Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Ikut Suami Kerja


AUTHOR POV


Kiyara masuk ke dalam kamarnya sembari membawa nampan yang di atasnya sudah tertata apik dua mangkuk bubur ayam, satu piring sate-satean, dan dua gelas minuman rempah yang biasa dia buat di pagi hari.


“Kayaknya bener nggak enak badan, suamiku ini … nggak biasanya kayak gini,” gumam Kiyara saat melihat suaminya tengah bergelung di balik selimut hanya menyisakan sedikit rambut dan wajahnya saja yang terlihat.


“Mas, bangun dulu …  ayo sarapan, udah jam 6 ini, hari ini rencananya mau kerja nggak?” ucap Kiyara membangunkan suaminya dengan lembut.


“Heum, sebentar …” jawab Dave dengan masih menutup matanya.


“Sini, akunya dipeluk dulu, biar sembuh,” ujar Dave sembari menarik tangan istrinya yang baru saja menaruh nampan di atas nakas.


“Ya Allah, Mas bikin kaget aja,” gerutu Kiyara, meski begitu dia tetap menuruti suaminya untuk memeluk tubuh kekar itu.


Cup …


Cup …


Cup …


Dengan jahilnya Kiyara, menciumi pipi dan bibir suaminya … ini adalah cara ampuh untuk membangunkan suami tercintanya itu.


“Sayang, kamu mau bangunin aku apa yang di bawah sih,” gerutu Dave sembari mencoba bangun dari posisi duduknya, sedangkan sang istri malah tertawa.


“Ah, tuh kan jahil banget … mana aku lagi nggak bisa nyoblos lagi,” keluh Dave.


“Udah, ah … lagi sakit juga ayo … di makan dulu buburnya, mau di suapi apa makan sendiri?”


“Hem, iya … aku makan, suapi aja ya, aku lemes banget,” ucap Dave, dan dengan sigap Kiyara menata bantal di punggung Dave untuk bersandar lalu meraih satu mangkuk bubur untuk menyuapi suaminya.


“Habis nyuapin aku kamu juga harus makan ya, jadi sesendok ke aku sesendok ke kamu,” ucap Dave dan diangguki oleh sang istri.


“Iya, Masku Sayang …, oh iya tadi aku tanya loh, Mas hari ini kerja ndak?”


“Emh, harus kerja Sayang … ada meeting sama investor, padahal badanku lemes banget rasanya tapi kalau dipeluk sama kamu rasanya jauh lebih baik,” jawab Dave.


“Ish, kenapa ujung-ujungnya jadi gombal begini. Ya sudah habis ini aku siapkan air hangat di bathup, biar kamu bisa berendam sebentar, tapi habiskan satu mangkuk bubur ini lagi he he he.”


Kiyara, menatap lekat wajah suaminya. “Katanya tadi mual tapi ini makan kok bisa habis banyak gini ya, Mas?”


“Nggak tahu, efek disuapin sama kamu kali Yang … mualnya nggak berasa lagi, tuh kan kalau di manjain sama kamu mual aku hilang,” jawab Dave.


“Eh, modus ini mah ya?” goda Kiyara padahal dia tahu tadi sepucat dan selemas apa suaminya itu saat di kamar mandi, tapi melihat suaminya sedikit segar seperti sekarang, bawaannya ingin menggoda suaminya terus.


Dave, tak menanggapi godaan istrinya itu hanya tersenyum dan malah memilih mengambil satu tusuk sate usus yang sepertinya enak untuk dimakan.


Huwek … huwek …


Kiyara langsung panik, ketika melihat suaminya itu berlari ke arah kamar mandi sembari ingin memuntahkan kembali isi perutnya. Kiyara ikut menyusul suaminya yang kini tengah membungkuk di wastafel, dengan sigap ia kembali memijat tengkuk suaminya itu.


Huwek … huwek ...


“Sabar, nggak apa-apa ya biar jadi penggugur dosa,” ucap Kiyara sembari mengusap lembut wajah suaminya.


“Mau langsung mandi aja?” tanya Kiyara.


“Emh, iya … udah siang juga,” ucap Dave.


Kiyara melepas rangkuman tangannya pada wajah suaminya, lalu berjalan menuju bathup dan mengisinya dengan air hangat. “Mau di bantu mandi?”


Dave, tersenyum senang sembari menganggukkan kepalanya pelan. “Yang, lepasin baju aku.”


“Jadi manja banget gini, Mas Dave teh … atau memang kalau lagi sakit sebegini manjanya? Ah, tapi dulu saat kenak luka tusuk dia nggak semanja ini kok, malah nggak suka di bantu orang,” ucap Kiyara dalam hati.


“Iya, sini aku lepasin semuanya …”


Dan ritual mandi pagi itu yang seharusnya hanya memandikan Dave menjadi mandi bersama, saling menggosok satu sama lain.


Dekapan sayang, di beri Kiyara pada suaminya yang kini sudah rapi dengan stelan kerjanya. Meski dalam keadaan tak enak badan, sebagai seorang CEO dari usaha yang dirintisnya dia harus tetap bekerja hari ini, selain karena usahanya yang baru saja ia gabungkan jadi satu dan masih merambah untuk naik level, hari ini juga Dave ada meeting penting dengan sejumlah investor yang mau menanamkan modal untuk perusahaannya ini.


“Kamu ikut aku kerja aja yuk, Yang … beneran deh ini bukan kebetulan, aku ngerasa lebih enak kalau di manjain kamu, dipeluk-peluk sama kamu gini, tadi inget nggak aku muntah gara-gara aku makan satenya sendiri nggak disuapin kamu,” ucap Dave di ceruk leher istrinya.


“Emh, apa betul seperti itu, bukan hanya kebetulan?”


“Iya, beneran deh Yang … kan aku yang ngerasain, dan ya seperti itu, kalau dimanjain sama kamu aku ngerasa baikkan,” kekeuh Dave.


“Ya udah deh, aku ganti baju dulu … aku ikut kamu kerja sekalian mau ngasih shock terapi buat sekretaris kamu,” ucap Kiyara yang membuat dahi Dave berkerut dalam.


“Oh, iya aku belum cek CV sekretaris baru itu, nanti aja deh di kantor sekalian,” gumam Dave.


“Yang, pakai gamis yang aku beliin dua hari yang lalu ya, aku mau lihat kamu pakai itu kayaknya cocok banget,” ujar Dave sembari mengekori istrinya.


“Iya, niat aku juga mau pakek baju yang itu,” jawab Kiyara sembari melirik suaminya yang terus mengikutinya kemana pun.


“Aku mau ganti baju dulu, Mas duduk sana gih,” ucap Kiyara dan diangguki oleh Dave dengan melas padahal dia ingin sekali selalu berada di sisi istrinya.


Kiyara, masih sibuk memoles wajahnya dengan make up tipis seperti biasanya. Tapi entah kenapa, di mata Dave istrinya itu semakin berkali-kali lipat lebih cantik apalagi saat kerudung pashminah berwarna senada dengan gamisnya di kenakan Kiyara, meski simpel tapi tatanan kerudung seperti itu selalu memberi kesan cantik dan dewasa pada wajah ayu istrinya itu.


“Cantik banget sih kamu, Yang,” ucap Dave sembari menciumi pucuk kepala istrinya itu.


“Ish, gombal mulu deh dari tadi ge, ayo ah buru bisi jalanan macet,” ajak Kiyara sembari berdiri dari duduknya mengambil tasnya dan segera menggandeng lengan suaminya.


Jalanan pagi di hari kerja di setiap kota rasa-rasanya selalu akan padat dengan kendaraan yang berlalu lalang dan mungkin bisa sampai macet seperti sekarang ini yang dialami sepasang suami istri. Tapi itu tak melunturkan senyuman keduanya, terutama si pria. Dave, dengan manjanya selalu minta di usap punggung tangan kirinya oleh sang istri meski merasa aneh tapi Kiyara masih saja melakukan itu agar sang suami tenang dan senang, jadi lupa dengan mual dan lemasnya.


“Oh, iya Mas … nanti kalau kamu rapat aku berarti sendirian dong di ruang kerja kamu,” ucap Kiyara.


“Nggak dong, Yang. Orang kamu aku ajak ke ruang rapat.”


“Haaaa …?”