Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Berusaha Lebih Baik


AUTHOR POV


Pagi menjelang siang itu dihabiskan Dave untuk menjelaskan beberapa hal pada sahabatnya itu yang berkaitan dengan pekerjaan. Tak membutuhkan waktu lama untuk Rendi memahami semuanya karena background perusahaan yang 11, 12 mirip dan dia yang memang cekatan dalam memahami pekerjaan, membuat segalanya terasa lebih mudah bagi keduanya.


“Hahh … lega banget gue, thanks banget Ren. Besok lu udah bisa  mulai kerja di sini, ruangan lu ada di samping ruangan gue, lu bisa rekrut sekretaris lu sendiri, nanti gue hubungin sama bagian HRD, terserah lu deh maunya kayak gimana, soalnya kerja juga butuh nyaman juga kan?”


“Thank’s juga Bro, lu udah mau ngasih saran ke gue dan ngajarin gue, pantes aja perusahaan lu cepet banget berkembangnya lu nya aja begini, genius dan otak bisnis lu encer banget mana nggak pelit ilmu lagi,” ucap Rendi sembari menepuk pelan bahu sahabatnya itu.


“Ini udah lewat waktunya makan siang, sekarang lu pulang aja makan di rumah … kerjaan lu juga kan dah beres lainnya besok gue terusin, gue juga mau nyari apart deket-deket sini males kalau harus balik ke rumah, biar sekalian aja mandirinya,” sambung Rendi.


“Masih ada duit?” tanya Dave.


“Tenang aja, celengan gue masih ada cukuplah sampek gue terima gaji pertama gue, he he he.”


“Syukurlah gue nggak usah nombokin kekurangan lu,” seloroh Dave sembari tertawa kecil.


“Siaaalann lu, gue kira bakal di kasih dp-in apart.”


“Ha ha ha, sorry-sorry, yuk lah balik, gue mau beli asinan buah dulu Grandpa gue ngidam, dulu lu beli dimana asinan yang lu bawa ke rumah?”


“Oh, itu di deket kampusnya si Cakra dulu, dia yang ngerekomin.”


“Ok, thank’s gue mau ke sana. Lu bawa mobil atau mau bareng sama gue?”


“Balik sendiri,” jawab Rendi sambil melihatkan kunci mobilnya.


Mereka jalan beriringan menuju tempat parkir yang tersedia di sana, menaiki mobilnya sendiri-sendiri lalu melajukannya di atas aspal kota Bandung menuju tujuannya masing-masing.


Tak susah bagi Dave untuk menemukan tukang penjual asinan yang di maksud oleh Rendi, karena memang tempatnya cukup familiar diingatan. Sembari menunggu dibungkuskan pesananya Dave memilih menghubungi istrinya menanyakan apa sang istri menginginkan sesuatu untuk di makan siang ini.


Sambungan telepon sudah terhubung saatnya dia menyapa pujaan hatinya di sebrang sana.


“Assalamu’alaikum Sayang, kamu lagi pingin beli atau makan sesuatu tidak?”


“Wa’alaikumsalam, Mas mau pulang jam segini memangnya?” Dave, tersenyum simpul istrinya ini malah tidak langsung menjawabna tapi malah bertanya balik.


“Iya, kamu mau dibelikan Mas apa?” tanyanya lagi.


“Aku nggak mau apa-apa, Mas,” jawab Kiyara dengan nada lirihnya, membuat Dave merasa bersalah saja.


“Yang bener? Ini Mas lagi di penjual asinan, Grandpa nitip tadi. Kamu nggak mau pesen apa gitu, barangkali mau jajanan lainnya?” pancing Dave.


“Boleh,  Mas? Kamu nggak capek apa?” tanya Kiyara.


“Enggak Sayang, Mas nggak capek … kamu mau apa, biar Mas beliin ini,” ucap Dave lembut.


“Aku mau makan, belut penyet kayaknya enak Mas, tolong belikan ya,” pinta Kiyara, membuat Dave tersenyum simpul akhirnya istrinya itu meminta sesuatu padanya.


“Iya, nanti Mas belikan ya, mau apa lagi, rujak bebeug mau?”


“Ah, boleh-boleh, Kiyara juga suka,” jawab Kiyara dengan cepat.


“Oke, nanti kalau ada yang di mau lagi WA Mas ya, ini Mas mau ambil pesenannya Grandpa dulu.”


“Siap, Mas … terima kasih banyak dan hati-hati di jalan ya,” ucap Kiyara.


“Iya, Sayang.”


Setelah membeli asinan buah, Dave segera melajukan kembali mobilnya menuju tempat biasa dia membeli menu sambelan. Di sana ada berbagai jenis sambelan lengkap dengan berbagai jenis ikan segar, niatnya dia akan membeli beberapa jenis ikan goreng juga untuk makan nanti malam di rumah mertuanya, entah kenapa dia ingin menginap untuk malam nanti di rumah mertuanya itu.


“Teh, pesen belut gorengnya 5 ekor yang ukuran sedang, ikan gurame jumbonya satu, lele ukuran sedengnya 5 ekor, udang gorengnya satu porsi yang jumbo juga, sama sambelannya lengkap ya Teh, nggak usah nasi,” pesen Dave.


“Take a way ya Pak?”


“Iya. Berapa?”


“860.000, Pak.”


“Pakai ini bisa kan?” tanya Dave sembari mengeluarkan kartu ajaibnya.


“Bisa, Pak.”


Dan transaksi membeli penyetan sudah selesai dilakukan Dave kembali duduk untuk menunggu pesanannya lagi yang kemungkinan membutuhkan waktu yang lumayan lama. Sampai dia harus sampai rumah pukul 4 sore karena selepas dari tempat penyetan dia harus keliling mencari tukang rujak.


Mobilnya sudah terparkir apik di halaman rumah mertuanya, dan baru saja akan turun dari mobil Dave sudah disambut gelak tawa keluarga istrinya yang sedang menggoda El. Bayi laki-laki itu sedang sibuk merangkak menggunakan kaki-kakinya tidak menggunnakan lutut seperti bayi pada umumnya, malah seperti menuuungging tinggi.


“Mas …” sapa istri Dave dengan mengembangkan senyumnya, melihat suaminya turun dari mobil sambil menenteng banyak sekali kantung belanjaan membuat Kiyara menyunggingkan senyum lebar, senang bukan main dia.


“Assalamu’alaikum …”


“Wa’alaikumsalam,” jawab Kiyara sembari menyodorkan tangan untuk menyalimi tangan suaminya.


“Tangan Mas, penuh sini cium pipi Mas, aja,” ucap Dave yang memang benar adanya, kedua tangannya penuh.


“Malu, nanti ada yang lihat,” jawab Kiyara.


“Nggak apa-apa kan udah sah ini,” kata Dave sembari sedikit membungkukkan tubuhnya agar sang istri bisa menjangkau wajahnya dengan mudah.


Cup …


“Udah, ayo ke dalem Mas bebersih badan dulu aku mau nyiapin ini semua,” kata Kiyaya.


“Siap, Nyonya Dave. Tapi ini penyetannya ada yang buat makan malem kalau kamu mau makan sekarang langsung makan aja nggak apa-apa tadi aku beli banyak buat makan malam sekalian, nanti kita nginep di sini aja,” ucap Dave.


“Iya, Sayangkuu … aku mau nyiapin asinan sama rujak dulu buat camilan sore he he he, aneh ya padahal mah kalau camilannya begini enaknya di makan waktu siang ini malah sore-sore, tapi nggak apa-apa sih orang enak begini he he he.”


Dave, tersenyum lembut melihat tingkah istrinya itu selalu saja bisa membuatnya tersenyum. “Makin sayang sama Mamanya triplets,” ujar Dave.


“Issh … isshh … ini duaan malah asyik mojok,” ucap Dafa yang berniat masuk rumah sembari menggendong tubuh kecil El.


“Orang di tengah teras begini, apanya yang mojok sih Kak?” balas Kiyara.


“Tuh, yang lainnya juga masuk rumah pada lewat pintu samping ini malah muter lewat pintu depan, maunya apa sih Kak,” sambung Kiyara.


“Maunya Kakak? Ya godain kamulah ha ha ha,” goda Dafa sembari berjalan masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan pasangan muda di depan teras rumah.


“Ayo masuk, besok kita ke dokter kandungan ya, periksa baby triplets.”


“Ha? Yeayyy, alhamdulillah.”


Dave, tersenyum senang melihat istrinya memekik girang seperti itu di dalam hati ia berjanji akan selalu berusaha menjadi lebih baik lagi agar bisa membahagiakan istri dan anak-anaknya lebih, dan lebih lagi setiap harinya.