Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Saudara se-Ayah (1)


Dafa menggelengkan kepalanya sembari tersenyum puas, ternyata adiknya yang satu ini memang sangat menyayanginya sampai-sampai takut jika rasa kasih sayang darinya bakal berkurang. “Enggak, nggak bakal sayangnya Kakak ke kamu terkikis karena Kakak punya dua Adek selain kamu … dan siapa bilang kita beda Ibu? Kita satu Ibu dan itu Bunda Alana. Hanya satu Bunda buatku, Bunda yang membawaku keluar dari panti asuhan lalu memberiku kasih sayang dengan tulus memberiku banyak hal bahkan memberiku Adik yang lucu dan menggemaskan seperti yang duduk di sampingku ini tanpa pernah membeda-bedakan anak kandung atau bukan.”


Kiyara membolakan matanya. “Ka-Kakak dari panti? Kakak bukannya anak Ayah dan Mamanya Kak Dafa yang lagi sakit? Kata Bunda dan Ayah, begitu.”


Dafa, menganggukkan kepalanya … bersyukur karena kedua orang tuanya memenuhi janji untuk tidak menceritakan yang sebenarnya kepada Kiyara, memilih menunggu sampai dirinya sendiri sudah siap menceritakan kepada Kiyara secara langsung, bagaimana pun juga ini tentangnya dan sang adik yang tak se-ibu. “Kakak, mau cerita boleh?”


Kiyara menganggukkan kepalanya seraya mengusap air mata yang sedari tadi masih terus mengalir dari sudut matanya.


“Dulu, sewaktu Kakak masih bayi … kakak di buang oleh Ibu kandung Kakak yang sekarang lagi sakit itu. Dari bayi sampai usia Kakak mau 3 tahun, Kakak hidup di panti asuhan … kata Bunda, Bunda selalu datang hampir setiap hari untuk melihat Kakak, waktu itu Bunda belum menikah dengan Ayah malah belum pernah bertemu dengan Ayah. Sampai pada satu hari, Ayah, Bunda, dan Kakak bertemu di panti yang membuat kita saling bertaut sampai beberapa minggu kemudian Bunda berhasil mengadopsi Kakak, entah bagaimana caranya Bunda bisa mengadopsi Kakak padaha Bunda belum menikah saat itu, semenjak pertemuan kami bertiga kala itu Ayah sering datang berkunjung ke rumah Bunda yang di Jakarta.”


“Kakak, kok bisa sih Mama Kakak kayak gituh. Tapi, kenapa Ayah jadi sering nemuin Kakak dan Bunda? Ayah, ngapelin Bunda Kak? Ayah cinta pada pandang pertama sama Bunda?” potong Kiyara.


“Enggak, waktu itu Ayah merasa ada ikatan batin yang kuat antara Kakak dan Ayah, sehingga Ayah mau memastikan semuanya dengan tes DNA, bahwa Kakak adalah anak Ayah yang dibawa pergi oleh mantan istri Ayah. Beruntungnya Kakak saat itu bertemu dengan Bunda lalu dipertemukan juga dengan Ayah kandung Kakak. Meskipun ada kekecewaan yang besar kepada ibu kandung Kakak, tapi Kakak bersyukur masih banyak orang-orang baik yang sayang sama Kakak termasuk Bunda.”


“Kakak umur segitu udah inget kejadian sekompleks ini?”


Hati Kiyara seperti teriris sembilu, bagaimana bisa hal sebesar ini di tutupi semua orang dari dirinya. Mendengar kisah Kakaknya yang dibuang oleh ibu kandungnya membuat hatinya mendidih, semakin tak rela saja jika Kakaknya memilih untuk ikut tinggal dengan Ibu kandungnya, merawat wanita itu sampai sembuh.


.


.


.


.


Selamat membaca semua ...