
Pikirannya masih kalut mengetahui fakta paling menyesakkan dalam hidupnya, khawatir semua akan berubah karena dipaksa oleh keadaan yang seakan menghimpit keluarganya untuk melepaskan Dafa, Kakak terbaiknya yang dia punya selama ini. Belum lagi kegiatan OSPEK sudah mulai, membuatnya harus membagi pikiran dan energinya dengan baik, jangan sampai tumbang di tengah jalan, pikirnya. Bunda dan Ayahnya juga pasti merasakan dilema yang sangat luar biasa, melepas permata hatinya untuk wanita yang pernah menyia-nyiakan putra sulungnya adalah beban yang teramat, tapi kembali pada keadaan Ibu kandung anaknya itu, membuat perasaan dilema kian menjadi. “Beri aku kesempatan terakhir, sebelum ajal menjemputku.” sedangkan si sulung sama sekali tak tergerak untuk mengiyakan permintaan sang Mama.
“Kamu jangan di sini, jaga di bagian belakang aja, pantau sebisa kamu di sana sama anak-anak mentor lainnya. Sebenernya ini udah bukan ranah kita, tapi kita tetep musti pantau mereka, membantu panitia yang sekarang lagi bertugas,” perintah Satria kepadanya, Kiyara baru sadar jika dirinya terpisah dengan anak-anak mentor lainnya, mungkin kini Satria mengira dirinya tengah ngasoh enak-enakkan di bawah pohon beringin, padahal tadi dia sedang kalut dengan pikirannya sendiri karena kondisi rumah yang tidak stabil hampir 3 hari ini.
“Iya, sorry,” bisiknya.
“It’s okay.”
Tapi sepanjang hari itu, dia tak dapat berkosentrasi dengan kegiatan yang sedang dia lakukan … selalu tertangkap basah sedang melamun, dan diam-diam berkirim pesan entah dengan siapa … yang teman-temannya tahu, Kiyara tampak muram seperti tak ada gairah hidup.
“Ada masalah?” tanya Tama yang tiba-tiba mendudukkan tubuhnya tepat di samping gadis gendut yang tengah sibuk dengan gawai di tangannya.
“Eh …,” ucapnya karena terlalu kaget dengan kedatangan Tama di sebelahnya, pun karena rasa takut itu masih ada.
Menangkap gelagat aneh Kiyara, Tama tak ingin mengambil resiko. Dia memutuskan untuk kembali berdiri dan duduk di kursi yang sedikit berjarak dengan Kiyara.
“Apa ada masalah?” ulangnya.
“Engga.”
Tama, mengernyitkan dahinya heran. “Lalu, seharian ini kenapa seperti ada masalah. Tidak fokus menjadi seorang panitia yang harusnya menjadi contoh baik adik tingkatnya, bukannya malah sibuk melamun dan bermain hp,” ucap Tama dengan tegas, membuat nyali Kiyara semakin ciut, tak berani memandang wajah Tama di hadapannya, lalu menggigit kecil bibir bagian bawahnya menahan isak tangis yang sebentar lagi akan jebol.
Sadar akan perbuatannya, Tama menghela napas dengan kasar, terlalu rumit pikirnya. “Hei … ! jangan menangis, aku hanya bertanya.”
“Bang, jangan deket-deket Kiyara dulu … dia lagi ada masalah, jangan tambah beban dia biarin aja … lagian banyak kok yang peduli sama dia jadi lu nggak perlu repot-repot kek gini,” ucap Cakra dengan nada sedikit sewot, masih kesal karena pembicaraan terakhir mereka sewaktu acara Diklat di Lembang beberapa waktu yang
lalu.
Tama, mengernyitkan dahinya lalu menunjuk wajahnya sendiri dan terkekeh kecil. “Fine … oke, anggap aja aku sumber masalah buat Kiyara … it’s okay. Nggak bakal tanya-tanya lagi.”
Kiyara menggeleng-gelengkan kepalanya, mendengarkan percakapan kedua orang itu malah membuatnya semakin kalut. “Stop, bukan gitu. Jangan berantem, aku capek!”
“Ayo, ke musholla dulu Ki … tadi aku udah dikabarin sama Bang Dafa perkembangan di sana gimana, jangan sedih lagi,” ajak Cakra, membuat Tama menghembuskan napasnya kasar, baginya Cakra selalu mengganggu waktunya bersama Kiyara.
Kiyara menganggukkan kepalanya, menerima ajakkan Cakra dengan senang hati … karena yang paling dibutuhkan saat ini adalah bersimpuh dihadapanNya, untuk memanjatkan do’a yang sama selama 3 hari ini agar kakaknya tidak pergi dari kehidupannya.
“Maaf, untuk hari ini Kak karena tidak bisa fokus dalam kegiatan tadi, tapi bukan karena malas atau tidak bisa menempatkan diri sebagai panitia, di rumah ada masalah yang bikin pikiran kekuras banget dan tadi aku sempet sibuk main hp karena lagi bahas masalah itu sama orang tua dan Kak Dafa juga. Aku permisi ke musholla dulu,” pamit Kiyara sembari sedikit menjelaskan alasannya tidak bisa fokus pada kegiatan.
“Hem … .”
***
Netra coklat pekat milik Kiyara menangkap sosok jangkung yang paling di rindunya 3 hari ini, rasa rindu yang berbalut khawatir juga rasa takut yang menggunung kini perlahan mengikis.
“Apa Kakak sudah memaafkan Ibu kandungnya? Sampai wajah Kakak ikut menyedihkan seperti ini?” tanyanya dalam hati.
“Kakak, kapan pulang?” tanya Kiyara sembari memberikan senyum terbaiknya.
“Baru aja, maaf ya kemarin nggak bisa ikut pulang bareng Bunda sama Ayah, maaf juga pergi nggak bilang-bilang,” ucap Dafa sembari mengusap pucuk kepala Kiyara.
“Em … ,” balas Kiyara sembari mengangguk-anggukkan kepalanya, jujur dia bingung musti menanggapinya seperti apa, apa harus mengekspresikan rasa marah, khawatir, takut atau apa?.
“Kita pulang yuk, Kak … gerah nih,” ajak Kiyara membuat Dafa lagi-lagi tersenyum, sudah hapal kelakuan adiknya semacam ini menandakan sedang bingung.
“Ayuk, nggak mau nyari makan dulu?” tawarnya sembari membukakan pintu mobil untuk adiknya.
“No, mau makan masakan Bunda aja hari ini. Terima kasih,” jawab Kiyara setelah duduk di kursi penumpang.
“Emh, oke kita pulang Tuan Putri, sesuai permintaan Anda.”
Perjalanan kali ini terasa sepi, karena keduanya masih sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Dafa yang ingin menjelaskan dari awal apa yang sebenarnya terjadi dan Kiyara yang sedang sibuk menyusun pertanyaan untuk Kakaknya.
“Em, Kak …”
Dafa menolehkan wajahnya sekilas. “Ada apa?”
“Kakak, nggak akan ninggalin Kiyara kan?” tanyanya dengan suara pelan, hampir berbisik untung saja di dalam mobil Dafa tak sedang menyalakan audio sehingga pendengarannya yang tajam tetap bisa mendengar pertanyaan sang adik.
“InsyaAllah, Kakak nggak akan pernah ninggalin Adek untuk saat ini.”
“Kakak punya Adek lain selain Kiyara?” cicitnya lagi.
Dafa mengangguk. “Ada, dua orang. Yang satu seusia kamu yang satuya lagi umur 11 tahun.”
“Kakak, sayang sama mereka?”
“Sayanglah Ki, sebagai Kakakkan sudah seharusnya sayang sama adik-adiknya,” jawabnya realistis.
Kiyara memalingkan wajahnya, memilih menatap keluar jendela. Hatinya sedikit tak terima karena ada adik lain yang juga disayangi Kakaknya, sampai tak terasa dia meneteskan air matanya khawatir posisi adik kesayangan tergeser.
“Eh, kenapa malah jadi nangis? Kakak salah ya?” tanya Dafa dan hanya mendapat gelengan dari sang adik.
“Eng-enggak … Ka-kakak nggak salah, aku cuman takut Kakak ja-jadi nggak sa-sayang aku la-lagi, karena kita be-beda I-ibu, apalagi Kakak juga punya Adik dari Mamanya Kakak.”