
Sayapnya yang sudah sembuh dari luka meski belum sepenuhnya bersinar kembali, kini kembali terluka oleh ucapan anak kecil. Bukan niat hati memasukkannya dalam hati tentang kata-kata gendut, tetapi tentang keseluruhan kata yang diucapkan anak kecil itu, membuat jiwa insecurenya kembali muncul.
Apa pantas bersanding dengan Dave yang seperti prince, sedangkan dia? Hanya cewek Gendut
“Nak, jangan berkata seperti itu … Prince dan Princes bersama karena hati keduanya sama-sama baik bukan karena wajah atau fisik mereka,” ucap si Ibu dari anak kecil itu sembari mengusap lembut kepala anaknya.
“Maksudnya, Ma?”
“Nanti, kalau kamu sudah dewasa pasti kamu akan tahu Sayang, cepat sekarang habiskan makananmu dulu, setelah itu kembali ke ruang rawat Papa.”
“Jangan dipikirkan, kamu adalah wanita baik … dan syarat untuk menjadi pengantin wanitaku adalah wanita baik
bukan wanita yang memiliki fisik bak model ataupun wajah secantik princes, kamu sudah lebih dari cantik,” ucap Dave seolah tahu apa yang dipikirkan Kiyara.
Kiyara, tersenyum lembut pada Dave … mengingat semua perjuangan yang sudah mereka lalui sejauh ini, lalu mengangguk dengan pasti. “Terima kasih, Kak.”
Mereka kemudian makan dengan diringi obrolan-obrolan kecil tentang pengobatan, Mommy Dave ke depannya,
mengatur jadwal untuk menemani Mommynya di rumah sakit selama beberapa hari ke depan agar pekerjaan mereka juga masih bisa di handle dengan baik. Sampai suara anak kecil yang menggemaskan datang ke meja mereka membuat mereka menghentikan aktifitasnya.
“Kakak baik, aku mau minta maaf karena sudah mengatai Kakak Baik dengan sebutan Kakak Gendut,” ucap anak kecil itu dengan suara kecilnya, sementara sang Mama menatapnya dengan senyuman manis di bibirnya, seolah menyemangati sang anak agar ke depannya lebih hati-hati lagi jika berbicara di tempat umum.
Kiyara, tersenyum lembut lalu mengusap kepala anak kecil itu dengan sayang, beruntung dia sudah selesai makan dan mencuci tangannya saat anak kecil itu datang untuk meminta maaf darinya.
“Tidak apa-apa, apa kamu suka princes?” tanya Kiyara dan diangguki antusias oleh anak kecil itu.
Anak kecil itu mengerjapkan matanya lucu. “Apa princes suka sayur dan buah, Kakak Baik?”
“Iya, Princes sangat suka buah dan sayur, jadi mulai sekarang adik manis juga harus suka makan buah dan sayur.”
“Emh, baiklah … nanti aku minta Mama buatkan sayuran yang enak dan mengupaskan buah yang enak juga untuk aku makan, ucap anak kecil itu dengan kepolosannya.
“Maaf, mengganggu waktu kalian dan tolong maafkan perkataan putri kecilku yang menyinggungmu, Nona,” ucap wanita yang diperkirakan Kiyara berusia awal 30 tahunan.
Kiyara tersenyum lembut kepada Mama anak kecil itu. “Tidak apa, anak kecil terlalu polos … bisa mengatakan apapun yang dia pikirkan, aku baik-baik saja, dia anak yang baik,” jawab Kiyara sembari mengusap lembut pucuk kepala anak kecil itu.
“Terima kasih, anda juga orang baik Nona. Ayo, Haura salim dulu dengan Kakak-kakak ini, kita harus cepat ke ruang rawat Papa.”
Haura, anak kecil itu pun menyalami satu per satu tangan Dave dan Kiyara dengan sangat sopan lalu bibir kecilnya berucap.
“Sampai jumpa Kakak Baik, dan Kakak Tampan, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam, Adik Manis.”
Haura dan Mamanya sudah hilang dari pandangan Kiyara dan Dave, tapi Kiyara masih memandang ke arah hilangnya ibu dan anak itu, sampai celetukkan Dave membuatnya terperanjat kaget.
“Aku mau memberi Mommy, Bunda, dan Ayah, cucu perempuan dan laki-laki yang menggemaskan seperti Haura tadi dan juga Hisyam anak sahabatmu, tapi semoga anak pertama kita twin ya Yang. Dan aku mau kita menikah dua bulan lagi, semoga kondisi Mommy sudah semakin baik saat itu.”
Haaaa?