Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Kamar


~Akankah, rasa ini bertumbuh dengan subur atau hanya akan menjadi angan yang memabukkan lalu menyesatkan~


.


.


Jantung Kiyara masih saja berdisko tak menentu, padahal sudah tak terjadi apa-apa saat ini dan sekarang pun dia berada sendirian di ruang tertutup yang baginya sangat menakjubkan. Karena dia berada di dalam kamar laki-laki lain selain kamar Ayah dan Kakaknya, ya pada akhirnya dia memilih untuk tidur di kamar Dave, dan membiarkan sang pemilik kamar untuk tidur di depan tv bersama dengan sang Kakak.


“Astaghfirullah … ini kenapa dada aku … ya Allah lindungi Hamba dari perasaan yang semu ini. Cukupkan rasa ini untuk suami Hamba kelak ya Allah.”


“Aduh … jadi inget tadi,” ucap Kiyara sembari menutup wajahnya dengan bantal.


Flashback


“Kita tidur bertiga aja di ruang keluarga, sambil nonton tv … atau mau nonton film … aku ada film bagus,” saran Dave.


“Atau, Kiyara bisa tidur di kamarku terus aku sama Bang Dafa bisa tidur di luar. Terserah aja, gimana enaknya aku ngikut aja,” sambungnya.


Jantung Kiyara berdegub dengan cepat, bagaimana pun saran Dave taka da yang membuatnya tidur dengan nyenyak karena rasa yang bercampur jadi satu di dalam hatinya, yang mungkin hanya Kiyara saja yang paham tentang rasa itu.


“Emh, kalau boleh Kiyara mau tidur di ruang keluarga aja sama Kak Dafa. Kak Dave sebagai tuan rumah tidur di kamar aja.”


Pada akhirnya, Kiyara lebih memilih untuk tetap menjaga batasannya terhadap lelaki yang  bukan muhrim, menghindari satu ruang untuk tidur dengan Dave mungkin akan jauh lebih baik.


“No, jangan … jangan. Lebih baik kamu tidur di kamar aku aja, biar aku sama Bang Dafa yang tidur di luar. Kamu perlu istirahat yang cukup, ruang gerak yang bebas juga untuk tidur takutnya nanti kalau tidur sama Bang Dafa di ruang keluarga, kaki kamu nggak sebgaja kenak Bang Dafa atau malah kamu nyenggol kaki meja lagi.”


“Iya, gituh aja Kakak setuju sama sarannya Dave. Mending kamu tidur di dalem kamarnya Dave aja. Kakak juga mau ngobrol-ngobrol sama Dave sebelum tidur.”


“Hem … yaudah.”


Mobil  Dafa sudah kembali memasuki garasi rumah Dave, memarkirkannya dengan apik setalah kedua penumpangnya turun.


“Gimana, nggak apa-apakan anak Bunda?”


“Alhamdulillah nggak apa-apa Bun, cuman harus dipotong aja kukunya hampir semua.”


Deg …


Jantung Alana serasa berhenti berdetak, tak membayakan betapa sakitnya kuku jempol kaki di ambil “Astaghfirullah, Nak … ngga apa-apa tapi kan ya? Masih sakit?”


“Alhamdulillah, Bun ndak apa-apa kok cuman masih kerasa ngilu tapi wajarlah namanya juga luka, nanti juga baikkan sendiri. Ayo ke dalem Bun, ini Mama sama Bunda masak apa? Kenapa wanginya tercium sampai ke sini?” tanya Kiyara mencoba mengalihkan perhatian sang Bunda agar tak lagi cemas.


“Oh, itu Bunda masak tumis cumi asin, tumis oncom, sayur asem, ah banyak deh ayok masuk-masuk, cuci tangan, cuci kaki, terus langsung ke meja makan ya, kita langsung makan malam,” ucap Alana dengan semangat.


Kini ke-limanya sudah duduk melingkari meja makan, mengambil makanan masing-maisng lalu makan dengan lahap di selingi obrolan ringan. Selesai makan malam, semuanya memilih salat isya terlebih dahulu sebelum berkumpul di ruang keluarga.


“Udah di minum obatnya ?” tanya Dave sembari mendudukkan tubuhnya di samping Kiyara yang sedang fokus menonton televisi.


“Eh, Kak Dave … bikin kaget aja. Udah kok tadi habis makan langsung aku minum … pas Kak Dave sama Kak Dafin ke masjid.”


Hoaaamm … Kiyara terlihat menutupi mulutnya, tak dapat menahan kantunya lagi sehingga menguap begitu saja di hadapan Dave.


“Ngantuk?”


“Hehehe, iya Kak.”


“Sana gih, tidur di kamar aku.”


Flashback Off