Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Menikah Secepatnya


Kiyara bingung harus menjawab apa, sebab tadi acara pertunangan mereka belum sampai ke pembahasan tanggal pernikahan, khawatir salah menjawab dan tak sopan karena tak melibatkan orang tua.


“Emh, aku sih mau-mau aja Kak, tapi apa nggak sebaiknya kita rundingkan dulu dengan orang tua kita, nanti kalau Mommy sudah sembuh, sudah kuat untuk aktifitas seperti biasa, ayo kita buat pertemuan keluarga inti kita saja, membahas tanggal pernikahan kita, bagaimana?” tanya Kiyara hati-hati.


“Aku, tak masalah tapi sepertinya orang tua kita pun menginginkan pernikahan kita secepatnya,” jawab Dave dengan tenang.


“Baiklah, Kak.”


“Sesekali, panggillah aku dengan sebutan Sayang jangan Kakak terus, beri aku sesuatu hal yang manis agar aku merasa selalu kamu cintai dan sayangi,” ucap Dave dengan sungguh-sungguh.


Kiyara tersenyum lembut, lalu mengangguk sebagai jawaban atas permintaan Dave.


“Ayo, kita kembali ke ruang rawat Mommy, Sayang,” ucap Kiyara malu-malu.


Dave, tersenyum lebar lalu mengikuti Kiyara berdiri, ia membawa tempat makan dan sekantung jajanan untuk


sahabat Kiyara, sedangkan Kiyara membawa kantung kecil berisi jahe hangat pesanan Mommynya.


Dalam hati Dave, sangat bersyukur bisa bertemu dengan gadis setulus dan sebaik Kiyara, meski mungkin kebanyakkan dari orang yang melihat mereka seperti pasangan yang tak ideal karena fisik Kiyara tapi, bagi Dave mereka tak ideal karena Dave yang tak sempurnan karena sikap dan sifatnya di masa lalu, dan Kiyara yang baik, tulus, dan mudah memaafkan. “ Ah, pasangan ideal … orang lain tahu apa tentang hubungan yang aku dan Kiyara jalin, yang penting aku dan Kiyara bahagia, orang tua kami, keluarga besar kami bahagia, dan aku sangat bersyukur Kiyara sangat menyayangi Mommy begitupun sebaliknya, setidaknya sinetron ikan terbang tak terjadi dalam kehidupan rumah tanggaku, di mana suami bingung harus membela istri atau ibunya,” gumam Dave dalam hati.


Banyak pasang mata yang melihat mereka dengan penuh tanya, yang satu memakai kebaya dan yang satu memakai kemeja batik begitu rapi, tapi mereka semua sadar di rumah sakit siapapun boleh datang dalam keadaan apapun karena memang rumah sakit adalah tempat yang paling tidak direncanakan oleh sebagian orang kecuali mereka yang datang untuk melakukan medical check up atau mengunjungi sanak saudara yang sakit, atau apel


pacarnya yang berprofesi sebgai dokter, perawat, dan pekerjaan lain yang ada di dalam rumah sakit.


“Tadi, sebelum Mas Izam pulang Kakak udah sempet minta tolong sama beliau untuk dicarikan rumah sakit yang


bagus untuk menangani sakitnya Mommy, semoga ada rekomendasi bagus dari temen-temen dokternya juga, biar pengobatan Mommy bisa dilakukan secara maksimal.”


“Aamiin, semoga Mas Izam bisa menemukan yang terbaik ya, Kak,” ucap Kiyara.


Dave, menganggukkan kepalanya sembari mengaaminkan juga ucapan Kiyara, tapi terlintas dalam benaknya untuk


hari-hari ke depan. “Sayang, menurutmu bagaimana? Apa aku perlu menyewa perawat untuk menemani Mommy di rumah nanti, kalau aku sednag bekerja?” tanya Dave, sebab di rumahnya memang tak ada pembantu juga, karena Mommynya yang meminta.


Kiyara menggelang. “Tak perlu, biar aku saja yang menemani Mommy, memasakkannya makanan juga, plus jika Mommy sedang beristirahat aku bisa membersihkan rumah juga,” jawab Kiyara dengan entangnya.


“Hey, kamu ini tunanganku, calon istriku bukan pembantuku bagaimana mungkin kamu mengatakan itu seenteng ini,” decak Dave sembari menggelengkan kepalanya.


“Tidak, bukan seperti itu. Aku tau Mommy sangat tidak suka dengan adanya ART di rumah, karena kejadian dulu


yang pernah menimpa rumah tangga Kakek dan Nenekmu yang berpisah karena Kakek ketahuan berselingkuh dengan ARTnya. Jadi, lebih baik aku membantu Mommy, aku tak ingin membuatnya lebih tertekan nanti.”


“Lebih, baik kita menikah akhir bulan ini saja,” putus Dave.