
~Semua orang sempurna menjadi dirinya sendiri~
“Bang Tama … ,” lirih Kiyara dan dibalas senyuman memabukkan oleh Tama, si famous dari FTSL, membuat beberapa teman-temannya mencuri dengar pembicaraan Kiyara dan Tama.
“Ngapain di sini?” cicit Kiyara, membuat Tama mengernyitkan dahinya heran.
“Bodoh, kok malah nanya gituh … sudah pasti dia bakal jadi tamu di acara ini,” rutuknya dalam hati.
“Kan, saya diundang jadi tamu sama tim mentor sekalian sharing-sharing nanti,” jawab Tama, sembari mencuri lihat ke arah tangan Kiyara.
“Ya sudah lanjutkan, saya mau menyapa yang lain,” katanya ketika melihat jemari Kiyara saling bertaut dan terlihat sedikit bergetar, rupanya rasa traumanya masih belum sepenuhnya sembuh, meski raut wajah Kiyara sudah berangsur tak menunjukkan gejala berarti.
“Ayo, nanti kalau sudah matang di bawa ke dekat api unggun kita have fun dan sharing-sharing sambil nyamil,” ucap Tama pada ciwi-ciwi yang sibuk mengipasi panggangan dan di balas tawa juga teriakkan senang, karena di sapa oleh Tama.
Kiyara yang melihat Tama sudah menjauh, mencoba menetralkan degup jantungnya akibat rasa takut yang masih terasa ketika berada di sekitar Tama. Beruntung teman-temannya tak ada yang meledeknya, atau pun kepo dengan kedatangan Tama yang tiba-tiba seolah mereka saling kenal akrab.
“Oh, iya lu tadi bisik-bisik sama gue katanya bakal ada ngeliwet, kok malah bakar-bakar begini?” tanya Anggun pada Tiwi, membuat perhatiannya secepat kilat berubah. Dia juga penasaran, karena tadi Tiwi berbicara kepadanya seolah liwet adalah hal yang paling menakjubkan yang akan terjadi mala mini.
“Hehehe … pisss … sumpah deh awalnya ada jadwal ngeliwet beneran sebelum acara api unggun, dan kalian tau siapa yang bakal ngeliwet?” semua menggelengkan kepalanya.
“Bang Tama !!! tapi nggak tahu kenapa tiba-tiba acara diubah jadi bakar-bakar kayak gini. Seriusan deh awalnya itu ngeliwet … NGE-LI-WET … !” ucap Tiwi penuh penekanan.
“Ish, biasa ajalah … bakar-bakar gini juga seru kok … have fun ajalah, yang penting kumpulnya, kekeluargaannya, dan paling penting makan-makannya,” ucap Sarah, salah satu anak mentor dari jurusan Teknik Lingkungan.
“Iya, sih seru tapi berarti malam ini nggak dapet jatah nasi dong peyut aku?” kata Tiwi sembari memasang wajah memelas dan memegang perutnya.
“Siapa bilang?” Kata Satria yang tiba-tiba udah berdiri di dekat kumpulan beberapa cewek yang sibuk memanggang makanan diselingi ngobrol.
“TIWI … !” ujar mereka serempak.
“Nih, nasi … ada kentang goreng juga, bisa di makan sama yang kalian bakar … gini-gini gue calon suami idaman, tau apa yang dibutuhin,” ucap Satria sembari meletakkan kresek merah berisikan bungkusan nasi tanpa lauk, disusul Bagas yang menaruh 2 baskom penuh kentang goreng yang terlihat masih panas.
“Kok bisa?” tanya Tiwi dengan muka heran.
“Belilah … ! Dasar Oneng.”
Semakin malam halaman belakang villa semakin ramai, jika tadi sibuk menyiapkan untuk makan-makan kini semuanya disibukkan dengan pensi dadakan. “Ternyata acara api unggun, akan terasa lebih menyenangkan bila dibarengi dengan pertunjukkan seni. Apa dulu acara PERSAMI, Diklat OSIS, dan kegiatan keorganisasian sewaktu sekolah juga semenyenangkan ini?” tanya Kiyara dalam hati.
“Suaranya Cici ternyata enakeun euy … ,” ucap Cakra yang kini duduk di sebelahnya, membuatnya menoleh dan menghilangkan lamunannya.
“Iya, suaranya bagus, cantik, pinter juga … ,” jawabnya, mebuat Cakra tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
“Kamu salah sangka,” kata Cakra sembari terkekeh kecil.
“Ya, pesona orang Surabaya sudah mematahkan rasa sukamu kepada mojang Bandung. Dan apa itu termasuk Cici, aku lihat kamu deket banget sama dia?” tanya Kiyara, sedikit menginterogasi sahabatnya itu. Bagaimana tidak berpikir ke arah sana, jika hampir di setiap selesai acara mereka tampak selalu bersama.
“Tidak, kamu tahu bukan aku orang yang seperti apa?” Kiyara mengangguk, membenarkan ucapan Cakra.
“Ya, aku tahu dan aku percaya Adeknya Agam tidak akan pernah mengikari janjinya,” ucap Kiyara sungguh-sungguh, karena bertemunya mereka sampai jadi sahabat adalah berkat Cakra yang memegang teguh janji kepada almarhum, untuk menemui dan menjaga Kiyara. Ah, Agam … dia selalu membuat Kiyara bersedih jika mengingatnya.
“Please, nggak boleh sedih lagi. Kakak udah tenang di sana. Pasti dia juga seneng banget, ngelihat Kiyara yang baru, Kiyara yang lebih semangat, percaya diri, juga bisa bersosialisasi dengan baik sekarang.” Cakra tersenyum, sembari memandang langit di atasnya.
“Aku belum se-percaya diri itu Cak, kadang masih suka minder, tapi masih bisa aku redam dengan hal-hal lain. Makasih juga udah support aku, sampai dititik ini selalu nemenin da nada buat aku.”
“Best friend forever …,” ucap Cakra sembari mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh Kiyara, lalu keduanya tertawa bersama, mengabaikan beberapa pasang mata yang menatap keduanya aneh.
“Hei … kalian berdua, daripada ketawa-ketawa berdua mending nyanyiin lagu buat kita semua …,” teriak salah satu kakak tingkat yang ikut dalam acara ini.
“Cak, nggak berani …” kata Kiyara, sembari menggelengkan kepalanya.
“Nggak masalah, ada aku … kita nyanyi lagunya Nadin, mau?”
“Hah … serius kamu? Enggak ah, malu … !”
“Malah ngobrol … yuk semangatin yuk … !”
“CakKi … CakKi … ayo nyanyi … yokkk bisa yokkk … CakKi …!”
“Eh, apaan CakKi?” tanya kakak tingkat tadi yang menegur Kiyara dan Cakra.
“Cakra dan Kiyara, Kak … ,” teriak Tiwi dengan semangatnya.
“Hahaha … saya kira boneka. Ayo CakKi,pendukung kalian sudah banyak.”
Cakra berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Kiyara, membantunya berdiri dari duduk lesehan yang membentuk melingkar di dekat api unggun dengan teman mentor lain. Cakra dan Kiyara kini sudah berdiri di panggung kecil ala kadarnya yang sudah disiapkan dari tadi sore, ada sound kecil khusus acara outdoor di atasnya lengkap dengan dua buah microphone.
“Ehm … sebelumnya saya minta maaf tadi sempat merusuh karena terlalu kencang tertawa. Sekarang gantian saya dan Kiyara yang menghibur kalian, semoga petikkan gitar saya aman dan suara partner duet saya tetap stabil membawakan lagunya sampai selesai,” Cakra berbicara panjang lebar, hitung-hitung sebagai pemanasan menghilangkan rasa gugup sahabatnya yang sedari tadi tampak tegang.
Suara tepuk tangan dan teriakan semangat untuk CakKi, begitu riuh siapa lagi jika bukan karena biangnya, si Tiwi, Fani, Fani dan Edo, disusul suara teman-temannya yang lain.
“It’s oke, ada aku,” bisik Cakra sembari menyerahkan satu microphone lain pada Kiyara.
“Ini lagunya, anak kecil kenal cinta kayaknya, tapi cocok juga buat kita … selamat menikmati.”
Jreng … jreng …
Ku sudah tau dari awal
Mencintai bukan perkara kebal
Jauh dari kata mudah dan asal
Kupelajari sedari kecil
Suara Kiyara mengalun dengan merdunya meski nadanya tak setinggi penyanyi aslinya, tapi penghayatan Kiyara begitu merasuk dalam lagu ini, membuat siapa saja yang mendnegarnya akan terhanyut untuk meresapi dan memaknai lagu ini.
Berteriak di atas tenggorokan
Hujan serapah dan makian
Hancur lebih mudah dari bertahan
Kupelajari sedari kecil
Dan dari situ cara pandangku
Melihat cinta berwarna keruh
Seperti bertaruh apa kau dan aku
Akan jadi sama seperti itu
Yang masih kecil di mata semua
Walau takut kadang menyebalkan
Tapi sepanjang hidup 'kan kuhabiskan
Walau tak terdengar masuk akal
Bagi mereka yang tak percaya
Tapi kita punya kita
Yang akan melawan dunia
Aku sudah tau dari awal
Rasa takut masih kugenggam nyaman
Cinta dan jenisnya seperti seram
Kupelajari sedari kecil
Dan dari situ cara pandangku
Melihat cinta berwarna keruh
Seperti bertaruh apa kau dan aku
Akan jadi sama seperti itu
Yang masih kecil di mata semua
Walau takut kadang menyebalkan
Tapi sepanjang hidup 'kan kuhabiskan
Walau tak terdengar masuk akal
Bagi mereka yang tak percaya
Tapi kita punya kita
Yang akan melawan dunia
Prok … prok … prok … prok …
“Lagi … lagi … lagi …!”
“Wahh … gimana nih, temen-temen kalian pada minta tambah nih … kasih ya satu lagu lagi?” tanya Wira yang kini mengambil alih menjadi host dadakan diacar malam ini.
Cakra menatap Kiyara, sembari menganggukkan kepalanya, bibirnya bergumam kecil dan Kiyara seolah tahu apa yang dimaksud.
“Oke, kita tambah satu lagi, ini buat kalian yang harus berpisah … nggak masalah ya, jangan jadiin beban, ambil sisi positifnya aja … yok mari kita ber-SORAI … !” suara tepukan kembali riuh, memecah gelapnya malam.
Langit dan laut saling membantu
Mencipta awan hujan pun turun
Ketika dunia saling membantu
Lihat cinta mana yang tak jadi satu
Kau memang manusia sedikit kata
Bolehkah aku yang berbicara
Kau memang manusia tak kasat rasa
Biar aku yang mengemban cinta
Awan dan alam saling bersentuh (bersentuh)
Mencipta hangat kau pun tersenyum
Ketika itu kulihat syahdu
Lihat hati mana yang tak akan jatuh
Kau memang manusia sedikit kata
Bolehkah aku yang berbicara
Kau memang manusia tak kasat rasa
Biar aku yang mengemban cinta
Kau dan aku salingmembantu
Membasuh hati yang pernah pilu
Mungkin akhirnya tak jadi satu
Namun bersorai pernah bertemu
Tama memanatap sendu Kiyara, rasa bersalah meski sudah mendapatkan penerimaan maaf tetap masih terasa penyesalannya. Mengetahui kemampuan lain dari Kiyara selalu membuatnya bersedih, merasa gagal menjadi
seorang pria yang seharusnya melindungi wanita.
“Jika saja, aku dulu tak membullynya mungkin bakat-bakat seperti ini tak akan dipendamnya. Menjadikan Kiyara yang benar-benar bersinar seperti Mentari, Tuhan … sungguh aku merasa bersalah … sangat-sangat bersalah, membuat seorang gadis terkungkung di dalam batok, menutup diri dari dunia luar. Ternyata dia, begitu sempurna menjadi dirinya sendiri dan fisik memang bukanlah segalanya di zaman seperti sekarang ini,” ucapnya dalam hati.