Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Usaha


AUTHOR POV


.


.


Semenjak hari di mana  Daddy Dave mengunjungi rumah Kiyara, hampir setiap minggu lelaki paruh baya itu mengunjungi rumah Kiyara, hanya untuk mengorek informasi mengenai anak dan mantan istrinya saja, seolah dia tahu bahwa keluarga Kiyara mengetahui keberadaan orang yang ia cari selama ini.


Dan tentu saja hal ini membuat Dave semakin geram, melihat tingkah Daddynya yang seolah-olah mengintimidasikeluarga Kiyara. Mmebuatnya mau tak mau harus menghadapi Daddynya agar tak lagi mendatangi rumah Kiyara.


"Menurut Bang Dafa aku harus bagaimana?" tanya Dave pada Dafa, mereka kini tengah duduk bersama di gazebo belakang rumahKiyara, sembari menikmati secangkir kopi dan sepiring cireng buatan Kiyara.


"Tapi, sebelumnya apa kamu sudah putuskan? tentang apa yang pernah ditanyakan Momy?"


"Nah itu Bang permasalahannya, di satu sisi aku tak mau jadi anak yang egois tapi di satu sisi bisadikatakan aku ini trauma dengan kisah kedua orang tuaku."


"Yakinkan hatimu dahulu, tapi untuk Mommy menurutku beliau sangat menerima segala keputusanmu tak akan jadi masalah meski kamu menolak kembali kehadiran Uncle Jeff."


Dave terdiam memikirkan sejenak hal yang beberapa hari ini menganggu pikirannya, kemudian tersenyum tipis.


"Iya, Bang ... sepertinya  aku sudah menemukan keputusan yang harus aku ambil, terima kasih ya," ucap     Dave, tulus.


Dafa menepuk pundak Dave, beberapa kali. " Semoga keputusanmu adalah keputusan yang tepat, Dave."


***


"Kiyara tolong antar ini ke rumahnya Mommy ya," ucap Bunda Alana ketika melihat anakgadisnya menuruni tangga.


"Iya, Bun," jawab Kiyara sembari menerima uluran rantang yang dia terima dari Bundanya.


Gadis itu langsung pergi menuju rumah yang berada di seberang rumahnya, berjalan dengan membawa rantang juga gawai dalam genggamannya.


"Assalamu'alaikum Mommy ..."


"Wa'alaikumsalam, masuk sayang Mommy ada di ruang tengah," jawab Mommy Dave dengan berteriak, mwmbuat Kiyara lansung masuk ke dalam rumah.


"Mom ini ada makanan dari Bunda."


"Wah, terima kasih sayang. tapi kena-a repot-repot di antar, bukannya Dave ada di sana?"


"Kak Dave, masih ngobrolsaa Kak Dafa Mom, jadi aku anter aja dulu makanannya barangkali Mommy belum sarapan."


Mommy Dave, tersenyum mendengar jawaban dari Kiyara. Rasa-rasanya dia ingin segera membuat Kiyara menjadi anak menantunya, agar setiap hari ada yang memerhatikan dan menemaninya di masa tuanya ini, apalagi jika bertambah dengan cucu-cucu menggemaskan akan tambah menyenangkan, pikirnya.


“Mommy, tadi sudah sarapan sama surabi dan gorengan, tapi kalau kamu mau nemenin Mommy makan ini Mommy mau sarapan lagi, kan belum makan nasi Mommynya,” jawab Mommy Dave.


Kiyara, tersenyum lebar mendengar penuturan Mommy Dave, kebetulan sekali, pikirnya. Karena ia pun belum sarapan apapun pagi ini, terlalu sibuk dengan laporan cafenya. Bahkan ia baru keluar kamar sewaktu dipanggil  Bundanya untuk kesekiankalinya.


“Boleh, Mom … ayo Kiyara temani sarapan.”


Mereka berdua sarapan bersama di taman belakang rumah Dave, diselingi dengan obrolan dan canda tawa layaknya seorang Ibu bersama dengan anaknya. Membuat orang yang baru datang tersenyum cerah melihat pemandangan di depan matanya. Membuatnya semakin yakin dengan perasaan yang selama ini ia pendam sendirian, masih mencari keyakinan terdalam atas apa yang ia rasa itu.


“Mommy, tahu? Itu pengalaman pertama Kiyara punya uang sendiri, rasanya Masya Allah sekali, Mom … dan dari situ Kiyara jadi kepikiran untuk punya usaha sendiri aja daripada kerja ikut orang, apalagi Kiyarakan perempuan ke depannya insyaAllah nanti akan ada suami dan anak jadi kalau punya kerjaan sendiri nggak kepikiran


“Betul, aduh umur kamu berapa sih Nak, pemikiran kamu masya Allah, bikin Mommy pingin jadiin anak aja,” ucap Mommy Dave, membuat Kiyara tertawa lebar mendengar penuturan Mommy Kakak kelasnya sewaktu SMA itu.


“2 tahun di bawah Kak Dave, kayaknya Mom, Kak Dave udah 25 kan ya Mom?”


“Iya, Dave baru 25 tahun 2 bulan kemarin, berarti kamu 23?” tanya Mommy.


“Baru mau 23 tahun Mom, 3 bulan lagi.”


“Wah, sebentar lagi ulang tahun dong anak Mommy ini.”


Kiyara tersenyum, menanggapi ucapan Mommy Dave. Dia senang bertemu orang seperti Mommy


Dave seperti ini, orangnya ramai tapi tak pernah menyinggung hati, malah selalu bisa menjadi teman berbicara yang baik dan enak.


“Ehem … ngobrol apa nih, seru banget.”


“Eh, Dave … sini-sini duduk. Kita lagi ngobrol masalah perempuan ya Sayang,” ucap Mommy dan diangguki oleh Kiyara.


“Masalah perempuan nih, tapi kok kayak yang denger nama aku disebut-sebut?” goda Dave, yang sebetulnya dari tadi mendengar percakapan mereka meski tidak semua.


“Apaan, enggak ada yang nyebut-nyebut nama kamu ya kan Ki?”


“Iya, nggak ada ya Mom, hehehe.”


Dave, tersenyum cerah melihat kekompakkan dua wanita di hadapannya ini.


“Iya, deh iya …”


“Mommy, masuk dulu ya bawa piring kotor dulu, Kiyara di sini  aja dulu nanti Mommy ke sini lagi, Dave temani Kiyara dulu ya,” ucap Mommy sembari berlalu membawa piring kotor.


“Mom, biar Kiyara aja yang bawa piringnya, Mommy yang di sini aja,” ucap Kiyara.


“Udah nggak apa-apa biar Mommy aja yang bawa sekalian Mommy mau ambil hp.”


Kiyara, hanya bisa mengangguk pasrah ketika melihat Mommy Dave semakin menjauh dari tempatnya duduk saat ini, meninggalkannya bersama seorang lelaki yang telah lama ia kagumi dalam diam.


“Gimana café?” tanya Dave.


“Alhamdulillah, lancar dan rame Kak … Usaha Kakak sendiri gimana?”


“Alhamdulillah, lancar juga. Oh, iya Ki … boleh Kakak ngobrol serius?”


Kiyara, mengernyitkan dahinya heran, karena tak biasanya Dave meminta izin terlebih dahulu saat akan mengobrol bersamanya seperti ini.


“Boleh, Kak … silakan aja.”


“Kamu mau jadi ke---“


“Dave, ini sarapan dulu.”


“Mommy …” teriak Dave dalam hati, karena rencananya di gagalkan oleh Mommynya sendiri.