Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Godaan


DAVE


.


.


Hari ini Dave, tidak kembali tidur setelah menunaikan salat subuh, pria itu lebih memilih memasak di dapur untuk nantinya ia bawa ke rumah sakit, mengajak Mommy dan istrinya sarapan bersama. Tangannya bergerak dengan lihai membersihkan sayuran  yang ia ambil dari kulkas, ada sawi sendok dan toge, sayuran yang wajib ada di dalam kulkasnya karena praktis mengolahnya, pikir Dave, padahal kenyataan hampir semua sayur sangat praktis dimasaknya tinggal tumis, jadi.


“Lebih baik, aku goreng tahunya dulu terus potong sawi dan bawang-bawangan untuk menumisnya,” ujar Dave sembari mulai menyalakan kompor yang di atasnya sudah ada penggorengan dengan minyak yang lumayan banyak untuk menggoreng tahu yang sudah ia iris dadu.


Mau di mana pun, asal belinya di supermarket terkenal apalagi masih di wilayah Asia Tenggara bahan makanan yang biasa di gunakan di Indonesia semuanya akan ada di rak supermarket untuk di jual, globalisasi dan modernisasi membuat dunia semakin dekat dan mudah di jangkau.


Suara penggorengan yang khas karena spatula yang beradu dengan wajan, membuat apartemen Dave tidak sehening semalam saat ia berada di dalamnya tanpa melakukan apapun selain memikirkan masa lalu dan masa depannya. Beberapa menit berlalu, masakkan pertama Dave sudah matang, tumis sawi, toge dan tahu yang dicampur jadi satu. Setelah di masukkan ke dalam kotak makan tanpa menutupnya, Dave kembali sibuk dengan kompor, menggoreng ayam ungkep yang selalu ada di dalam kulkas karena istri tercintanya itu selalu menyetok ayam ungkep lengkuas, karena kesibukkannya Kiyara selalu menyetok makanan siap goreng seperti ini agar memudahkan dia sendiri saat sibuk tapi tetap harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dalam melayani suami, ataupun memudahkan Dave, saat ditinggal Kiyara pergi seperti ini.


“Istriku, memang sangat pengertian semuanya sudah siap seperti ini … selain pintar membagi waktu dia juga sangat berpikir panjang, menyetok makanan seperti ini sangat memudahkan untuk para suami yang tidak pandai masak aneh-aneh dan sangat cocok untuk keluarga muda yang baru memiliki buah hati, semuanya terorganisisr dengan baik,” ucap Dave sembari membalik ayam gorengnya.


“Tapi, ngomong-ngomong … Kiyara, haidnya tanggal berapa ya … ini udah mau jalan sebulan aku sama dia nikah, semoga bablas deh nggak haid, semoga kecebongku langsung jadi di rahim Kiyara, aamiin.”


Dave, sibuk berceloteh sendiri … berbicara ini itu pada dirinya sendiri, sudah persis seperti emak-emak yang sedang berada di dapur.


“Aku, akan meminta maaf setulus mungkin pada Kiyara, setelah sarapan nanti lalu aku akan mengajaknya ke club untuk bertemu teman-temanku dan membicarakan semuanya pada mereka agar tak ada yang sakit hati dan kita masih bisa sejalan bersama mengembangakan semuanya jadi lebih baik lagi untuk kehidupan di dunia sampai akhirat nanti.”


“Dave,” teriak wanita muda yang kini berdiri di belakang Dave.


Dave, mengernyitkan dahinya mendengar suara yang tak asing baginya. Tapi, dia abai terus berjalan menuju rumah sakit.


Grep …


Lengannya di pegang oleh tangan yang lebih kecil darinya bahkan tangan itu kini sudah melingkar sempurna di lengan Dave.


“Lepas!”


“Tidak akan sampai kamu cerita apa yang sebenarnya terjadi, sampai-sampai kamu bisa menikah dengan gadis kuno yang gendut itu.”


Wajah, Dave memerah … mendengar Novi, menyebut istri tercintanya dengan sebutan gadis kuno yang gendut.


“Jangan memancingku, Nov! Kamu tahu betul jika aku marah seperti apa,” ucap Dave.


“Aku bukan memancing amarahmu, Baby … tapi aku akan memancing yang lain yang ada pada dirimu … aku tahu si gendut itu pasti tidak bisa mengimbangimu, ya kan … sekarang lebih baik ikut aku ke apartemenku atau kau mau kita melakukannya di club milikmu?” ucap Novi dengan tangannya yang sudah bergerak liar di dada bidang Dave.


Dave, tersenyum lalu …