Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Villa


~Di mana pun kaki berpijak jangan lupa, takdirNya selalu memengaruhi sedang do’a dan restu dari orang tua adalah ridhoNya juga.


Suasana perjalanan bersama teman-teman menuju tempat baru untuk dikunjungi adalah salah satu hal yang menyenangkan, selalu memberikan efek bahagia yang nagih. Karena selalu ingin lagi dan lagi untuk mengulanginya. Seperti hari ini, dengan sedikit memaksa kepada orang tuanya dan juga Dafa, akhirnya Kiyara bisa


merasakan perjalanan bersama dengan teman-teman satu tim mentor FTSL untuk melakukan  DIKLAT di daerah Lembang. Pohon dan tanaman hijau menemani perjalanan satu jam itu, karena jalanan menuju Lembang lumayan macet menjelang weekend seperti ini.


“Apa pemandangannya sangat indah? Sampai tak menghiraukan teman-temanmu yang unyu-unyu ini?” tanya Tiwi dengan usilnya.


Kiyara mengalihkan perhatiannya pada teman yang duduk di sampingnya itu, lalu tersenyum. “Hmm, iya kalian kalah unyu sama baby plan itu hahaha.”


“Eh, serius nanya nih gue … itu Bunda sama Ayah kok nggak ngelarang kamu buat masuk Biologi? Bukannya Ayah sama Kakek dan Opa lo punya bisnis ya?” tanya Tiwi dengan mimik muka seriusnya.


“Iya, Ayah, Kakek, Opa, semua punya usahanya sendiri-sendiri bahkan Kak Dafa juga udah mulai merintis usaha dari sewaktu kuliah dulu dan sekarang udah jadi salah satu pengusaha muda yang sukses. Tapi semua keluarga, terutama Ayah dan Bunda nggak pernah maksa anak-anaknya buat suka dengan apa atau makasain untuk


sekolah dimana, mau ambil jurusan apa, termasuk kuliah ini, bebas mau pilih yang mana. Terlebih Bunda dulu juga kuliahnya nggak ambil manajemen bisnis atau jurusan-jurusan lain yang berhubungan dengan bisnis,” jelas Kiyara.


“Emh, iya sih … sesuatu yang dipaksain hasilnya sulit untuk maksimal, kayak aku gini. Kamu beruntung banget sih, bisa terlahir dari orang tua yang ngga maksain kehendeknya ke anak-anaknya.” Tiwi meraut sedih.


“Setiap orang tua selalu punya caranya sendiri-sendiri untuk mengarahkan anaknya menuju kesuksesan, yang penting saling menerima antara orang tua dan anak itu penting Tiw. Jalanin dengan ikhlas, biar jalannya semakin dipermudah dan terasa ringan.” Tiwi tersenyum, ada benarnya ucapan Kiyara.


“Guys, rundown dah ada di grup … cek ya !” ucap Satria sedikit berteriak.


Riuh suara bincang-bincang sedikit meredup, karena semuanya tengah sibuk membaca rundown yang baru saja dikirim oleh Satria.


“Huwaa … daebak … nanti malam kita have fun gengsss … !” teriak Anggun salah satu teman mentor Kiyara dari jurusan Arsitektur, orangnya terlihat sedikit tomboy dalam berpenampilan tapi wajahnya masih berpoles make-up.


“Sssstttt … yaelah, gue juga bisa baca kaleee … ntar malem ada kating terkenal dalam dunia keorganisasian yang bakal dateng.”


Suasana mobil mendadak ramai akibat acara yang akan diselenggarakan untuk nanti malam, ada api unggun dan renungan malam yang kemungkinan besar akan dihadiri pejabat keorganisasian. Selain terkenal pintar dalam organisasi, kebanyakan dari mereka juga pandai dalam akademik, sehingga banyak digandrungi oleh dekting macam Kiyara dan kawan-kawan … ibarat kata menyelam sambil minum air, masuk organisasi sekalian cari dopping buat IPK biar tetap aman terkendali, syukur-syukur dapet ehm … jodoh, di organisasi dan alamamater yang sama.


Waktu menunjukkan pukul 08.30 pagi saat rombongan datang di villa yang sudah disewa sebelumnya, rangkaian acara beberapa waktu terakhir membantu mengakrabkan mereka semua, sehingga kini taka da lagi rasa canggung, semuanya berbaur jadi satu.


“Kamarnya sesuai sama yang udah gue bagi kemarin sewaktu di kampus, nggak boleh protes lagi. Kita bebersih diri dulu, 30 menit lagi kita kumpul di aula, jangan lupa bawa ATK,” kata Satria mengkoordinasi.


“SIAP, NDAN !!!!!”


Materi satu berjalan dengan lancar dan terasa singkat bagi Kiyara, ternyata diklat di luar seperti ini tak terlalu menguras tenaga dan pikiran seperti di kampus. Tujuan Diklat kali ini pun agar lusa bisa lebih fresh dalam mengemban tugas mementori anak-anak FTSL dengan penuh semangat, sehingga bisa menjadi tauladan yang baik untuk adik tingkatnya. Materi yang diberikan kali ini pun lebih banyak sharing dan tanya jawab, tidak seperti saat di kampus yang lebih sering mendengarkan ceramah materi.


“Tempatnya luas ya?” tanya Fani yang kini tengah duduk di sampingnya.


“Makan siang ini nanti, katanya masih catering dari warga sekitar sini tapi nanti malam kita bakal bikin makanan kita sendiri … ngaliwet,” ucap Fani yang diakhiri bisikan, seolah kata liwet adalah hal yang paling rahasia.


Kiyara hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan Fani sembari terkikik kecil. Lalu berdiri keluar dari musholla dan berjalan menuju kamarnya, menaruh perlengkapan salatnya kembali sebelum berkumpul di bagian belakang villa untuk mengambil jatah makan siangnya.


Ting … suara pesan masuk, membuat Kiyara menghentikan suapannya … jemari gemuknya berselancar di atas layar gawai, membuka pesan dari siapa gerangan.


From: 081230xxxxxx (12.21)


Sabtu, minggu depan ada pameran hidroponik dan aquaponik di Jakarta. Rencananya aku bakal ke sana, kamu mau ikut?


~~


Kiyara menautkan alisnya, nomor siapa yang menghubunginya seingatnya beberapa waktu belakangan ini dia tak bertukar nomor dengan orang baru atau siapapun itu.


“Eh, ayo buruan materi 2 mau dimulai tuh … kurang 8 menit lagi.” Cakra, sahabatnya yang dicarinya sedari tadi baru muncul dan seolah menggantikan tugas Satria untuk mengingatkan teman-teman mentor kali ini.


“Iya, sana duluan aja … abis makan langsung nyusul.” Cakra mengangguk, lalu melangkah lebih dulu meninggalkan Kiyara dan beberapa teman lainnya.


Nasi kotak sudah habis tak bersisa, waktu ishoma pun akan segera habis membuatnya bergegas meninggalkan ruang belakang menuju tempat berkumpul untuk dilaksanakannya materi 2, mengabaikan pesan dari nomor baru tadi … yang belum sempat dia balas pun sekadar melihat profile siapa gerangan yang mengiriminya pesan tengah hari seperti ini.


..


Waktu berlalu dengan cepatnya, beberapa laki-laki kini sudah sibuk untuk menyalakan api unggun, tidak terlalu besar tapi cukuplah untuk menyemarakkan malam temaram bersama bulan juga bintang yang sinarnya menemani gelap langit. Beberapa wanita terlihat mengolesi jagung dengan margarin, ada yang membaluri sosis, daging, dan beberapa jenis frozen food dengan bumbu barbeque salah satu diantara wanita itu adalah Kiyara. Gadis gendut yang beranjak menjadi wanita ramah yang sedang menyiapkan sayapnya yang pernah patah, mecoba berbaikan dan berdamai dengan takdir agar bisa mengepakkan sayapnya lebih indah dan kuat dikemudian hari.


“Jika bukan karena Ayah, Bunda, dan Kak Dafa, mana mungkin aku berani berbaur dengan mereka seperti ini, terima kasih Ya Allah sudah memberiku keluarga yang luar biasa sabar dan sayangnya ke aku. Gam, terima kasih sudah mengirimkan Cakra


untuk menjadi sahabatku selama 3 setengah tahun ini, meski aku kehilanganmu


tapi aku yakin suatu saat nanti kita akan kembali bertemu di sana.” Monolog


Kiyara dalam hatinya.


“Jangan bengong aja !” bisik seseorang tepat di belakang Kiyara.


Deg … .


“Please … jangan kambuh!” bisik Kiyara dalam hatinya.