Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Partner Membully


AUTHOR POV


Suara lantunan ayat suci terdengar begitu merdu, menemani jumat sore yang perlahan akan berganti dengan malam kala sang senja meredup diganti pekatnya langit malam. Katanya banyak berdoa di waktu sore di hari jumat adalah waktu yang mustajab agar doa segera diijabah oleh Sang Kholik, begitupun dengan apa yang dilakukan oleh pasangan suami istri yang sebentar lagi akan segera menjadi orang tua bagi ketiga anaknya. Hari ini, adalah tepat 4 bulan usia kandungan Kiyara, meski baru masuk tri semester kedua tapi besar perutnya sudah seperti orang yang masuk tri semester terakhir saja.


“Makasih, Tante … semoga adek bayi tiga-tiganya selalu sehat dan di Sayang sama Allah,” ucap salah seorang gadis kecil setelah mendapat amplop dan bingkisan yang berisi jajanan untuk anak yatim piatu yang diundang oleh keluarga Dave dan Kiyara untuk menyemarakkan acara empat bulanan, selain dari grup jemaah yasin yang sebulan sekali rutin dilakkan di masjid kompleks.


“Aamiin, terima kasih Sayang, kamu juga semoga selalu diberkahi kesehatan dan kebaikkan oleh Allah S.W.T,” balas Kiyara sembari mengulurkan tangannya mengusap pucuk kepala gadis imut itu.


“Aaamiin … terima kasih Tante, apa boleh Ala pegang peyut Tante?” tanyanya, ternyata gadis kecil itu masih cadel, belum bisa menyebut huruf r dengan benar.


“Boleh, sini peganglah Nak,” ucap Kiyara sembari membawa tangan  mungil Ara ke atas perutnya.


“Wah, peyut Tante besaalll sekali …” ucapnya takjub.


Kiyara, membalasnya sembari tersenyum lembut, perlahan satu persatu tamu undangannya pergi meninggalkan rumah menyisakan keluarga dan sahabat dekatnya saja dan satu teman suaminya semasa SMA dulu teman yang secara tidak langsung memberi tahu sosok Kiyara pada seoarang anak broken home seperti Dave remaja.


Flashback On


Hari senin yang dinanti-nanti itu tiba, bagi panitia masa orientasi siswa baru merupakan hal yang paling menyenangkan selain bisa menunjukkan kekuasaan sebagai senior, mereka juga bisa lebih mudah untuk mengincar adik kelas yang bisa menjadi target perjalanan cintanya atau bisa juga seperti pria blasteran Jerman yang berniat mengincar adik tingkat untuk dijadikan korban bullying berikutnya.


Warna bola mata yang berbeda dengan kebanyakan orang lainnya, membuat keberadaannya menjadi pusat perhatian … terlebih parasnya yang tampan juga badannya yang jauh lebih terlihat seperti pria matang, tinggi, tegap, cenderung kekar untuk usia anak SMA, membuat mata-mata polos anak lulusan SMP tergoda untuk selalu menatapnya lekat.


“Dave, lu tahu nama yang kemarin kita incer Veronica Ningtyas … yang kita pikir cantik banget karena namanya … lihat deh tuh bocah.” Jari Rendi mengarah pada perepuan yang sedang berdiri di tengah lapangan bersama dua orang lainnya, mata Dave langsung mengikuti arah yang ditunjuk, dan seketika itu dia reflek menepuk bahu Rendi sedikit bertenaga.


“Dah gede banget mana item lagi. Sialan lu … !”


“Hahaha … lu tau salah satu dari adik kelas kita, ada yang sewaktu SMPnya terkenal pinter banget yang menang OSN-Biologi ngewakilin Indonesia, tapi sayang dulu pas SMP pernah jadi korban bullying juga, katanya sih badannya gede.”


“Mana gue tau, gue denger gosip aja sumbernya dari lu.”


“Hahaha … dasar lu bule dodol, mangkannya ini gue cerita sama elu. Nah … tu-tuh … aslinya nggak gede-gede banget sih Kiyara, cuman semenjak kena bullying dia jadi insecure banget, ngerasa dirinya paling gede.”


Dave, yang penasaran dengan gadis pintar tapi, juga terkena bullying pun melihat arah yang di tunjuk temannya. Lalu seringai jahil pun tersemat di bibir tipisnya, ketika melihat gestur tubuh Kiyara.


“Wajahnya sempurna, hanya badannya aja yang kurang sexy … eh bukan kurang sexy, emang nggak ada sexy-sexynya sama sekali ding,” monolognya dalam hati.


“Nah … itu korban gue selanjutnya.” Rendi menggeleng sebal, semua yang dilihat oleh mata Dave merupakan the next korban mulut bon cabenya.


“Sebentar lu disini aja dulu.” Dave, melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kiyara dan tanpa aba-aba badan tegapnya itu langsung menyenggol tubuh Kiyara keras dan …


“Eh, gendut kalau jalan liat-liat dong!”


Flashback off


“Gue kira nggak bakal ketemu lu lagi Dave,” ucap Rendi sembari memberi pukulan kecil pada bahu temannya yang suka bully sewaktu SMA dan entah bagaimana bisa malah berjodoh dengan korban bullynya sendiri.


“Ha ha ha, harusnya gua yang bilang gituh ke elo … semenjak lulus SMA nomor lu nggak pernah aktif lagi, media sosial lu juga udah nggak aktif, gue kira lu mati di mana, kenapa nggak ada kabarnya sama sekali,” jawab Dave.


“Sorry, kayak nggak tau bokap gue aja, dia mutus semua kontak temen-temen gue dan ngasingin gue di LN, katanya biar gue fokus kuliah.”


“Ha ha ha, diasingin kok di LN … ya ke pedaleman kek biar lu jadi orang pecinta lingkungan sejati. Sini lu gue kenalin sama keluarga gue sama keluarga istri gue,” ajak Dave lalu berkeliling mengenalkan partner membully saat SMA dulu dan terakhir mengenalkannya pada sang istri yang masih sibuk mengobrol dengan teman-temannya.


Dari jauh Dave dapat melihat sang istri, yang pipinya tampak lebih tirus dari terakhir kali dia melihatnya saat di Jerman, ternyata kehamilan kembar tiga membuat bobot tubuh sang istri naik karena anak-anaknya yang semakin besar tapi sang ibu seperti mengalami penurunan berat badan jika dilihat dari bentuk pipinya yang tak seberapa chubby lagi tapi dua aset kembarnya semakin berisi begitupun dengan perut dan bokonggnya yang tampak lebih segar dari buah semangka.


“Sayang, ini temanku SMA dulu Kakak kelasmu juga,” ucap Dave.


“Ah, ini Kak Rendi bukan? Partenr bullynya Mas Dave waktu SMA dulu,” ucap Kiyara sembari memperhatikan lekat wajah lelaki yang berdiri di samping suaminya itu.


Rendi yang diingat sebagai partner bully temannya itu pun hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“He he he he, iya … itu aku,” jawab Rendi dengan tergagap.


“Kemana aja, Kak … kasihan ini suamiku temennya di sini nggak ada yang klop katanya hehehe, ada temen baik tapi pada di luar negeri semua, sini Kak kenalin ini sahabat-sahabat aku,” ucap Kiyara dengan ramah mengenalkan satu persatu sahabatnya.


“Ha ha ha, untung ketemu yang sama-sama jomlo lu Cak, biar  nggak kacang,” ucap Edo yang sedari tadi membully Cakra yang datang tanpa pasangan ke acara empat bulanan Kiyara.


“Dasar sahabat laknat,” ucap Cakra.


“Tuh, ada sepupu gue cewek pada cantik satunya seumuran Kiyara yang satu masih 21 tahun,  kuliah di Jakun,” sahut Dafa yang baru saja ikut duduk di tempat kawanan Kiyara.


“Serius, Kak boleh tuh sepupunya buat kita-kita?” tanya Cakra dan diangguki oleh Rendi.


“Cantik-cantik begitu anaknya Tante Fani sama Om Bagas,” sambung Cakra lagi.


“Heum, tapi kalau mereka pada mau sama lu-lu pade, ha ha ha ha,” ucap Dafa sembari berlalu pergi menuju sang istri, meninggalkan kedua jomlo yang masih termenung memikirkan gebetan.