
Brugh ...
Mommy Dave, limbung dipelukkan Kiyara tapi karena dia tak sigap membuatnya jatuh terdorong tubuh Mommy Dave yang memiliki perawakan lebih tinggi darinya, membuat para tamu yang notabennya hanya berisi keluarga dekat dan tetangga kanan kiri rumahnya berteriak histeris.
"Baringkan di ruang keluarg," kata Ayah Akbar, ketika melihat sang calon mantu dengan sigap membopong Mommynya.
Kiyara, sudah berdiri di bantu Bundanya lalu ikut mengekor di belakang Dave, tak lupa ia mengambil minyak kayu putih.
"Kenapa?"
"Ada apa?"
"Tidak apa-apakah?"
"Kok bisa pingsan?"
Semua bisikkan terdengar jelas di telinga Kiyara, Dave, dan anggota keluarga inti. Meski mencoba fokus tetap saja, berisik.
"Sudah, aku olesi minyak kayu putih Kak, tapi Mommy kok belum bangun?" tanya Kiyara.
"Usapin di telapak kaki sama tangannya juga, Dek," ucap Dafa, saat ini di ruang keluarga hanya ada mereka ber-empat bersama Mommy yang sedang pingsan sementara para keluarga dan tetangga lainnya sedang di urus para orang tua untuk menikmati makanan yang disediakan, Karena menganggap Mommh Dave hanya kelelahan karena terlalu antusias mempersiakan ini semua bersam Bunda Alana.
"Kita bawa Mommy, ke rimah sakit aja ya?" kata Dave. Sembari tangannya sudah terulur akan mengangkat tubuh Mommynya, tapi tiba-tiba ada sebuah tangan yang menghentikan pergerakkannya.
"Biar aku yang periksa, Tante," ucap pemuda seusia Dafa.
"Mas Izam, di sini," kata Kiyara saat matanya melihat kakak sepupunya yang kini tengah berjongkok untuk memeriksa keadaan calon ibu mertuanya.
"Apa perlu dipindahkan ke kamar, Mas?" tanya Kiyara.
Izam, mendongakkan kepalanya melihat sepupunya yang kini sudah tampak sangat berbeda dengan terakhir kali dia bertemu.
"Iya, boleh ... biar pemeriksaannya enak soalnya aku duga ini bukan hanya kelelahan biasa."
Dengan sigap Dave, kembali mengangkat tubuh Mommynya lalu mengikuti Dafa yang berjalan menuju kamar tamu.
"Aku rasa kita perlu membawa, Tante ke rumah sakit," ucap Izam sembari melepas stetoskopnya.
Dave, Kiyara, dan Dafa meraut khawatir, menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada Mommynya, apa sesuatu yang serius?
Para tamu sudah dipulangkan oleh Ayah Akbar, kini mereka semua menyusul Mommy Dave yang sudah dibawa terlebih dahulu ke rumah sakit.
Sementara itu, di rumah sakit ketiga orang yang membawa Mommy Dave kini tengah menunggu di depan ruang pemeriksaan.
"Apa, Tante sering pingsan akhir-akhir ini?" tanya Izam.
Dave, yang semula menatap lurus ke arah pintu yang tertutup rapat menolehkan kepalanya ke arab sepupu tunangannya itu.
"Mommy, sehat-sehat aja ngga pernah sakit apalagi pingsan-pingsan Bang, dan aku rasa juga nggak ada yang aneh-aneh semuanya baik-baik aja seperti biasanya," jawab Dave lalu menundukkan kepalanya, sedih rasanya di hari yang seharusnya membahagiakan ini malah terjadi hal seperti ini apalagi Daddynya tak hadir di acara pentingnya ini karena harus kembali ke negara aslinya karena pamannya di sana juga sedang sakit keras.
Semua tampak hening, saling memandang.
"Apa ada masalah dengan Mommyku, Bang?"
Izam, mengehembuskan napasnya. "Sepertinya, Tante memiliki penyakit yang cukup serius tapi semoga dugaanku salah, Dave."
Deg ...
Jantungnya terasa diremas dengan kuat, susah payah ia mencoba mengembalikan kesadarannya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, hampir saja dia ikut pingsan.
"Sadar Dave, jangan lemah Mommy butuh lu," ucap Dafa.
Kiyara, hanya bisa terduduk lemas khawatir apa yang dimimpikan akan terjadi.
"Astaghfirullah ... Subhanallah ... Ya Allah ... semua akan baik-baik saja kan," bisiknya dalam hati.
Ceklek ...
"Keluarga pasien ..."