
AUTHOR POV
Keempat orang itu kini tengah sarapan bersama, melupakan sejenak kejadian beberapa menit sebelumnya, mencoba menikmati makanan dengan suasana hati yang baik. Hanya dentingan sendok yang terdengar menemani acara sarapan itu, sampai beberapa menit kemudian suara dering telepon mengalihkan semuanya. “Maaf, Bunda telepon … Ara permisi dulu, Dad, Mom, Mas.”
Untung saja makanan yang ada di piringnya sudah habis, jika tidak pasti akan tak di beri izin oleh suami posesifnya itu. “Iya, di kamar aja nanti aku nyusul,” ucap Dave, sementara Mommy dan Daddynya hanya menganggukkan kepalanya saja.
“Iya …”
Kiyara, sudah tak terlihat dari pandangan 3 pasang mata yang sedari tadi menatapnya, lelu hembusan napas terdengar dari mulut Dave, rasanya dia belum siap memperlihatkan lagi keretakkan keluarganya di depan sang istri, adu argumen dan saling keras kepala mempertahankan pendapatnya masing-masing, sesuatu kenangan yang sudah mengendap dalam otaknya bertahun-tahun lamanya.
“Mari kita ubah, jangan keras Dave … ah, tapi bukankah aku sudah berhasil mengontrol emosiku saat berbicaa dengan Daddy dulu di rumah Kiyara, tapi kok rasanya beda ketika lihat Mommy juga ada di ruang sama seperti ini,” ucapnya dalam hati, Dave … dia merasa sedikit emosi saat ini, mungkin karena kejadian tadi saat melihat Daddynya kembali merayu sang Mommy bahkan mendekapnya dari belakang, tapi bukankah dia sudah memberi izin Daddynya untuk berjuang kembali?
“Ah, siallll … mungkin karena aku terlalu takut Mommy akan jatuh sakit lagi, sehingga emosik kembali memuncak
saat melihat Daddy dan Mommy dalam satu ruang yang sama seperti ini dengan niat Daddy juga tentunya, aku khawatir Mommy akan kembali terluka. Astaghfirullah … kenapa jadi serba sensitif seperti ini,” sambungnya lagi dalam hati.
“Ehem …” dehem Dave menetralkan pikirannya sendiri.
“Bagaimana keadaan Uncle, Dad?” tanyanya.
“Sudah membaik mangkannya Daddy bisa ke sini, lagi pula sekarang ada sepupumu di sana yang merawatnya,” jawab Jeff setelah mendengak habis air putih di hadapannya.
“Syukurlah, lalu sekarang siapa yang meneruskan usaha keluarga Daddy jika Daddy kembali ke sini?” tanya Dave penasaran.
Mommy Dave, hanya memerhatikan pembicaraan Ayah dan Anak itu tanpa berniat menyela sedikit pun, meski tahu
jika mantan suaminya itu berbohong tentang mengelola perusahaan keluarganya tapi dia tak memiliki hak untuk berbicara terus terang di hadapan anaknya, biarkan mantan suaminya itu meluruskannya sendiri, pikirnya.
“Ya, di urus anak-anaknya Unclemu itu …”
“Oh, sudah Daddy alihkan lagi sama anak-anaknya Uncle?” ucap Dave dan diangguki oleh Daddynya.
“Hem, tanyakan saja,” jawab Jeff dengan santainya.
“Kenapa Daddy tidak mengambil hak waris Daddy dari Grandpa dan Grandma, kenapa semuanya jatuh pada Uncle?”
Deg …
Mommy Dave, tersenyum kecut … mungkin memang ini sudah waktunya, anaknya sudah dewasa dan akan berpikir jauh lebih dewasa tanpa mengedepankan emosi kosong belaka.
“Hah … Daddy rasa sudah saatnya kamu tahu tentang keluarga kita seutuhnya, maafkan Daddy sebelumnya, selama ini selaian Daddy suka menyakiti kamu secara tidak langsung, Daddy juga banyak memiliki rahasia padamu, Son. Sebetulnya Granpamu masih ada, dan yang sakit kemarin adalah Granpa mu bukan Unclemu, sebetulnya Daddy sudah lama di coret dari keluarga Daddy di Jerman sana, karena Daddy lebih memilih Mommymu dari pada mereka, Daddy jatuh cinta pada Mommy saat itu dan dalam pikiran Daddy hanya Mommymu, kami lalu memulai segalanya dari awal di negara ini, membangun usaha bersama, sampai kamu lahir baru kami pindah ke Bandung, membesarkanmu di sana di tempat asli Mommymu, puluhan tahun Daddy lost contact dengan keluarga Daddy khususnya Grandma dan Grandpamu, hanya Unclemu saja yang masih sering menghubungi Daddy,” ucap Jeff dengan nada bergetar menahan tangisnya, semakin tua rasanya hatinya itu makin rapuh sehingga sering membuatnya ingin menangis karena hal kecil sekali pun.
“You kidding, Dad. Lalu orang tua yang sering kita kunjungi saat aku kecil itu siapa? Bahkan Daddy menyuruhku
untuk memanggil mereka dengan sebutan Grandapa dan Grandma, Daddy mengenalkannya padaku bahwa mereka orang tua Daddy. Jangan membual Dad,” ucap Dave dengan nada dinginnya, dia benci di bohongi.
“Mereka mertua, Unclemu.”
“Astaga Dad, dan Mommy tahu semua itu selama ini?” keluh Dave frustasi.
“Sorry, Son dan jangan salahkan Mommymu … Daddy hanya tak ingin kamu merasa kecil hati karena iri dengan sepupu-sepupumu lainnya karena perlakuan Grandpa dan Granmamu yang mungkin saja akan menolakmu mentah-mentah, Nak. Please, trust me … semua itu Daddy lakukan agar kamu merasa memiliki Kakek dan Nenek, dan diakui mereka.”
“Hahaha, lucu sekali Daddy ini. Daddy, bilang Daddy lebih memilih Mommy dibanding keluarga Daddy sendiri, memulai semua usaha Daddy dari 0 lagi, lalu membohongiku dengan mengatakan jika mertua Uncle adalah Nenek dan Kakekku, tapi setelah perjuangan itu kenapa Daddy malah menyakiti Mommy dan aku? Aku rasa masih ada sesuatu yang Daddy sembunyikan dariku dan Mommy. Please, jujurlah dengan semua yang terjadi agar aku dan Mommy bisa mempertimbangkan Daddy kembali. Aku juga ingin keluarga yang utuh, tapi tidak dengan saling menyakiti … percuma! Aku masuk ke kamar dulu, silakan Daddy berbicara dengan Mommy tapi jangan menekan Mommy, Mommy baru saja keluar dari rumah sakit.”
Dave, pergi dari sana … merasa emosinya yang lebih naik turun dan sangat sensitif ia lebih memilih masuk ke dalam kamarnya untuk menenangkan diri. “Untung aku sudah menemukan obatku sendiri untuk meredam emosiku. Terima kasih ya Allah, sudah mengirimkan penawar terbaik dalam hidupku. Kiyara Mentari.”
Ceklek …
“Sa---“