena taman rumah sakit. 20 menit yang lalu setelah membantu Mommynya untuk membersihkan badan Kiyara berpamitan padanya untuk kembali lebih dulu dengan tujuan ingin memasakkan sarapan spesial untuk dia dan Mommynya. Sudah melarang karena ingin makan di luar bersama tapi istri endutnya itu berdalih ingin memasakkan speeeciaall kuadrat untuk keluarga kecilnya, terlebih makanan Mommynya yang memang harus tetap dalam pantauan serius. Dan mau tak mau dia mengizinkan istrinya untuk berkarya, terlebih teman-temannya sudah mengirimkan bahan makanan segar ke apartemennya.


“Bagaimana menikah dengan wanita yang kamu sukai, Sayang?” tanya Mommynya, memecah keheningan.


Dia tersenyum, lalu bayangan wajah istrinya saat bangun tidur begitu mengusik pikirannya. “Alhamdulillah, bahagia


Mom. Meski memang tak semulus itu tetap ada selisih pendapat tapi Dave, rasa Kiyara selalu bersikap dewasa dan tenang sehingga menghindarkan kami dari adu mulut yang tak berarti itu,” jawab Dave dengan masih tersenyum manis dan senyum itu menular ke Mommynya.


“Syukurlah, Mommy tenang mendengarnya dan ikut bahagia jika anak Mommy satu-satunya ini juga bahagia. Kamu tahukan rasanya menjadi anak broken home, Nak?”


Dave, mengangguk dan segera memegang tangan kurus Mommynya, sedikit tahu ke mana obrolan ini akan berlanjut. Menyalahkan diri sendiri karena tak bisa memberinya keluarga yang utuh, sesuatu yang sering diucapkan Mommynya.


“Jangan pernah melakukan kesalahan yang sama seperti Daddymu, cukup semua itu berhenti di Mommy. Maaf jika Mommy selalu mengulang ini lagi, tapi Mommy sungguh-sungguh takut akan ada wanita selain Mommy yang menjadi korban orang ketiga. Tapi Mommy, percaya sama kamu … kamu mampu memberikan yang terbaik untuk istri dan anak-anakmu, Sayang. Jangan kecewakan Mommy, mungkin Mommy tidak akan selamanya ada di sisi kamu, tapi Mommy tetap akan ada di hati kamu.”


Dave, meremas kuat tangan Mommynya. Dia tak peduli pernah sesakit apa akibat perlakuan orang tuanya tapi dia juga sudah bertekad pada dirinya sendiri agar bisa jadi suami dan ayah yang baik untuk istri dan anak-anaknya kelak.


“Iya, Mom … Dave akan ingat selalu, Dave tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti Daddy lakukan pada Mommy. Mommy jangan banyak pikiran ya, cukup percaya sama Dave. Dave janji sama Mommy akan selalu setia sama Kiyara apapun yang terjadi di depan sana nanti.”


Dave, membalas senyum Mommynya lalu mengecup punggung tangannya sebagai tanda bakti anak pada orang tuanya. “Terima kasih ya, Mom … Sudah mau mencari Dave lagi, mau memulai segalanya dari awal bersama Dave daripada mengejar Daddy, Mommy adalah orang tua terbaik … mau mengorbankan cinta dan ego hanya untuk anaknya,” ucap Dave tulus dan malah membuat Mommynya nangis tersedu-sedu.


“Hiks … harusnya Mommy yang berterima kasih padamu, Nak. Masih mau menerima Mommymu yang sudah lama mengabaikanmu sibuk dengan hiks … Daddymy yang sedang menggila dengan wanita lain, hiks … jik-jika waktu bisa diulang, Mommy tidak akan melakukan hal bodoh itu dan memilih untuk selalu mendampingi kamu, Nak.”


Dave, tak bisa berkata apa-apa lagi, seolah merasakan penyesalan terdalam yang Mommnya rasakan dan lebih memilih langsung merengkuh tubuh ringkih itu ke dalam pelukkan hangatnya.


“Maafkan Mommy, Nak … maaf … maaf … maaf,” racau Mommmy Dave dalam pelukkan anaknya.


“No, Mom … jangan minta maaf, semua sudah takdir-NYA harus berjalan seperti ini, jangan seperti ini … ambil hikmahnya Mom, jangan malah seperti ini, lihatlah sekarang kita jauh lebih bahagia di banding dulu, jangan menyalahkan diri sendiri Mom,” ucap Dave dengan nada yang sudah bergetar menahan tangis.


Tok … tok … tok …


“Sepertinya dokter visit sudah datang, Mom. Jangan menangis lagi, ya ...”


.


.


Ah, Mommy jangan overthingking dong … life must go on ... Readers sukanya satu bab isinya panjang gini atau kayak biasanya aja?