
KIYARA
Gadis yang sudah tak lagi gadis itu kini tengah berjalan menuju apartemenya sambil menggurutu tak jelas karena tingkah konyol Tama, yang semakin lama rasanya semakin tak masuk akal dipikirannya.
“Semakin tua semakin aneh saja sikapnya itu, dasar pria tua menyebalkan,” gerutunya, entahlah sudah beberapa hari ini dia merasakan mooddnya naik turun dan lebih berani dengan orang-orang yang menyakitinya, semacam memiliki keberanian lebih tapi kadang pikiran rasionalnya kembali muncul.
Dia memasuki apartemen dengan sandi yang ia sepakati bersama dengan suaminya, apartemen terlihat sepi dan sedikit gelap karena lampunya di matikan belum lagi gorden yang tertutup rapat menutupi cahaya matahari masuk ke dalam. "Sepinya …”
Kaki gendutnya melangkah menuju kamarnya bersama Dave, ingin membersihkan tubuhnya yang terasa lengket semua. “Nge-charge hp dulu aja kali ya, hpku tadi kan mati, terus berendam deh.”
Tanpa menyalakan hpnya terlebih dahulu, Kiyara langsung menuju kamar mandi untuk berendam, tanpa memperdulikan di tempat lain ada seseorang yang tengah mengkhawatirkannya.
“Pakai yang aroma apa ya enaknya? … emh, yang ini aja kali ya, bau mawar kayaknya bisa buat menenagkan pikiranku juga,” ucapnya sembari menuang isi botol yang bergambar kelopak mawar berhamburan.
“Hemmm, harumnya …,” ucap Kiyara sembari mengendus aroma mawar yang berterbangan mengetuk indra penciumannya.
Melepas jubah mandinya dengan sepenuh hati lalu merebahkan badan sintalnya ke dalam bathup, ah rasanya nyaman sekali, dan seketika itu juga pikirannya jauh lebih tenang.
“Kenapa ya, beberapa hari ini aku moodyan banget mana banyak banget cobaanku, Ya Allah Gusti …” keluhnya sembari menggosok tangannya perlahan.
“Ah, mungkin ini karena akan masuk waktunya mens,” gerutunya lagi, kemudian dia kembali fokus dengan kesenangannya sendiri, merilekskan tubuh dan pikirannya sejenak.
**
DAVE
Dia masih sibuk dengan pemikirannya sendiri karena hampir dua jam berlalu, sang istri masih belum kembali ke rumah sakit padahal kata Mommynya Kiyara sudah lama pergi tapi sejak keluar dari apartemen sampai ke ruang rawat Mommynya dia belum bertemu dengan istrinya sama sekali, pikiran buruk mulai menghantuinya, khawatir sang istri sedang dalam situasi yang buruk.
“Kamu, coba cek ke apartemen dulu … dari tadi kamu telepon nggak bisa kan?”
“Mommy, akan baik-baik saja di sini … kalau ada apa-apa juga Mommy bisa minta tolong pada Suster di sini lewat ini,” ucap Mommy dengan menunjuk tombol darurat.
Dave, tersenyum lalu mengecup punggung tangan Mommynya dengan sepenuh hati. “Thank you, Mom … Dave akan segera kembali, semoga Kiyara ada di apartemen ya Mom,” ucapnya lalu berdiri dan segera keluar dari ruang rawat Mommynya.
“Semoga, cepat selesai permasalahan kalian, Nak … Mommy tahu kalian sedang tidak baik-baik saja,” kata Mommy saat melihat pintu ruang rawatnya tertutup pelan.
Dave, berlari menuju lift rumah sakit setelah sampai di lantai satu dia segera berlari sekencang yang dia bisa menuju apartemenya, menghiraukan tatapan aneh orang-orang yang dia lalui. “Semoga kamu ada di apartemen, Ki …”
10 menit berlalu, kini Dave sudah berada di dalam apartemennya sembari berteriak memanggil nama istrinya dengan napas yang naik turun. Satu tujuan utamanya adalah kamar mereka.
Klek …
“Kiyara, Sayang … kamu di mana?” teriaknya lagi saat melihat kamarnya kosong.
“Ki … Sayang …”
Kaki jenjangnya melangkah menuju kamar mandi.
Klek …
.
.
Nanti sore kita lanjut lagi ya, see you …