
~Bukankah selalu ada alasan, dibalik setiap kejadian yang menimpa manusia? Alur kehidupan, rangkaian sebab-akibat, dan takdir, mungkin adalah jawaban dari itu~
Gadis gendut itu terlihat gelisah, yang katanya tadi lapar sekali, ketika kini disuguhi makanan enak tak kunjung di makan dengan lahap, pikirannya masih saja mencoba menerka-nerka di mana orang tua dan saudaranya itu berada, ada hal apa ? kenapa seolah-olah di tutupi darinya, membuatnya berpikiran buruk … “Mungkin memang benar aku bukan anak kandung Ayah dan Bunda, sehingga ada hal yang membuat Kak Dafa sepanik itu aku tidak diberi tahu, malah menitipkanku kepada Kak Dave, bahkan tidak membalas chatku tapi malah membalas chat dari Kak Dave,” monolognya dalam hati.
Dave dan Mommynya, menatap iba pada gadis gendut itu … tadi datang dengan keadaan baik-baik saja, malah dengan senyuman manisnya meski terlihat kelelahan sekarang sudah terlihat segar tapi wajahnya meraut sedih.
“Jangan berpikiran buruk, Nak. Mungkin ada sanak saudara yang sakit atau ada hal penting lainnya yang tidak bisa melibatkan kamu karena takut mengganggu waktumu tadi sewaktu Diklat di Lembang, nanti sewaktu orang tuamu kembali pasti mereka akan bercerita semuanya, sekarang do’akan saja yang terbaik untuk semuanya,” ucap Mommy dengan mengelus pelan punggung tangan Kiyara, untung saja tadi dia sempat saling bertukar cerita dengan Kiyara, sehingga sedikit banyak tahu tentang kegiatan Kiyara lalu merangkainya sehingga seolah menjadi kalimat penenang untuk gadis gendut itu.
“Terima kasih Mom, maafin Kiyara ya, merusak acara makan malamnya Mommy dan Kak Dave dengan kesedihannya Kiyara.”
Dave, menggeleng pelan. “Jangan selalu menyalahkan diri sendiri, tidak ada yang salah di sini memang situasi dan kondisinya saja yang tidak mendukung. Sekarang, makan yang bener, jangan sampai sakit dan menambah pikiran orang tua!”
Kiyara, menundukkan kepalanya … merasa bersalah dan juga segan ketika mendengar ucapan Dave barusan, lalu mencoba makan dengan benar meski nafsu makannya sudah hilang entah kemana.
“Habis salat isya nanti ngaji dulu sama Mommy, biar pikirannya tenang, tidurnya nyenyak dan berkualitas biar besok saat bangun lebih fresh lagi,” ucap Mommy dengan lembut.
“Baik, Mom … terima kasih,” lirih Kiyara dan di balas anggukkan oleh wanita paruh baya itu.
Makan malam sudah selesai, kini ketiganya tengah duduk di ruang keluarga, menonton serial yang sedang naik daun kesukaan emak-emak zaman now … apalagi jika bukan serial ‘ikatan darah’, meski yang menonton hanya Mommy saja, karena kedua anak muda yang duduk di sisi kanan dan kirinya tengah sibuk berselancar dengan gawainya masing-masing.
“Ini, kenapa Kak Dafa bener-bener nggak balas chat aku sih … cuman ada chat dari Cakra dan grup mentor aja, belum lagi Ayah sama Bunda kenapa masih centang satu lagi … ya Allah lindungilah semua anggota keluarga hamba di mana pun mereka berada ya Allah …” lirih Kiyara dalam hati.
“Ki, kamu punya keluarga di Surabaya?” tanya Dave dengan raut muka yang serius.
“Iya … di sana ada Pakde Reza, kakaknya Bunda … eh … ya Allah … kenapa nggak terpikir buat menghubungi Pakde Reza atau Aunty Fani, mereka kan saudara Bunda dan Ayah satu-satunya,: ucap Kiyara sembari menepuk dahinya.
“Maksudnya saudara Bunda dan Ayah satu-satunya bagaimana, kan tadi ada dua nama yang kamu sebut?” tanya Dave.
“Pakde Reza kakanya Bunda sedangkan Aunty Fani adiknya Ayah … sebentar Kiyara izin ke teras depan buat menghubungi Pakde dan Aunty,” pamit Kiyara dan diangguki oleh keduanya.
\~\~Teras\~\~
Di teras rumah baru Dave, Kiyara terlihat mondar-mandir sembari menempelkan gawai di telinganya. Entah sudah panggilan ke berapa ketika menghubungi Pakdenya itu, sedangkan Auntynya sudah selesai bertukar kabar dengannya, memberi informasi bahwa Ayah dan Bundanya tidak datang ke Jakarta ataupun menghubungi Aunty Fani sama sekali. Harapan satu-satunya adalah Pakde Reza, Kakak dari Bundanya.
“Ah, iya menghubungi Mas Rio saja siapa tahu diangkat,” selorohnya ketika lagi-lagi otaknya itu terpikir sebuah ide.
Tut … tut … tut … .
“Assalamu’alaikum, Dek … ada apa ? tumben menghubungi Mas malam-malam?” tanya Rio, sepupunya dari Pakde Reza.
“Wa’alaikumsalam Mas, maaf mengganggu waktunya malam-malam seperti ini. Kiyara mau tanya, apa Ayah dan Bunda ada di rumah Pakde Reza?”
“Emh, kurang tahu Dek … Mas lagi di Malang ini, ada workshop 3 hari besok siang baru balik Surabaya lagi. Kenapa ndak tanya Papa aja langsung, kenapa telepon Mas?” tanya Rio dengan nada medog surabayaannya.
“Nomornya Pakde diluar jangkauan terus Mas, Kiyara coba chat nomor Wa-nya sudah centang dua tapi ndak dibalas-balas, coba telepon Wa juga tapi ngga diangkat-angkat. Jadinya terpikir buat telepon Mas, kirain Mas di rumah.”
“Oalah, yaudah habis ini aku bantu hubungi orang rumah. Eh sebentar, memangnya Ayah sama Bunda nggak pamit mau pergi kemana-mananya?” tanya Rio heran.
“Endak, Mas … malah ini Kiyara dititipin sama tetangga, mana kunci rumah di bawa sama Ayah, Bunda, dan Kak Dafa juga ikut pergi entah kemana ini.”
“Eh, beneran?”
“Iya, Mas … mangkannya ini Kiyara juga sebenernya khawatir sama Ayah, Bunda dan Kak Dafa … pada centang satu semua, tadi Kak Dafa sempet online tapi bukannya membalas chat Kiyara malah balas chatnya tetangga baru.”
“Eh si Dafa kebangetan bener, yaudah Mas tutup dulu, nanti Mas hubungi lagi. Kamu istirahat aja dulu … biar Mas bantu dari sini.”
“Iya, Mas … makasih banyak ya bantuannya … Assalamu’alaikum.”
“Huh … kemana sebenernya semua orang, kenapa mendadak menghilang semua?” monolognya, sembari menutup panggilan telepon. Mencoba mengatur napas dan menghirup oksigen sebanyak yang dia mampu, lalu duduk di atas kursi taman di halaman depan rumah Dave.
“Masuk gih, udah malem,” ujar Dave yang baru saja keluar dari pintu utama rumahnya.
“Sebentar, Kak. Aku masih ingin menikmati udara malam.”
“Nanti sakit, angin malam nggak baik untuk tubuh.”
Kiyara menundukkan pandangannya, mencoba tetap kuat di tengah rasa penasaran juga khawatir yang sangat tinggi. “Apa Kak Dafa benar-benar tidak memberi tahu mereka ada di mana?”
“Sedikit clue, sepertinya Kakak dan kedua orang tuamu sedang berada di daerah jawa timur. Kemungkinan terbesar ada di Surabaya,” jawab Dave dengan nada sedikit tidak yakin.
“Seriusan? Tapi kenapa tak mengajakku … Jawa Timur kan jauh, seharusnya aku di ajak … biar tidak sendirian di rumah.”
“Hei … sudah tahu jawa timur jauh malah ingin ikut, mungkin pikiran Ayah sama Bunda itu khawatir kamu kelelahan, kamukan habis sakit, terus ikut diklat baru pulang tadi sore, cuman besok aja kan libur sehari lusa kamu musti jadi mentor adek tingkat kamu. Musti di jaga kesehatannya, jangan terlalu berpikiran negative, pasti ada alasan kuat dibaliknya.”
“Kak Dave tahu sesuatu tentang keluargaku yang tidak aku ketahui? Selidiknya, sedari tadi pria bule itu seolah-olah selalu beralasan ada alasan kuat dibaliknya, membuatnya semakin penasaran.
“Eh, apaan sih … enggak lah, logika aja. Pikir sendiri,” ketus Dave, mencoba menutupi rasa khawatirnya.
Ting … (Gawai yang dipegang Dave berdenting, pertanda ada chat masuk).
From: Bang Dafa
Kamu ceritakaan yang kamu ketahui ke Kiyara, tak apa … tapi perlahan, jangan sampai membuatnya shock … aku
percaya padamu. Mamaku kritis, sekarang sudah di rujuk ke rumah sakit besar di Surabaya. Mohon doa untuk kesembuhan Mamaku, meski aku masih belum percaya dia Mamaku tapi ada sedikit rasa sakit melihatnya terbaring tak berdaya seperti ini. Terima kasih banyak, Le titip Kiyara …
“Astaga, kenapa bisa seperti ini. Kenapa musti aku yang bercerita tentang hal sensitive seperti ini?” katanya dalam hati, setelah melihat pesan dari Dafa.
“Kenapa Kak? Apa ada masalah?” tanya Kiyara yang melihat perubahan raut wajah pria yang kini sudah duduk di hadapannya itu.
Dave, menghembuskan napasnya kasar … serasa berat untuk mengatkan kebenarannya merasa ini bukan kuasanya untuk menceritakannya secara detail.
“Emh, tidak.” Dave, langsung mengalihkan pandangannya, memilih untuk menatap langit malam yang bertabur bintang.
“Ki …,” ucapnya.
“Ya?”
“Apa kamu masih penasaran kemana orang tuamu pergi?” Kiyara mengangguk antusias.
“Emh, tapi tadi kan Kakak bilang orang tuaku pergi ke daerah Jawa Timur? Tapi kalau menurut Mas Rio tadi di Surabaya tak ada hal genting apapun, bahkan Mas Rio saja ada di Malang, jika di Surabaya ada hal yang genting pastikan Mas Rio ada di Rumah,” ucap Kiyara.
“Ah, iya kamu benar memang yang genting bukan di rumah Mas Rio itu, tapi di rumah sakit. Mamanya Kak Dafa kritis,” ucap Dave.
“A-apa?”
.
.
.
Maaf telat update ... kemarin pulang dari bimbingan sore dan baru sampai rumah malam, jadi baru bisa update malam ini ... musti revisi skripsi dulu. Terima kasih ...