
Satu minggu penuh, Mommy Dave di rawat di rumah sakit … selama itu pula, Dave, Kiyara, Dafa, Ayah Akbar, dan Bunda Alana, bergantian menjaganya, meski yang lebih sering adalah Dave dan Kiyara, tapi tetap saja Mommy Dave, merasa sangat terharu dengan perlakuan besannya itu, yang sangat-sangat baik kepadanya dan Dave.
Pengobatan yang akan dilakukan sudah terplanning dengan baik berkat bantuan Mas Izam, karena kanker yang diderita Mommy Dave sudah masuk stadium akhir, membuat mereka semua memaksimalkan pada pengobatan di luar negeri terlebih dahulu selama satu bulan, setelah satu minggu recovery di rumah.
Dan dengan keadaan yang tiba-tiba berubah 180 derajat ini, membuat pernikahan Dave dan Kiyara dilakukan secara sederhana di masjid perumahan dengan mengundang tetangga, sahabat, dan saudara dekat dari masing masing keluarga saja. Ini semua selaian permintaan dari Mommy Dave, juga agar tak menjadi fitnah saat Kiyara harus ikut serta ke Singapura untuk membantu merawat Mommy Dave, karena jika Dave sendiri yang mengurus mungkin akan sedikit kewalahan, lebih baik seperti ini sekalian mereka pergi berbulan madu.
“Bantu Dave, untuk berbakti pada Ibunya … jangan menjadi istri yang buruk dengan memisahkan anak dengan ibunya, kamu memang sudah berpindah dari milik kami orang tuamu menjadi milik Dave, tapi Dave tetap milik orang tuanya, Nak. Jadilah istri yang berbaki, dan selalu mengingatkan Dave pada kebaikkan,” pesan Bundanya selalu berputar terus dikepalanya.
“Ternyata betul apa kata Kakak, menikah itu bukan perihal aku dan dia saja tapi juga kedua keluarga yang jadi satu, dan Mommy juga adalah Mommyku, meski kami baru dipertemukan saat aku sudah besar,” gumamnya dalam hati.
Belaian lembut di kepalanya, membuat Kiyara mendongakkan kepalanya lalu tersenyum lembut ketika melihat siapa yang melakukan itu padanya.
“Kenapa melamun? Apa kamu lelah?” tanya Dave, yang kini sudah menjadi suaminya secara sah baik di mata agama maupun hukum.
Kiyara, menggeleng lalu menatap pada Mommynya yang sudah beristirahat di atas ranjangnya. Hari memang sudah malam, dan seperti beberapa hari belakangan Kiyara dan Dave akan kembali ke apartemen yang mereka sewa di dekat rumah sakit Mommynya di rawat.
“Aku sangat bersyukur, Mommy sudah jauh lebih baik saat ini.”
Dave, tersenyum tulus … “Semua ini karena support luar biasa dari menantunya, ayo kita kembali ke apartemen untuk istirahat,” ajak Dave dan diangguki oleh Kiyara.
**
Kiyara POV
Ini adalah hari ke 15 kami berada di Singapura untuk pengobatan Mommy, aku dan suami setiap hari menemani Mommy … berada di rumah sakit dari pagi sampai malam, sesekali di waktu tertentu kami keluar entah itu untuk membeli makanan kalau sedang malas memasak atau pun atas desakkan Mommy agar kami tak terlalu memikirkannya dan menyuruh kami agar sedikit rileks dengan menikmati beberapa tempat wisata di sekitaran kota.
“Sayang, aku keluar sebentar tadi teman kuliahku mengabari jika mereka ada di bawah.” Aku tersentak dari lamunanku ketika tangan besar itu mengusap lembut kepalaku yang berbalut hijab.
Aku menyunggingkan senyumku. “Iya, aku akan menunggu di sini bersama Mommy,” jawabku lalu mencium punggung tangan Kak Dave dan Kak Dave pun mendekat ke ranjang Mommy untuk pamit juga.
Kak Dave, keluar kamar rawat Mommy meninggalkanku bersama Mommy yang kini ikut duduk di sebelahku menatap jendela besar yang menyuguhkan pemandangan taman rumah sakit yang begitu indah.
“Mommy, mau nyemil?” tanyaku karena ini sudah masuk jam rawan lapar menjelang makan siang.
“Enggak, Sayang … nanti saja.”
Aku tersenyum, mendengar jawaban Mommy … teringat saat sehatnya dulu, yang tak pernah menolak apapun makanan yang aku tawarkan. Kini aku lebih memilih menggenggam tangan kirinya, mengusapnya lembut berharap bisa menenagkan gundah di hatinya, karena aku tahu Mommy selalu merasa bersalah pada Suamiku itu, merasa tak pernah bisa jadi ibu yang baik untuknya, selalu meroptkan padahal tidak bagi Kak Dave.
“Nak, apa sudah ada cucu Mommy di dalam sini?”
.
.
.
Apa kabar readers tersayang? semoga selalu dalam keadaan sehat ya di mana pun kalian berada. Bagaimana dengan alur cerita Kiyara? Apa membosankan atau mungkin readers memiliki saran? silakan berikan komentar kalian ya di kolom komentar, jangan lupa likenya juga ya hehehe terima kasih.
Oh, iya ... jangan lupa baca cerita Author lainnya juga ya, yang sudah tamat judulnya "Mencintai atau Dicintai", yang masih on going dan baru banget ada "Takdir Aruna", dan ada yang lama tapi baru dilanjut lagi judulnya **"Aku, Kamu, dan Takdir" **semoga ada yang cocok ya biar jadi selingan sembari menunggu cerita Kiyara update.