
Mommy Pov
.
.
"Jangan bicara seperti itu."
Tangan kekar itu masih membelit tubuhnya erat, seolah tak ingin melepasnya kembali apapun yang terjadi.
"Jeff ..."
"Hem, ini aku."
"Jangan seperti ini, ingat kita sudah bercerai," tegurnya, sedikit risih tapi jantungnya tak bisa membohongi, degup itu masih ada.
"Ayo, kita rujuk ... bertahun lalu aku hanya melepasmu bukan menyeraikanmu secara hukum, bahkan buku nikah kita, status kita di mata negara masih sah."
Raut wajah Mommy berubah. "Jangan seperti ini, katamu kau sudah mengikhlaskanku dan Dave. Jangan seenaknya mengatur segala hal sesuai keinginannu, Jeff ... kita sudah tak lagi muda, cukup sekali saja aku kau khianati dan aku tak mau megulang masa kelam itu lagi."
Wanita itu tetap memunggungi, mantan suaminya. Rasanya sangat enggan berbalik, khawatir akan goyah dengan pendiriannya sendiri. Rasa suka, cinta, dan sayang berbalut utuh dengan rasa kecewa dan benci. Kadang dia masih berandai-andai, apa jika kembali bersama akan sama seperti saat pertama kali mengikat rasa cinta dan sayang dengan ikatan suci? atau malah hambar dan jadi saling menyakiti kembali?
"No, aku tahu apa yang harus aku lakukan Sayang. Awalnya aku pun takut kita akan saling menyakiti, terlebih lagi diriku sendiri. Tapi belakangan ini aku sudah memikirkannya matang-matang, aku juga sudah membicarakan ini pada Dave ... dan dia menyerahkan sepenuhnya pada kita, kamu tahu aku sangat berharap kamu mau membuka hatimu untuk pria brengsek ini, untuk kesekian kalinya. Agar di masa tua kita, kita tetap bisa bersama melihat Dave memberi banyak cucu untuk kita."
Air matanya jatuh menetes, teringat banyaknya harapan yang dia buat, sudah hancur berkeping. Dan sekarang si penghancur harapan itu malah berputar arah kembali padanya dengan menawarkan untuk mewujudkan harapannya lagi.
"Apa jaminannya kau tak akan kembali menyakitiku dan putraku, Jeff? Dan lagi, kau sudah tahu bukan, usiaku mungkin tak akan lama lagi, apa kau masih mau kembali merajut rumah tangga dengan wanita penyakitan ini, Jeff? Mungkin aku malah akan merepotkanmu nantinya," ucap Mommy dengan menahan getar suaranya yang hampir kalah dengan suara isakkan tertahan.
"Sssttt ... jangan bicarakan soal usia, manusia tak ada yang tahu Sayang. Dan bila kau mau kembali padaku, aku akan jaminkan hidupku sendiri, kehidupanku ... hanya untukmu seorang. Bagaimana apa kau mau?"
"Entahlah, aku tak tahu," jawab Mommy dengan santainya, padahal jauh di dalam lubuk hatinya dia sangat-sangat gundah harus mengambil keputusan seperti apa.
"What? Entahlah? Really? Itu berarti kamu bimbangkan? Dannn ... mau mempertimbangkan ajakkan ku tadi?"
"DADDY ... KENAPA ADA DI KAMAR MOMMY? DASAR MENCARI KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN."
"Calm down, Son."
"Sana kalian keluar semua, Mommy mau ganti baju dulu."
***
KIYARA POV
Dia duduk di kursi ruang makan, menatap bergantian sang suami dan ayah mertuanya yang sedang perang mata, saling menatap dengan sengit.
Dia teringat tadi saat ia membukakan pintu apartemennya, di depan pintu sana ada ayah mertuanya tengah tersenyum lebar lalu menanyakan keberadaan Mommy mertuanya.
"Ada di kamarnya Dad. Daddy duduk dulu ya di sini Ara mau panggil Mas Dave dulu."
Dengan santainya dia langsung masuk ke kamarnya, berniat memanggil suaminya. Tapi ternyata malah dia di sergap tanpa ampun, mencoba memberhentikan tapi tubuhnya tak bisa diajak kompromi. Jadilah lama dia ada di dalam kamar, setelah selesai dia baru teringat Daddynya ada di ruang tamu.
"Mana, Yang Daddynya?"
"*Tadi di sini, Mas ... emh, apa mungkin ke kamar mandi?"
"No, no ... ayo kita ke kamar Mommy saja."
"DADDY ... KENAPA ADA DI KAMAR MOMMY? DASAR MENCARI KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN*."
Puk ...
"Sayang, jangan melamun ..."