Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Wahai Diri !


~Kita, di mata orang lain adalah seperti apa yang mereka pikirkan~


Malam semakin larut, tapi suara petikkan gitar masih nyaring berbunyi mengiri suara bas namun terdengar merdu dan enak di telinga. Sementara di dalam villa, suara rusuh perempuan begitu mendominasi diselingi suara tawa ketika terdengar lelucon terdengar entah dari mulut siapa asalnya.


“Lu, kenal lama sama Kiyara?”


Cakra tersentak kaget ketika dia sedang melamun sembari membaringkan badannya menatap gemerlap bintang di atas sana, dan tanpa dinyana seorang kating terpopuler ikut merebahkan diri di sampingnya, melontarkan tanya yang begitu tak bisa dia tebak apa ada maksud lain dari pertanyaannya itu.


“Jalan 4 tahun, Bang. Ada apa?” tanyanya balik, tanpa berniat menoleh ke arah lawan bicaranya.


“Lama juga … lu nggak malu punya temen kek Kiyara gitu?” bukannya menjawab Tama malah memberi pertanyaan lagi.


“Maksud Abang apa,  nanya kayak gitu? Nggak punya etika banget, nanya hal kayak gitu.” Emosinya tersulut dengan apa yang Tama ucapkan, memang sahabatnya itu orang seperti apa sampai harus membuatnya malu memiliki teman bahkan seorang sahabat seperti Kiyara.


Tama, menggelengkan kepala, merutuki kesalahannya … baru tersadar pemilahan kata yang di pilih salah. “Bukan, bukan itu yang saya maksud tadi, sorry. Kamu suka sama Kiyara?” tanya Tama lagi.


Raut wajah Cakra semakin muram, apa-apaan katingnya satu ini … terlalu ikut campur, pikirnya.


“Kenapa diam? Apa diammu bisa saya artikan ‘Ya’?”


Cakra mendengus sebal, terlalu keras kepala si Tama ini. “Kalau saya tidak memiliki orang yang harus saya jaga dan lindungi, mungkin sudah lama saya akan menjadikan Kiyara kekasih, terlebih saat mengetahui segala hal tentangnya di masa lalu.”


Deg … .


“Benar dugaanku, bila Cakra menyukai Kiyara. Jika hanya memenuhi permintaan saudara kembarnya seperti yang di tulis Kiyara dalam buku harinnya, tidak mungkin di berada di sini begitu lama … padahal kondisi Kiyara beberapa tahun terakhir sudah membaik dan bisa bersosialisasi dengan baik,” ucap Tama dalam hati.


“Jangan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu, yang anda sendiri masih ragu dengan kebenarannya.” Cakra beranjak dari rebahannya, berjalan menghampiri teman-temannya yang masih bersenandung diiringi petikkan gitar, disekitaran api unggun yang menyala kecil. Berpamitan, ingin tidur lebih dulu dengan alasan meriang.


….


Ruang tengah villa masih menyala dengan terang, masih dengan suara riuh perempuan yang sibuk bercerita tentang segala hal. Saling memberi tips apapun itu, entah berbelanja barang diskon, menggaet hati pria, cara berpenampilan, cara berbicara, cara berjalan agar terlihat anggun dan sebagainya. Kiyara hanya sesekali ikut menimpali, karena dia tak terlalu mengerti dengan apa yang dibahas … rasanya dia terlalu lama berteman dengan sepi, sehingga tak tahu banyak tentang hal-hal seperti itu.


“Em, aku ke kamar dulu ya … udah ngantuk banget, mau jam 12 malem juga takut besok kesiangan bangun,” ucap Kiyara sembari beranjak dari duduknya.


“Iya, istirahat dulu sana … lu kan abis sakit kemarin,” timpal Anggun.


“Ok, makasih ya. Kalian jangan terlalu malem tidurnya, dah …”


“Dah … .”


Kiyara berjalan menyusuri tangga untuk mencapai kamarnya bersama 4 orang teman lainnya yang ada di lantai dua. Sepi, hal yang pertama dirasakan Kiyara … karena memang semua temannya masih berkumpul di ruang tengah. Melepas kerudungnya, dia berjalan menuju kamar mandi untuk menyikat gigi dan berwudhu sebelum tidur, hal yang rutin dia lakukan semenjak kelas 2 SMP.


“Ah, tadi lupa belum memberi kabar Bunda …,” ujarnya sembari duduk di atas ranjang memainkan gawainya.


Hal yang sering luput dari anak remaja saat ini, ‘memberi kabar orang tua’ saat ada acara di luar rumah. Dikiranya, orang tua tidak khawatir memikirkan anaknya yang sedang tak di rumah … sedangkan anaknya di luar sana sibuk hahahihi bersama teman-temannya.


Satu hal yang diingat Kiyara jika berada di luar rumah seperti ini. “Omat, mun di luar rumah teh … inget ngubungin Bunda, Ayah, atau Kakak kamu … ngga tiap jam ngga apa yang penting inget ngehubungin orang rumah, biar tenang yang di rumah teh.”


Setelah memberi kabar pada Bundanya, Kiyara melihat ada dua pesan masuk lainnya dari nomor tak dikenal … yang satu nomor yang sama dengan nomor yang mengiriminya pesan tadi siang, tapi belum dia balas, akhirnya dia membuka pesan itu terlebih dahulu.


From: 081230xxxxxx (19.20)


“Oh, ternyata Kak Dave … gimana ya, di balas apa ini?” katanya sembari mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dahi.


To: 081230xxxxxx (00.07)


Maaf, baru sempat membalas pesan dari Kak Dave. Nanti aku tanya Bunda dulu ya, Kak … takut ndak dikasih izin,


 soalnya nggak pernah keluar kota tanpa keluarga.


Pesan sudah terkirim, terlihat dua centang berjejer dan dalam hitungan detik berubah menjadi warna biru, dan di bawah nomor itu berubah dari online menjadi typing. Entah kenapa dirinya menjadi gugup, takut jawabannya mengecewakan orang disebrang sana.


From: 081230xxxxxx (00.08)


Tidak masalah, memang lebih baik bertanya pada Bunda atau Ayah terlebih dahulu. Sudah malam, cepat tidur kemarin habis sakit nggak baik begadang sampai larut seperti ini. Have a nice dream … :) :)


~


To: 081230xxxxxx (00.10)


Iya, Kak … terima kasih pengertiannya. Kakak juga istirahat, ya…


Selain Kakaknya, Cakra dan teman-teman kuliahnya baru kali ini dia mendapat pesan dari pria yang sama sekali tidak terpikirkan olehnya akan sampai berkirim pesan seperti ini, pikirannya yang terlalu kuno pun dengan minimnya bersosialisasi memang membuatnya berpikir terlalu mustahil hal-hal seperti ini akan terjadi.


Dia menyunggingkan senyuman tipis. Jemari gemuknya berselancar di layar gawai, keluar dari room chat dengan nomor baru itu setelah menyimpan dan memberinya nama ‘Blue Eyes’, lalu membuka chat dari nomor baru lainnya.


From: 085730xxxxxx (18.31)


 Ada banyak orang di dunia ini, kenapa harus Cakra? Jangan merasa, menjadi orang yang paling tersaikiti di dunia ini … nyatanya masih banyak yang lebih menderita dari kamu.


~


Dahinya mengernyit, heran? Sudah pasti … siapa gerangan yang mengiriminya seperti itu. Kalimat yang dikirim, sama sekali tak bisa dia cerna dengan baik.


~


From: 085730xxxxxx (18.35)


Jangan jadi orang jahat!!! … Cakra banyak berubah setelah tinggal di Bandung. Awas aja, kalau kamu mengambil


kesempatan dalam kesempitan, ups … dalam kelebaran ding. Inget, Cakra deket sama kamu karna amanah Kakaknya, bukan murni dari hatinya jangan ke-gran, apalagi sampai menaruh hati padanya !!!


~


“Kenapa harus bawa-bawa ‘lebar’ sih, emang aku lebar tapi kenapa harus dibahas lagi-lagi dan lagi … dan Cakra? Aku tidak pernah menaruh hati padanya, bahkan seperti apa rasanya jatuh cinta aku belum pernah merasakannya apalagi berniat untuk merebut Cakra, yang entah dari siapa ini.”


Kiyara menghembuskan napasnya berat, dia tidak tahu dimana letak kesalahannya … merasa tidak melakukan hal aneh-aneh dengan Cakra, apalagi berbagi rasa. Dia sadar tidak bisa dan sangat mustahil membuat orang menyukainya dan bisa menerima dia apa adanya, tapi kenapa harus dengan cara membully, atau memojokkannya seperti ini?. Apa mereka tidak tahu, bahwa dirinya pun memiliki hati yang bisa sakit?


“Wahai diri, ingat … selalu ingat Ara … terima … terima, dengan ikhlas segala pikiran orang tentang kita, jangan jadiin beban apalagi dendam. Ingat juga … tentang satu hal Ara, Jangan selalu mencari diri kita pada orang lain. Ribuan orang yang tahu kita di luar sana, ribuan pula sifat kita pada masing-masing mereka. Baik, buruk, jahat, penyayang, rajin, malas, atau apapun itu, tapi mencari diri di dalam diri sendiri tidak semua orang bisa, dan ini yang seharusnya kita cari, jangan pengakuan dari orang. Please, Ara … jangan mudah baper,” katanya pada dirinya sendiri dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya.