
"Kiyara, sempurna? Ah lu mah aneh-aneh aja. Cinta buta lu, awas nyesel."
"Iya emang gue cinta buta sama Kiyara, karena kebaikkan dan ketulusan hatinya yang menyilaukan hati gue. Nanti, lu juga bakal ngerasain jatuh cinta ke pasangan sejati lu yang di kirim Allah, jangan menjelekkan pasangan orang atau menyalahkan rasa cinta orang lain pada pasangannya, lu nggak tau apapun tentang Kiyara jangan sekali-kali jelek-jelekkin dia lagi di depan gue. Dia itu wanita paling tulus yang pernah gue temui setelah Mommy gue, ah lu mah kagak bakal tau rasanya jatuh cinta terlalu buta sama celap-celup lu kira semua wanita murahhannn tapi nyatanya lu yang terlalu begooo nyari wanita yang tepat."
"Serah lu aja lah, tapi dengan ini gue tahu kalau lu bener-bener cinta sama pasanganu terlebih pasangan lu Kiyara atau bukan."
"Pokoknya, gue mau ngingetin lu. Cinta itu buta mata bukan buta hati, cinta itu nggak selamanya mandang fisik tapi lebih dari itu hati, dan lagi rasa nyamannya tentu beda."
"Ya ... ya ... ya ... gue bakal inget-inget ini."
Mereka pun larut dalam obrolan bisnis yang mereka tekuni, tak lagi membahas masalah tambatan hati. Sembari menghabiskan makanan dan minuman yang sudah dipesan. Sampai satu jam kemudian keduanya tampak memasuki mobil mereka masing-masing.
Mobil yang dikendari Dave, kini sudah memasuki kawasan perumahannya, mengendarai dengan pelan sesuai rambu-rambu yang di pasang.
Klek ...
Dia membuka pintu bagasi mobilnya ketika sudah memarkirkan mobil di halaman rumahnya. Masuk ke dalam rumah sebentar, untuk menemui Mommy dan menyerahkan sedikit hasil kebunnya pada sang Mommy tercinta.
"Kamu bawa buat Kiyara juga Dave?" tanya Mommy.
"Iya, Mom ... aku juga bawa buat Kiyara. Ini mau bersih-bersih sebentar terus aku anter sana deh. Mommy, mau ikut? barangkali mau liat anaknya Bang Dafa."
"Boleh, sana cepetan bebersihnya."
***
Mungkin benar apa kata orang di luaran sana, saudara bisa jadi musuh dan orang lain bisa jadi saudara karena uang dan kenyamanan. And see, semua terjadi pada kehidupannya. Perih karena penghianatan saudara sepupunya sendiri terobti oleh kebaikkan keluarga Alana, yang mungkin sebentar lagi akan segera menjadi besannya, semoga saja.
Sampai detik ini doanya selalu sama, jangan sampai dia meninggalkan anak satu-satunya dalam keadaan masih sendiri. Biarlah dia berjuang sedikit lagi untuk anak tersayngnya yang oernah tidak sengaja di lukai hatinya karena kesalahan masa lalu, lebih memilih mengejar suaminya demi kata keluarga utuh tanpa tahu esensi di dalamnya.
"Mommy, kenapa kok diem aja?" tanya Kiyara yang sudah mendudukkan tubuhny di samping Ibu Kekasihnya itu.
Tangan tuanya menggapai tangan Kiyara, mengelus punggung tangannya seolah menghantarkan apa yang ia rasa.
"Mommy senang, bisa melihat anak Mommy dikelilingi orang-orang baik ... terutama bisa di sayang Ayah dan Bundamu Nak, semoga dia merasakan kasih sayang dari kedua orang yang sudah dianggapnya orang tua sendiri itu, karena Mommy tak bisa memberikan kebahagiaan keluarga secara utuh untuk Dave."
"Mommy, jangan seperti itu ... Mommy adalah sumber kebahagiaan dari Kak Dave ..."
Dia tersenyum lembut sembari mengusap pipi chubby gadis muda di sampingnya itu.
"Apa jika Mommy melamarkanmu untuk Dave dalam waktu dekat kamu akan menerimanya Nak?"
.
.
.
Hai-hai, balik lagi sama Author maaf kemarin ngga up ya ...