
Pada akhirnya tak memerlukan waktu lama bagi Kiyara untuk tidur dengan pulas di atas kasur milik Dave, selain karena rasa kantuk yang teramat, itu semua juga karena efek obat yang diminumnya tadi.
Sementara di luar kamar, Kakaknya dan Dave kini tengah sibuk bermain PS, dengan sesekali diselingi obrolan ringan.
"Gimana, Bang ... kapan ke Surabaya lagi?" tanya Dave.
"Bulan depan, kayaknya. Mama udah keluar dari rumah sakit juga," jawab Dafa dengan pandangan yang tetap fokus pada layar besar di hadapannya.
"Alhamdulillah kalau udah keluar dari Rumah Sakit Bang, sumpah ngga tega liat adikmu Bang, sedih banget dia ditinggal sama Abangnya ke Surabaya mulu. Dipikir-pikir, kayaknya Kiyara itu masih takut banget kehilangan Abang, soalnya belakangan ini apa-apa maunya sering sama Kak Dafa, Kak Dafa dan Kak Dafa."
"Goooollllll ... yesss ...," teriak Dafa ketika bola yang diumpankan pemainnya berhasil ia masukkan dalam gawang lawan.
"Kiyara, emang deket banget sama aku dari dia lahir ... semua kasih sayang dan semua yang aku punya udah aku kasih ke dia, kita juga nggak pernah kepisah jauh dalam waktu yang lama mangkannya dia takut banget aku pergi dari hidupnya, apalagi semenjak tahu aku saudara se Ayah aja sama dia, punya adik lain dari Mama kandungku, sedikit banyak sepertinya memengaruhi alam bawah sadarnya, sebetulnya aku juga udah disaranin Ayah buat bawa Kiyara ke psikolog yang dulu itu Dav, soalnya kejadian ini berdekatan dengan kambuhnya trauma Kiyara," sambunga Dafa sembari memberi kode pada Dave, bahwa dia sudah berhenti main.
Dengan sigap Dave langsung mengeluarkan dari permainan dan mengemasi PSnya, agar tak ketahuan Mommynya jika dia masih punya satu set PS rahasianya di rumah ini.
"And then, rencana Abang mau kapan bawa Kiyara ke Psikolognya? boleh aku temani?" tanyanya.
"Belum ada waktu yang pas sejauh ini, khawatir dia salah paham juga, jadi masih berpikir gimana cara bicaranya dan ngajak dianya."
"Aku bantu ngomong sama Kiyara deh Bang, pelan-pelan nanti aku obrolin sama dia," kata Dave sembari mengubah posisi sofa menjadi kasur untuk tempat tidur mereka berdua di ruang tengah.
"Boleh, asal jangan keburu-buru, hati-hati juga kalau bicara hal sensitif sama Kiyara," jawab Dafa, entah mengapa rasanya dia begitu lega dan tenang ketika Dave secara tidak langsung sangat care dengan adiknya itu, meski tahu bagaimana masa lalu Dave, tapi di hatinya dia yakin Dave adalah laki-laki baik yang bertanggung jawab.
***
Suara gemiricik air membangunkan Kiyara dari tidur lelapnya, rasa dingin juga terasa menyelimuti tubuhnya. Perlahan gadis berperawakan gendut itu membuka matanya, melihat ke segala penjuru kamar rasanya asing sekali.
"Astaghfirullah, lupa aku ... semalamkan aku tidur di kamarnya Kak Dave," ucapnya lirih setelah melihat foto lelaki bersama wanita paruh baya yang tertempel di dinding kamar.
Kiyara, bangun dari tidurnya masih mengenakan pajamas dan kerudung instannya yang sengaja tak ia lepas saat tidur semalam.
"Ini ujan kah, kok kedengaran suara air," ucapnya, sembari berjalan menuju jendela.
Srekkk ...
Tangannya membuka tirai jendela kamar Dave yang berada di lantai dua, pandannya langsung tertuju pada balkon kamarnya di seberang sana, ternyata posisi kamarnya dan kamar Dave tepat berhadapan. Dia menggeleng pelan ketika pikiran-pikiran anehnya mulai memasuki otaknya.
"Ehm, nggak ujan gini terua itu suara gemericik air di mana?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Ceklek ...
Suara pintu terbuka membuatnya mengalihkan perhatiannya dari luar jendela.
"Aaaaaaa ..."