Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
11. Tulisan Mengubah Pandangan


~Terkadang apa yang kita ucapkan, tak selalu benar-benar dari hati karena logika sering kali ikut mengambil peran~


Malam semakin larut, membuat bulan dan bintang saling mempertontonkan kemilaunya di


atas sana. Sedangkan makhluk Tuhan yang paling sempurna, kebanyakan tengah sibuk meraih alam mimpi, tetapi tidak dengan laki-laki berperawakan tinggi, tegap, yang sedari tadi tengah sibuk membolak-balikkan buku bersampul biru, yang tak sengaja dia temukan di dalam tas Kiyara. Wajahnya berulang kali meraut sesal, gumaman kata maaf seringkali lolos dari bibirnya.


Bandung, 11 Januari 20xx


Agam, kamu di mana … ? katanya kamu akan masuk ke sekolah yang sama denganku tapi sampai aku masuk kelas delapan, kamu nggak dateng-dateng. Gam, apa senang dan sedih memang datangnya satu paket? Hari ini aku senang sekaligus sedih, kamu tahu? Hari ini pengumuman OSN Biologi di sekolahku, dan aku berhasil menjadi siswi yang akan mewakili


sekolahku untuk mengikuti OSN di tingkat Kota, tapi aku sedih … temanku, Aurel … dia tidak terima dengan hasil ini. Katanya aku tak pantas untuk mewakili sekolah, karena badanku yang gendut dan dia menuduhku bahwa hasilku tidak


murni.


~


Bandung, 22 Januari 20xx


Apa berbadan gendut merupakan ketidaksempurnaan bagi manusia? Kenapa aku selalu diperlakukan tidak adil? Apa aku tidak pantas untuk menjadi seperti mereka? Kenapa aku selalu dikucilkan? Apa salahku? Apa tangan gendutku pernah melukai mereka? Apa bibirku ini pernah merundung mereka? Apa kakiku pernah menendang mereka?


Hari ini Kakaknya Aurel datang menemuiku di sekolah, wajahnya terlihat baik meski berahang tegas seperti Kak Dafa. Tapi, ternyata aku keliru … salah besar … laki-laki itu menghina dan merendahkanku di depan teman-temanku dengan suara lantang. Sesekali tangan besarnya mencengkram bahu ataupun daguku dan menekannya dengan keras … bahkan


kini menjadi lebam, ngilu. Aku harus menyembunyikannya dari Bunda, Ayah, dan


Kak Dafa … !


~


Bandung, 21 Januari 20xx


Agam, kamu tahu? Aku baru pulang les jam sepuluh malam. Badanku sakit, bukan karena dipukuli oleh yang mengunciku di  kamar mandi tadi sore, tapi karena usahaku untuk mendobrak pintu sia-sia. Sepulang les tadi aku bertemu dengan Kakaknya Aurel lagi, ternyata dia masih dendam padaku, dan pada akhirnya


aku dikunci olehnya di kamar mandi tempat les, beruntung sekitas jam sembilan malam ada Pak Satpam dan Kak Dafa yang datang mencariku.


~


Bandung, 23 Januari 20xx


Pengaruh Kakaknya Aurel terasa sekali hari ini, teman-teman yang semula baik kini tak lagi mau bertegur sapa denganku … perlahan menjauh. Membuat Aurel lebih semena-mena kepadaku, dia menyembunyikan seragamku sehingga aku di hukum oleh Bu Aina, dia juga


memfitnahku saat ulangan harian matematika dan aku lagi-lagi di keluarkan dari kelas. Kenapa dia tidak bisa menerima kekalahan seleksi OSN beberapa minggu lalu? Dan kenapa aku jadi korbannya?


*Aku akan berusaha untuk mengurangi*berat badanku, agar aku bisa memiliki banyak teman … !


Agam, segeralah datang … !


~


Bandung, 20 Februari 20xx


Sudah lama aku tidak menulis, satu minggu kemarin aku dirawat di rumah sakit … diet yang aku lakukan ternyata berakibat buruk terhadap badanku. Untung saja, OSN tingkat Kota yang aku ikuti masih bisa aku lalui dengan baik, tak mengecewakan sekolah meski harapanku


membungkan mulut-mulut jahat yang selalu menghinaku tak dapat aku lakukan dan malah menjadi, malah sekarang bukan hanya bullying verba yang aku terima tapi juga bullying fisik. Membuatku bertekat untuk diet, yang malah berujung rumah sakit …


Beberapa hari sebelum drop, aku merasa sangat takut ke sekolah bayang-bayang bullying yang selalu aku terima selalu menghantui, ingin bercerita kepada Bunda, Ayah, dan Kak Dafa, tapi takut membuat mereka khawatir. Lebih parahnya lagi, saat dokter yang menanganiku


datang memeriksaku, aku mencuri dengar ucapan dokter … katanya aku mengalami stress berat yang mengarah pada depresi. Jadilah sekarang, setiap 2x seminggu aku harus menemui psikiater untuk kesembuhanku.


~


Bandung, 25 Februari 20xx


~


“Apa … ? ternyata dia pernah ada niatan mau mengakhiri hidupnya. Ya Allah … nggak nyangka banget gue, efek dari ucapan gue dulu bener-bener memengaruhi kehidupannya setelah itu,” ucap Tama, sembari mengusap kasar wajahnya yang meraut sendu penuh penyesalan. Jemari kokohnya kembali membalik kertas demi


kertas dan membacanya dengan khusuk, yang membuatnya semakin merasa bersalah atas perjalanan hidup yang dilalui Kiyara.


Bandung, 27 Juni 20xx


Hari ini, hari kelulusanku dari sekolah menengah pertama … Alhamdulillah aku mendapat juara satu seangkatan, baik dari nilai ujian sekolah maupun UAN. Danemku tertinggi se-provinsi, nyaris sempurna jika di ujian matematika aku tak melakukan dua kesalahan.


Ayah-Bunda dan Kak Dafa memberiku kejutan, yaitu tiket menuju Surabaya … untuk melakukan liburan ke rumah Pakde Reza dan ziarah kubur ke makam Kakek dan Nenek. Sebelum liburan tiba aku harus mencari sekolah yang berbeda dengan Aurel, seperti perintah dari Kakaknya waktu lalu.


~


Bandung, 29 Juni 20xx


Aku mendaftar sekolah di SMA Bunga Harapan, sekolah bergengsi paling favorit di Kota Kembang … awalnya aku ingin masuk ke sekolah negeri yang dekat dari rumah tapi juga memiliki reputasi baik, tapi sayang … Aurel malah mendaftar di sekolah itu, jadilah aku mengalah. Awalnya aku akan masuk sekolah negeri yang berada di pinggiran Kota, tapi Kak


Dafa memberiku saran agar masuk ke SMAnya dulu karena terkenal kualitasnya yang mumpuni, dan dia yakin bahwa aku pasti akan masuk ke sana.


Ucapan Kak Dafa ternyata terbukti, malah sebelum aku mendaftar ke sekolah itu … datang surat pemberitahuan beasiswa di SMA Bunga Harapan yang ditujukan kepadaku. Saat itu, menjadi satu-satunya harapanku bahwa kebaikan lain akan menyertai langkah kakiku saat masuk sekolah itu.


AGAM … AKU HARAP KAMU MASUK SEKOLAH


YANG SAMA DENGANKU … !


~


“Siapa sih, Agam ini … dari awal sampai entah lembar keberapa ini namanya selalu di tulis Kiyara?” monolog Tama.


Bandung, 14 Juli 20xx


Hari ini adalah hari pertamaku masuk sekolah, rangkaian kegiatan MOS adalah pembukanya … tadi pagi baru saja menginjakkan kaki di lapangan, aku sudah mendapat bentakan dari seorang pria tinggi, dengan warna mata yang begitu menghipnotis … biru … entah, kenapa saat aku melihat mata itu seakan aku bisa masuk ke dalamnya, serasa menyelami lautan


yang paling dalam. Tapi, sayang … semuanya sama saja … selalu memandang fisik


adalah segalanya.


Apakah langkahku akan selalu dibumbui dengan perundungan kembali? Semoga tidak … !


~


“Shit … ! nggak kuat gue bacanya … skiplah …” tanganya kembali membuka lembar demi


lembar kertas berwarna gading itu, sesekali bibirnya ikut mengomentari setiap kejadian yang di tulis oleh Kiyara. Sampai tulisan di buku itu, tahunnya telah berganti dan berganti …


“Astaga masa SMAnya nggak jauh beda sama masa SMPnya.”


“Oh, Agam itu temen masa kecilnya … heronya


dia waktu kenak bully. Terus Cakra ini adik kembarnya Agam, duh ribet deh … Dave ini, bule kakak kelasnya Kiyara yang sering melakukan perundungan ke Kiyara.” Tama manggut-manggut, sembari memahami tulisan Kiyara. Lalu dahinya mengernyit dalam ketika membaca goresan di lembar terakhir buku itu.


Bandung, 20 April 20xx


Ini lembar terakhir yang aku tulis di buku pemberianmu, Gam. Semoga kisah kelam di


buku ini tertutup dan tak akan terulang kembali di masa Perguruan Tinggi, aamiin. Gam … ini sudah satu tahun lebih ‘dia’ tak pernah ada kabar … setelah kejadian bersimba darah di taman satu tahun yang lalu, entah sekarang dalam keadaan baik-baik saja atau tidak, tapi semoga ‘dia’ selalu diberi perlindungan oleh Allah S.W.T aamiin … Bye SMA Bunga Harapan …