
Tya, melotot tak percaya Kakaknya tega menampar dia di depan orang banyak dan apa katanya tadi? Mamanya yang jahat? Ah yang benar saja, dia sangat bingung saat ini mana yang benar Mamanya kah atau Kakaknya ini?
“Kakak, nampar aku?” lirihnya dengan memegang pipinya yang kini mulai memerah.
“Sorry, tapi itu semua pantas untukmu yang tak bisa menyaring informasi yang masuk padamu, lalu apa gunanya otak untuk berpikir Ty ? dan lagi kenapa tutur katamu busuk sekali?” ucap Dafa, sementara semua orang yang di sana masih mematung tak percaya dengan apa yang terjadi di depan mata mereka.
“Lalu, apa gunanya Mama mengarang cerita kepadaku, Kak? Pasti Kakak yang bohongkan?” tanya Tya tak terima.
“Kamu sudah besar pikirlah sendiri, jika memang Ayah dan Bundaku yang salah kenapa aku ikut mereka, kenapa aku tak ikut dengan Ibu kandungku padahal saat itu aku masih terlalu kecil untuk ikut Ayahku,” jawab Dafa dengan tenang.
“Nggak … nggak … nggak mungkin, Mama aku orang baik … Mama aku orang baik,” kata Tya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kalau kamu nggak percaya dan kamu siap mendengar semuanya dari Kakak, Kakak akan bercerita padamu semuanya tanpa ada yang dilebihkan atau diurangi, sedikit pun,” ujar Dafa sembari berjalan menghampiri adik tirinya itu.
“Nggak … nggak … semua ini gara-gara adik sialannmu ini kan, dasar gajah bengkak …!” teriak Tya sembari berlari menerjang Kiyara dan mendorongnya dengan keras.
Dug … Brughh ...
“Auwhhh … Bunda,” lirih Kiyara yang kini terduduk di atas lantai sembari memegangi perutnya.
“Kamu kenapa, Nak?”
“Sssshhh … perutku sakit Bunda, kayaknya kenak tangan atau kaki dia,” jawab Kiyara sambil meringis sakit saat di bantu sang Bunda berdiri.
“Astaghfirullah, Nak … darah, apa kamu haid … ?” tanya Mama Cakra sembari menunjuk gamis bagian belakang Kiyara.
“Enggak, Tan …. Sssshhhh … Bunda, darahnya ngalir,” ucap Kiyara sembari mengangkat sedikit gamisnya memperlihatkan sedikit betisnya.
“Astaghfirullah … Dave cepat panggil Dave, ayo ke rumah sakit kayaknya Adek kamu pendaharan,” teriak Bunda dengan panik, Dafa dengan sigap langsung berlari ke arah tangga berniat memanggil Dave di kamar lantai 2 milik Kiyara, tapi beruntung Dave juga sedang turun karena akan ke rumahnya untuk mempersilakan orang-orang dari jasa kebersihan untuk masuk ke rumahnya.
“Dave, Kiyara pendaharan … ayo bawa ke rumah sakit.”
Dengan sigap Dave langsung berlari menuju ruang tamu tempat di mana terakhir dia meninggalkan istrinya tadi tapi sudah tak ada istrinya di sana hanya ada wanita paruh baya yang tadi dia salimi dan juga wanita muda yang entah siapa itu.
“Sudah di bawa Cakra ke mobil, segera susul,” ucap Mama Cakra dan diangguki oleh Dave.
Tya, yang awalnya takut kini malah tersenyum sinis saat melihat keluarga Kiyara terlihat panik gara-gara ulahnya. “Hahaha, rasain … kalian harus menerima karma karena telah menyakiti Mamaku.”
“Diam, Tya kamu itu membuat onar saja, malu Tante kalau punya mantu sepertimu,” ucap Mama Cakra dengan sewot, rasanya kesal sekali melihat kelakuan asli calon menantunya itu, ngeri juga sebetulnya karena Tya seolah menjadi pribadi lain saat ini tak seperti biasanya yang terlihat anggun dan selalu jaim.
“Cakra, tolong bawa Tya pulang ke rumahmu dulu, aku titip dia nanti aku ke sana dengan membawa bukti, tolong bantuannya,” mohon Dafa saat sudah melihat mobil yang dikendarai Dave keluar dari halaman rumahnya.
“Iya Kak, aku akan mengurusnya dulu. Jujur saja aku merasa bersalah hal seperti ini harus terjadi, jika saja aku tak membanya ke sini mungkin ini semua tak akan terjadi,” sesal Cakra.
“Awww … Tante jahat, hiks …”
Cakra dan Dafa saling pandang, ketika mendengar teriakkan Tya dari dalam rumah sementara mereka kini masih di teras rumah.
“Aaaa, Cakra liat-liat … Tya pendaharan …”
“Haaaaa ….?”
**
Suara gemericik air, membangunkan Kiyara dari tidur nyenyaknya … malam ini mereka tak jadi kembali ke rumah depan, masih ada di rumah Ayah dan Bundanya karena kejadian tadi siang membuat segalanya berantakan, meski begitu selalu ada hikmah yang di dapat, begitupun dengan kejadian siang tadi, yang begitu panas dan penuh dengan teriakkan makian dari seorang wanita muda yang ternyata mengidap bipolar dan stres berat.
“Mas …” gumamnya sembari meraba kasur sebelahnya, kosong, membuatnya kembali memejamkan matanya, tapi belum sampai 5 menit pipinya terasa dingin akibat sentuhan tangan besar.
“Maafkan aku,” bisik Dave sembari terus mengusap pelan pipi tembam istrinya itu.
“Eungh … Mas?”
“Tidurlah, Sayang … aku di sini … kamu harus banyak istirahat,” ucap Dave yang kini malah ikut berbaring lagi di sisi istrinya dan memeluknya erat.
“Emh … apa Tya dan janinnya baik-baik saja?” tanya Kiyara lirih.
“Kenapa menanyakan seorang pembunuh itu, sudahlah aku malas membahas perempuan gila itu, beruntung kamu
tidak apa-apa meski kita harus kehilangan calon anak kita, aku benci dia, Ki!” ucap Dave dengan nada dinginnya.
“Mas, jangan seperti itu … ini sudah takdirNya … apa kamu tidak dengar kemarin apa kata Kak Dafa setelah di telepon Papa Tirinya?” ucap Kiyara lembut, meski sebagai seorang calon ibu yang kehilangan darah dagingnya dia teramat sakit, kecewa, dan sedih secara bersamaan tapi apa yang bisa dia lakukan selain mengikhlaskan dan mengambil pelajaran dari kejadian kemarin siang itu.
“Ya, aku tahu dia mengidap bipolar lalu dia juga habis digilir sama temen-temen mainnya dan entah hamil anak siapa jadi dia juga lagi stress berat,” ucap Dave dengan malas.
“Nah itu kamu tahu, jadi sudah ya … kita bisa berusaha lagi setelah ini, dan kamu juga harus ikhlas. Aku beruntung ada kamu, Bunda, Ayah, Mommy, Daddy, Kak Dafa, Teh Asti, El, sahabat-sahabat aku , yang semuanya support aku mendoakan kebaikkan untukku dan anak kita yang sudah pergi, tapi Tya? Dia sendirian sekarang Mas, apalagi Cakra pasti sekarang dia juga sangat terpukul dengan kenyataan ini, jadi kita harus memberi support ke mereka juga,” ucap Kiyara.
Cup …
Dave mengecup sekilas pipi istrinya itu, lalu memeluk semakin erat sang istri membuat Kiyara membelai pelan lengan kekar sang suami.
“Untung tadi Mommy dan Baby El lagi pada di tidur di kamarnya, ada peredam suara juga jadi nggak denger kegaduhan yang dibuat Tya, dan jangan ada yang cerita ke Mommy kalau aku keguguran, nanti jadi kepikiran,” ucap Kiyara sembari meneteskan kembali air matanya dan buru-buru ia usap dengan jemarinya agar tak dilihat sang suami.
Bagaimana pun dia juga butuh waktu untuk tak sedih lagi karena kehilangan calon buah hati yang dia tunggu-tunggu kehadirannya. “Mungkin, kamu di ambil lagi karena Allah mau biar Bunda lebih fokus lagi merawat Oma kamu Sayang, maafkan Bunda dan Ayah yang tidak tahu kehadiranmu di rahim Bunda,” lirih Kiyara dalam hati.