Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Mau Serabi Oncom


KIYARA POV


Oekk … oek … oek …


“Emh … jam berapa ini?” gumamku sembari menggeliatkan badan lalu meraih hpku yang berada di atas nakas, jarum pendek baru menunjukkan pukul setengah 4 pagi tapi suara tangis El, sudah terdengar sangat nyaring, suara tangis bayi yang teramat aku rindu.


Aku menolehkan kepalaku ke arah samping, lalu tersenyum semanis mungkin ketika melihat suami tercintaku masih lelap dalam tidurnya. Perlahan aku menyampingkan badan, tidur miring ke arah suamiku, lalu kembali fokus melihat ciptaan Allah yang begitu sempurna bagiku, rambut lurus yang sedikit berantakan, mata dengan bola mata berwarna biru yang masih terpejam rapat, alis yang tebal, bulu mata yang aduhai, hidung mancung seperti bule pada umumnya, rahang tegas yang ditumbuhi bulu-bulu pendek, kulit yang putih tapi alhamdulillah masih putih aku, hihihi … setidaknya masih ada yang bisa aku banggakan. Rasanya masih saja seperti mimpi, ketika terbangun di pagi hari dan mendapati lelaki tampan ini yang berbaring di sebelahku, kadang memeluk pinggangku, kadang tanganny ada di dadaku, kadang kakinya menimpa kakiku, dan berbagai macam gayanya tidur membuatku kadang tersenyum sendiri.


“terima kasih, sudah mau berjuang untuk meyakinkanku,” ucapku sembari mengusap lembut pipi suamiku itu, lalu dengan gerakkan pelan aku mencoba mencium bibirnya yang terlihat begitu sexy ketika sedikit terbuka seperti ini.


Cup …


“Emh, Sayang …” gumamnya dengan suara seraknya.


“Mas, bangun dong … aku mau itu,” ucapku.


“Mau apa?”


“Mau itu tuh.”


“Itu apa, Sayang?” tanyanya gemas sembari menarik tubuhku merapat ke tubuh kekarnya.


“Mau ini?” tanyanya sembari menuntun tanganku ke arah pusakanya, sudah biasa bagiku menerima hal semacam ini dari suami mesumku ini, meski awal-awal dulu aku teramat sangat kaku dan malu, terlebih saat dia melihatku dalam keadaan polos, belutku ada dua, belum lagi lemak-lemak pahaku yang besar ini, astaga … kadang aku masih ngerasa aneh aja pria setampan dia bisa menerimaku apa adanya.


“Bukan itu atuh, Mas … aku pingin makan surabi oncom habis subuhan,” jawabku sembari menarik tanganku yang kini tepat berada di atas pusakanya yang menegang.


“Ish, kamu ngerjain aku. Tapi aku mau,” ucapnya sembari membuka matanya dan lanngsung menciumiiku dengan rakus.


“Emmh … Mas ih, kita belum sikat gigi bahkan belum cuci muka,” ucapku sembari menutup wajahku dengan tangan.


“Nggak apa-apa, ayo aku udah nanggung … kamu di atas,” ucapnya, astaga apa suamiku ini tak merasa berat saat aku harus naik di atasnya.


“Aku berat,” jawabku.


“Tidak, ayolah …” dan akhirnya aku pasrah.


Beberapa menit berlalu, kami sudah selesai … benar-benar expres dan pas bebarengan dengan suara adzan subuh berkumandang.


“Mandi bareng,” ucap suamiku setelah mencabut miliknya dan tanpa aba-aba langsung menggendongku ke arah kamar mandi dan ya lagi-lagi mandi yang bukan sekadar mandi lagi.


Seusai mandi bersama kami salat berjamaah seperti biasanya saat di Singapura … tapi kemungkinan ke depannya Mas Dave akan kembali salat di masjid bersama Ayah dan juga Kak Dafa.


“Assalamu’alaikum warahmatullah …”


“Assalamu’alaikum warahmatullah …”


“Alhamdulilah …”


“Subhanallah …”


Seperti biasa Mas Dave selalu mengakhiri kegiatan salat kami dengan dzikir dan do’a-do’a, untuk kebaikkan diri, keluarga, dan harapan-harapan kami kelak, katanya kami harus mengawal semuanya dengan doa agar ikhtiar yang dilakukan jauh lebih berkah di depan sana nanti, dan semua itu persis seperti petuah Ayah padaku.


“Sini,” ucapnya sembari merentangkan tangannya dan tanpa segan lagi aku langsung msuk ke dalam dekapan hangatnya, sembari memegang tangannya untuk aku cium punggung tangannya.


“Mas, mau ngobrol sama kamu tapi sedikit sensitif, janji jangan nangis ya,” ucapnya membuatku deg-degan saja.


“Apa memangnya Mas?” tanyaku sembari semakin mengeratkan pelukkan.


“Kamu kan sudah satu bulan lebih nggak haid, mood kamu sering naik turun belakangan ini, sensitif juga, meski badan kamu sehat-sehat saja belum mengalami tanda-tanda hamil, tapi kamu mau ya buat test pack, Mas khawatir,” ucapnya sembari menciumi pucuk kepalaku dengan lembut.


“Emh, aku mau saja Mas, tapi aku takut mengecewakan kalian seumpama aku belum mengandung seperti yang Mas curigai,” kataku sembari memejamkan mata, memang akhir-akhir ini aku merasa moody dan sensitif sekali meski aku merasa itu adalah tanda-tanda mau PMS tapi mungkin tak ada salahnya juga jika aku mengeceknya.


“Kalu masih belum garis dua, berarti kita usaha lagi lebih sering, Sayang … semua pasti ada hikmahnya, tapi Mas yakin kayaknya di sini sudah ada benih Mas yang tumbuh,” ucapnya sembari membelai lembut perutku yang tak rata.


“Ya sudah, kita beli surabi oncom dulu pulangnya kita cari apotik yang buka 24 jam, untuk membeli test pack, bagaimana?”


Dan, tanpa menjawab pertanyaanku Mas Dave dengan semangat membawaku ke atas kasur lalu melepas mukenahku dan mengambilkan gamis rumahan lengkap dengan kerudungnya untuk aku pakai ke luar rumah sementara dia hanya mengambil jaket.


“Ayo, Sayang,” katanya dengan semangat dan senyuman yang mengembang sempurna, membuat jantungku semakin berdegup kencang saja, takut mengecewakan kesenangannya.


Di lantai bawah keadaan rumah masih sepi, Ayah dan Kak Dafa pasti mash di masjid sementara Bunda dan Teh Asti pasti lagi sama si kecil yang sudah bangun dari tadi dan Mommy kemungkinan


masih ada di dalam kamar tamu.


“Pamit dulu gih Yang, daripada nanti d cariin,” kata Mas Dave, emh betul juga sih.


“Ya udah, Mas panasin motor dulu gih aku mau ke kamarnya El,” saranku.


Suamike menganggukkan kepalanya dan langsung bergegas menuju tempat kunci kendaraan di gantungkan, sementara aku berjalan menuju ke kamar El, yang ada di lantai satu ini.


Klek …


“Assalamu’alaikum, Bunda …” sapaku saat setelah membuka pintu kamar, terlihat jelas di sana ada El yang tengah meminum susunya bersama dengan Bunda dan Teh Asti yang sedang mengobrol.


“Wa’alaikum salam,” jawab Bunda dan Teh Asti berbarengan, membuatku tersenyum.


“Bun, aku mau izin keluar sama Mas Dave, mau beli serabi oncom di depan perumahan, Bunda sama Teteh mau titip apa?”


“Bubur ayam, Teteh meni laper dari tadi ge,” jawab Teh Asti dengan semangat, membuatku dan Bunda terkekeh, maklum Ibu menyusui rentan merasa lapar, padahal Bunda dan Kak Dafa sudah menyetok makanan di kulkas kecil di dalam kamarnya.


“Hehehe, siap-siap … aku beli bubur ayam buat sarapan sama serabi buat tambahan mengenyangkannya ya, mau serabi yang manis juga apa beli yang gurih aja?” tanyaku lagi.


“Yang gurih aja, Nak tahu sendiri di sini kurang suka serabi manis,” jawab Bunda.


“Siap, Bun … Ara pamit dulu ya, dadah.”