
Rumah Tetangga ya, bukanRumah Tangga ...
.
.
Kiyara memasuki rumahnya dengan senyuman yang masih tersemat manis di bibirnya, tapi tak bisa dipungkiri hatinya kini merasa was-was mendapati rumah yang kosong kembali tanpa ada Bunda, Ayah, maupun Kakaknya.
“Kemana semua ya? Mending cek hp aja deh, siapa tahu ada yang ngasih kabar. Eh, mandi dulu aja ding terus salat baru cek-ricek.”
Gadis gendut itu menyusuri tangga rumahnya, berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Melepas hijabnya lalu masuk ke dalam kamar mandi di kamarnya. Mandi secepat kilat lalu berwudhu dan menunaikan sholat maghrib, sejenak berdoa dan berdzikir kepada-Nya sebagai dialog penutup senja hari ini.
Mukenah berwarna putih berhias gambar dedaunan, sudah dia lipat rapih dan menyimpannya di tempat semula. Kiyara tersenyum lembut, saat matanya melihat kembali ke arah mukenah miliknya. Teringat buku yang di tulis oleh Tereliye, daun yang jatuh tidak pernah membenci angin, yang entah sejak kapan kalimat itu menjadi kalimat
paling mujarab mengatasi kekecewaannya, agar tak terlalu larut di dalam rasa itu. Lalu dari situ dia paling suka dengan segala hal yang berbau dedaunan, berharap bisa menjadi pribadi yang ikhlas dalam menerima segala ketetapanNya. Kalau kata Mbah Kungnya yang di Surabaya, sebagai manusia musti jadi orang yang menjalani hidup dengan 'Urip semeleh lan narimo ing pandum", atau yang bisa juga diartikan "Hidup penuh berserah diri dan bersyukur menerima pemberian Tuhan.
“Oh, iya mau cek hp dulu … masak sampek jam segin belu ada yang pulang.”
Tangan gempalnya mulai berselancar di atas layar gawainya, melihat beberapa pesan masuk dan Alhamdulillah ada chat yang berasal dari Bundanya, membuat dia lega seketika.
“Lah, ternyata Bunda ada di rumah Mommy ... mau nginep di sana lagi, ada-ada aja Bunda ini, kayaknya lagi kangen Aunty Fani deh, mangkannya nginep ke Mommy biar berasa lagi ngobrol sama Adik perempuannya.”
Ting … tong … ting … tong …
“Assalamu’alaikum, Kiyara …,” suara dari teras rumah terdengar samara da yang memanggilnya, membuat gadis gendut itu buru-buru untuk turun.
“Wa’alaikumsalam, sebentar … !” teriaknya lalu buru-buru mengambil kerudung yang biasa dia kenakan saat di rumah dan segera turun ke bawah.
Ceklek… .
“Eh, Kak Dave … ada apa Kak?” tanya Kiyara ketika mendapati tetangga barunya itu sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
“Di suruh Mommy jemput kamu, di rumah ada Bunda juga lagi pada nungguin tuh buat makan malam bareng, Kak Dafa juga udah di rumah.”
“Ki …”
“Eh … iya Kak, sebentar aku ambil hp dan kunci rumah dulu ya,” ucap Kiyara yang langsung berlari kecil masuk ke dalam rumah.
“Kak Dave, maaf … mangga … masuk, duduk dulu !” teriaknya dari arah tangga.
Dave, terkekeh kecil melihat kelakuan absurd gadis gendut tetangganya itu. “Iya, jangan lari-lari naik tangganya, jatuh berabe.”
Tak berselang lama, Kiyara sudah tampak menuruni tangga dengan senyum manisnya. “Ayo, Kak !” ajaknya.
Keduanya keluar, Kiyara mengunci rumahnya dengan kunci cadangan yang dia miliki. Lalu berjalan beriringan bersama Dave.
“Pagernya di kunci lagi, jangan kayak tadi, bahaya,” ucap Dave mengingatkan.
“Eh, iya Kak … makasih udah diingetin, tadi kelupaan takut nggak keburu waktu maghrib soalnya, ini aku mau kunci kok,” ucap Kiyara sembari melihatkan gembok ditangannya.
“Sini, biar aku aja yang ngunci pagernya,” kata Dave dan tangannya dengan gesit mengambil alih gembok di tangan Kiyara.
“Eh … .”
“Astaghfirullahaladzim … kenapa jadi gini aku tuh … kepikiran yang enggak-enggak, masak iya Kak Dave yang sebegini perfectnya disandingin sama aku hahaha ada-ada aja otak aku ini,” ucap Kiyara dalam hati.
**
Ternyata, meski sudah tampak tak seinsecure dulu, rasa tak percaya diri itu tetap masih ada terlebih dalam urusan percintaan, terkadang orang yang memiliki bentuk fisik yang tak sempurna selalu merasa tak cocok jika bersanding dengan orang-orang yang terlihat sempurna secara fisik, takut tak sebanding katanya. Tapi, nyatanya rasa cinta tak pernah bisa direncanakan hadirnya untuk siapa.
.
.
.