Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Kiyara dan Dave


AUTHOR POV


Di sudut kamar Kiyara dan Dave, terdapat sebuah area khusus untuk memajang foto USG dan beberapa foto masa kehamilan Kiyara yang di dalamnya juga ada foto Dave yang selalu berpose sama yaitu memeluk Kiyara dari belakang. Semua foto diambil semenjak minggu ke-8 kandungan Kiyara, tepat setelah mereka baru menyadari


kehamilan wanita bertubuh sintal itu. Dimulai dari test pack, foto usg minggu ke- 8, foto Dave memeluk Kiyara dari belakang dengan memamerkan perut buncit sang istri, seterusnya hingga kini sudah memasuki minggu ke- 22, yang berarti kehamilan Kiyara kurang dari 16 minggu lagi, keluarga kecil itu akan segera menyambut kelahiran baby triplets.


Ceklek …


Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Kiyara dari foto-foto itu ke arah pintu, di sana sudah berdiri suaminya yang masih mengenakan sarung, baju koko, juga pecinya.


“Mau bikin sekarang Sayang?” tanya Dave.


“Sebentar kita makan siang dulu, habis itu baru kita berperang di dapur,” jawab Kiyara sambil terkekeh kecil karena menyebut masak dengan berperang.


“Iya, kita temani Grandpa makan juga, kasihan kalau makan sendirian, pasti habisnya sedikit,” ucap Dave sembari melepas sarung dan baju kokonya mengganti dengan baju rumahan yang tadi ia sempat pakai sebelum pergi ke masjid.


“Eum, betul … Mas untung ya kita sudah pindah ke kamar bawah ini, jadi Grandpa juga nggak merasa sendirian soalnya kamarnya juga deketan, kalau malam kamu juga sering cek ke sana,” ucap Kiyara sedikit tak nyambung dengan ucapan suaminya, membuat Dave menangkap sinyal-sinyal, jika istrinya ini sedang memikirkan sesuatu.


“Kenapa? Ada yang kami pikirkan ya?” tanya Dave dengan menebak dan diangguki oleh Kiyara.


“Sebetulnya aku merasa kesepian kadang-kadang, Mas. Di rumah Ayah sama Bunda kan, kita selalu berempat, sedangkan di sini aku sering sendirian, jadi kadang kalau lihat Grandpa sendirian aku suka nggak tega, sendirian itu nggak enak soalnya,” ucap Kiyara dan membuat Dave tersenyum kecut, mengingat itu sangat bertolak belakang dengannya, dimana sudah sejak lama dia sering tinggal sendirian, dan sepi adalah teman paling setia, meski kini Kiyara adalah teman sehidup sematinya.


“Iya, Sayang … maaf ya, karena aku tidak punya keluarga yang baik jadi kamu merasa kesepian setelah tinggal sama aku,” ucap Dave sembari melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.


“Bukan begitu Mas, maksudku maaf,” ucap Kiyara sembari membalas memeluk suaminya itu, tapi malah disambut gelak tawa oleh suaminya.


“Aduh, ini baby triplets ya ngalangin Mama sama Papanya mau pelukan aja,” kata Dave dengan masih terkekeh kecil.


“Nanti tambah minggu tambah gede lagi Mas, di jamin nggak bisa pelukkan leluasa kitanya,” sambung Kiyara.


“Eh, jangan salah masih bisa atuh lewat belakang, kayak gini,” kata Dave sembari merubah posisinya memeluk istrinya itu dari belakang lalu mengusap perut buncit istrinya, menyalurkan semua rasa yang ada di dadanya.


“Nyaman, banget Yang,” ucapnya sembari menaruh kepanya di ceruk leher istrinya, aroma tubuh istrinya memang menjadi aroma yang candu baginya, seperti merasakan arti tenang dan aman bagi dirinya.


Kiyara, tak tinggal diam, tangannya ikut mengusap lembut punggung tangan suaminya. Sampai beberapa saat dia baru tersadar untuk segera menuju ruang makan khawatir Grandpa sudah menunggu di sana.


“Mas, nanti lagi ya … kita makan siang dulu kasihan Grandpa kalau sampai nungguin kita,” ucap Kiyara dan langsung sigap ditanggapi oleh suaminya.


“Ayo Sayang, kerudung kamu pakai dulu ya,” ucap Dave, ya selama ini Kiyara memang tidak pernah memperlihatkan lagi auratnya pada siapapun terutama laki-laki dan hanya ada 3 laki-laki yang bisa melihat rambutnya yaitu Ayah, Kakaknya, dan juga suaminya saja, tapi beberapa bulan lagi akan ada dua laki-laki yang boleh melihat rambut indahnya.


“Eumh, sebentar … Mas lebih baik ke ruang makan dulu nanti aku menyusul,” ucap Kiyara dan diangguki oleh Dave.


“Grandpa, sudah lama?” tanya Dave.


“Baru saja, ini sepupumu kata Leff merengek ingin datang ke sini lagi ha ha ha, dasar ya padahal dia itu sudah remaja tapi kadang tingkahnya masih seperti anak kecil saja, kalau di sini ada tetanggamu yang tahu jika Nico umurnya baru 15 tahun pasti shock, karena fisik sepupumu itu sudah seperti anak berusia 20 tahun ke atas,” ucap Grandpa sambil menyodorkan gawainya pada Dave.


“Ha ha ha, iya Grandpa betul sekali, sama seperti saat Dave SMA dulu, paling bongsor apalagi dari dulu Dave selalu melatih otot-otot Dave sehingga bentuk badan Dave sudah bagus sedari masih remaja dulu. Kalau lagi keluar rumah nggak pakai seragam sekolah udah pasti digodain sama cewek-cewek kuliahan, nggak tahu aja kalau Dave masih bau kencur, hi hi hi.”


“Ya, mungkin nasibnya akan sama sepertimu nanti, dia ingin melanjutkan kuliahnya di sini,” sambung Grandpa membuat seseorang yang baru saja memasuki area makan terpekik senang.


“Wah, akhirnya akan nambah orang lagi di rumah ini … ah baby Nico yang menggemaskan,” ucap Kiyara dan mengundang kecemburuan pada suaminya.


“Hey, yang menggemaskan itu hanya aku Sayang,” ucap Dave dengan cepat.


“Ha ha ha, are you jealous, Dave? Dan kamu jealous sama sepupumu yang masih kecil itu, ha ha ha lucu sekali,” seloroh Grandpa.


“He he he, sudah-sudah … mari kita makan pasta sama steaknya saja,” lerai Kiyara.


Dan sesuai rencana, selepas makan siang Kiyara dan Dave langsung berkutat di dapur untuk membuat empek-empek, sementara Grandpa langsung beristirahat di kamarnya.


“Yang, ini yakin cuman bawan putih dan merah aja yang di blender?” tanya Dave sekali lagi.


“Iya, sayangku itu aja bumbunya, ini ikan sama tepung berasnya udah aku siapkan,” ucap Kiyara.


“Oke.”


Dave laki-laki itu sibuk menghaluskan bawang merah dan putih, sementara Kiyara menakar air untuk merebus sebentar ikan yang sudah dihaluskan beserta tepung berasnya agar pulen dan bercampur rata.


Bumbu yang dave buat ia bagi jadi dua, memisahkannya untuk bumbu cuko nantinya, sementara yang satunya lagi ia gunakan untuk dicampur dengan tepung-tepung yang dia uleni. Tepung beras, ikan giling, telur dan bumbu sudah ia uleni sampai bercampur rata, lalu setelah sedikit hangat Kiyara mencampurnya dengan sedikit tepung terigu dan juga tepung kanji setengah dari tepung beras yang ia gunakan tadi.


“Wah, begini ya caranya bikin empek-empek, ternyata cukup mudah … soalnya aku cuman blender aja ha ha ha,” canda Dave.


“Memang cukup mudah, Mas … asal mau cemong-cemong dan tlaten semua terasa mudah, tapi setahu aku banyak cara dan resep lainnya dalam mebuat empek-empek, soalnya tiap orang pasti punya seleranya masing-masing, dan sebagai orang luar Palembang aku cuman tahu resep ini dari internet he he he, entah itu yang buat orang Palembang asli atau bukan,” jawab Kiyara sambil membentuk adonan menjadi kapal selam setalah sebelumnya membagi adonan menjadi beberapa karena akan ia jadikan lenjer dan pempek keriting.


“Tidak masalah yang penting enak, banyak resep berarti banyak ragam pilihan tinggal mana yang sesuai selera ya di coba saja. Segala sesuatu akan jadi mudah kalau dilakukan dari hati dan kemauan sendiri, ya Yang?”


“Heum betul,” jawab Kiyara.


“Mas tolong rebusin air, buat ngerebus ini.”


Dan siang menjelang sore itu dihabiskan oleh Kiyara dan Dave untuk membuat empek-empek, entah jadi atau tidak tapi kelihatannya jadi karena Kiyara memang suka masak dan mencoba resep baru yang sering sekali berhasil di buat oleh tangan dinginnya itu.