Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Sabar dan Lebar


~Semua orang tumbuh dengan lukanya masing-masing, membiarkan waktu dan takdir berjalan beriringan. Mencipta tekad, barangkali di depan sana ada tangan yang terulur membantu membalut luka itu, lalu mencipta harap ‘sembuh’ ~


Meninggalkan keasyikan Ibu dan putrinya, di ruang keluarga empat pria dewasa itu masih sibuk membahas segala hal yang bisa dibahas, kadang terlihat bercanda, serius, bahkan sesekali nampak berdebat. Kedua tamunya tampak larut menikmati hangatnya suasana bercengkrama dengan keluarga Akbar, merasa seperti menjadi anak sendiri, tak lagi terlalu canggung seperti beberapa jam yang lalu.


“Kalian, lanjutkan obrolan kalian. Ayah, mau nemuin Bunda dulu.” Tak ada lagi sapaan Om atau Tante yang ada, Ayah dan Bunda, karena teman anaknya sama saja dengan anaknya.


“Baik, Yah,” jawab ketiga pemuda itu serempak, lalu saling pandang dan tergelak bersama.


“Kalian ini,” ucapnya sembari menggelengkan kepalanya dan terkekeh pelan.


Pria yang tak lagi muda tapi masih terlihat gagah, wibawa di wajah kalemnya tak pernah luntur meski waktu terus berlalu. Menaiki tangga menuju kamar putinya, karena dia yakin istrinya masih berada di sana.


Tok … tok … tok … .


Suara ketukkan pintu, membuat kedua wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi bergegas untuk membuka pintu kamar.


“Eh, Ayah … ada apa Yah? Nyari Bunda kah?” tanya Kiyara.


“Seratus untuk putri Ayah. Mana Bunda? Tidur kah?”


“Enggak kok, Yah. Masuk yuk,” ajak Kiyara.


Belum sempat menjawab ajakkan anaknya, wajah sang istri sudah tampak. “Ada apa Yah?”


“Emh, gini Bun. Bentar lagi kan jam makan siang, Ayah mau ambil ikan di belakang dulu, tadi belum sempet ke belakang keburu temen-temennya si Kakak dateng gituh. Nanti Bunda goreng ya, tadi Ayah juga minta Kiyara untuk metik selada buat lalapannya.”


“Oh, iya Yah. Kalau gituh Bunda ke dapur aja biar bikin bumbu buat ikan gorengnya sekarang sama nyiapin buat sambal terasi. Ayo, Kiyara ikut Bunda Nak, kita buat es mentimun dulu buat nemenin Ayah ngambil ikan di belakang.” Kiyara menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


“Nah, betul itu seger es mentimun … tambahin perasan jeruk lemon atau jeruk nipis dikit ya Bun.”


“Siap, Yah. Dafa nggak di ajak ke belakang?”


“Nanti aja, kalau dia nyariin Ayah, baru kasih tahu kalau lagi di belakang. Dafa masih ngobrol di bawah soalnya.”


***


“Bang, aku ke kamar mandi sebentar ya … ,” ucap Dave, meminta izin untuk pergi ke belakang, rasanya sudah dari tadi dia menahan pipis karena terlalu larut mengobrol dengan Ayah dari adik kelasnya sewaktu SMA itu.


Area dapur terpantau sepi, padahal dia memiliki niat terselubung dibalik rasa ‘kebeletnya’ itu, apalagi jika bukan menemui gadis gendut yang sempat menjadi korban bullyingnya sewaktu SMA dahulu. Rasanya ingin berbicara banyak pada gadis itu, mungkin diawali dengan meminta maaf lagi tetapi dengan suasanayang jauh lebih baik dan hanya ada mereka berdua, tentunya.


“Kemana, dia?” lirihnya, sembari menyusuri dapur, sampai suara lembut wanita menghentikan langkahnya.


“Kak Dave … ?” ucapnya.


Dave, membalikkan tubuh jangkungnya, menatap lekat wanita yang kini sedang berdiri di belakang tubuhnya, aroma bunga tiba-tiba memenuhi rongga hidungnya. “Eh, Kiyara … kenapa?”


Gadis itu tertawa kecil, pikirnya dia yang seharusnya bertanya tentang keberadaan laki-laki di hadapannya itu ‘kenapa bisa sampai di dapur?’ tapi urung dia lontarkan takut membuat tamunya tak enak hati. “Nggak kenapa-napa Kak, cuman mau bikin es mentimun buat Ayah di belakang.”


Dave, tampak menggaruk tengkuknya yang tak gatal … ternyata banyak waktu yang sudah terlewati, sehingga dirinya bisa melihat banyak perubahan dari gadis gendutnya itu … terutama cara berbicara yang tak secanggung dulu, serta tatapan yang bertambah teduh tak lagi terlihat sorot mata yang merasa rendah diri karena memiliki badan besar, dan ini malah membuatnya merasa sedikit canggung pada Kiyara. Pun ada rasa syukur yang terselip di sana, ketika ingatannya memutar pada kejadian beberapa jam yang lalu. Yaitu wajah yang benar-benar pucat, sorot mata penuh dengan kegelisahan saat mata bernetra coklat pekat milik Kiyara menatap sosok Tama, yang diyakini Dave, menaruh hati pada Kiyara.


“Oh … Ayah lagi ngapain di belakang?” tanyanya sembari menatap pintu belakang yang sedikit terbuka.


“Lagi ngambil ikan, entah itu Ayah mau mincing apa mau nyerok ikan.” Gadis itu kini sudah tak lagi berdiri di dekat Dave, melainkan membuka kulkas dan mengambil beberpa buah mentimun.


“Boleh aku ke sana?” tanyanya hati-hati.


“Boleh, ke sana aja,” Kiyara menjawabnya dengan tenang dan santai.


Dave, terlihat bingung … memikirkan dengan penuh pertimbangan, khawatir terlalu membawa-bawa luka lama, tapi dia tak ingin memiliki beban hati, apalagi jika Kiyara tahu kenyataan terbesar dibalik satu tahun terakhir kehidupan Kiyara di masa SMA-nya. Tapi untuk saat ini,mungkin membicarakan yang terlalu riskan untuk kesehatan Kiyara adalah hal yang lebih baik selebihnya akan dia lakukan secara bertahap, terpenting membangun keprcayaan terlebih dahulu.


“Ki, sorry. Maafin kelakukan gue waktu SMA ya … dan soal yang semalem, bukan salah Bang Dafa. Jangan marah sama Kakak lo, dia cerita sama gue karena gue ngga sengaja tau riwayat kesehatan lo, pas dulu gue abis kenak luka tusuk, beberapa kali control ditemani Bang Dafa ketemu dokter yang nanganin lo dulu, mereka saling cerita gue jadi pendengar yang baik waktu itu, terus semakin ke sini kalau lo ada masalah dengan trauma lo, Bang Dafa ceritanya sama gue,” jelas Dave, sembari menatap pungung Kiyara.


Tangan gempal itu masih setia memarut mentimun, tapi telinganya menangkap semua ucapan Dave. Mencipta hening karena setelah Dave selesai bicara, Kiyara masih tampak enggan untuk menanggapi.


“Ehm … ,” Kiyara berdehem, menetralkan semua rasa yang menyeruak di dalam hatinya.


“Ngga apa Kak, seperti Ayah bilang ‘ biarlah semua berlalu’ yang penting aku, Kakak, Bang Tama, bisa belajar dari masa lalu, mengambil hikmah dari apa yang sudah terlalui. Kalau tentang yang semalam, aku bukannya marah, sebelum tahu kalau Kak Dave ternyata tahunya dari dokter yang nangangin aku di rumah sakit, bukan dari


Kak Dafa. Awalnya cuman kecewa aja sih, tapi ternyata emang bukan Kak Dafa yang ngasih tahu Kak Dave duluan, malah jadi nggak enak sama Kak Dafa … dan terima kasih Kak Dave udah bilang yang sejujurnya sama aku, jadi aku nggak salah paham lagi sama Kak Dafa.”


Kiyara tersenyum lembut disusul senyum tampan Dave, pria blasteran yang sudah beberapa tahun ini tak pernah ia jumpai. “Terima kasih kembali, Ki.”


Hati Dave lega, setidaknya dia tahu satu hal bahwa Kiyara bukanlah wanita pendedam. “Dan apakah betul apa kata orang tua bilang? Kalau orang sabar badannya lebar?” ucapnya dalam hati.