
Bising kendaraan terdengar menemani perjalanan siang menjelang sore ini, di atas motor kini Dave tengah membonceng istrinya menuju café milik istrinya sedari masih single dulu, selepas Mommynya meminta berkunjung ke rumah besannya kini Dave dan Kiyara memilih untuk menyurvei café yang sudah lama tidak dikunjungi istrinya secara langsung hanya menerima laporan via email saja.
“Aku mampir beli rujak bebeuk dulu ya, Yang,” kata Dave sedikit keras agar istrinya bisa mendengar apa yang dia ucapkan.
“Heum, boleh aku juga mau …”
Dan tak lama setelahnya Dave melihat orang yang memikul tempat kecil berisikan buah-buahan segar dan di luar kaca kecilnya bertulisakan rujak, langsung saja dia menyalipnya dan memberhentikan laju kenadaraannya di tepi jalan.
“Mang, beli …”
“Mau berapa bungkus A?”
“15 Mang,” jawab Dave membuat Kiyara memekik kaget, kenapa beli sebanyak itu, tapi Kiyara tak langsung menanyakan itu pada Dave karena sungkan dengan Mamang-mamang penjualnya apalagi melihat senyum syukur di wajah penjual itu.
Beberapa menit berlalu, akhirnya 15 bungkus rujak sudah siap untuk di bawa Dave dan Kiyara. “Kebanyakkan, ini
A,” ucap penjual rujak saat menerima dua lembar uang bergambar pahlawan proklamator itu.
“Nggak apa-apa, Mang … rezeki buat anak dan istri di rumah,” jawab Dave.
“Atur nuhun, A … semoga rezeki Aa sama Tetehnya lancar,” ucap penjual rujak tersebut.
“Aaamiin … Mamang juga ya, saya dan istri permisi dulu,” pamit Dave sembari menggandeng istrinya dan berjalan mendekat ke arah motor yang diparkirnya tadi.
10 menit berkendara akhirnya motor yang dikendarai Dave sampai juga dipelataran café milik istrinya itu. “Ayo,
Mas langsung ke ruanganku aja ya,” ajak Kiyara sembari mengambil kresek berisikan rujak bebeuk.
“Iya, Yang itu rujaknya kasih ke karyawan kamu sisanya aku mau dua kamu mau berapa?”
“Aku satu aja, berarti yang 12 di kasih ke karyawan aku ya, Mas.”
“Iya.”
Café hari ini cukup ramai meski bukan waktunya makan siang, tapi jam-jam segini waktunya anak SMA pulang dari
sekolahnya dan banyak yang mampir ke sini untuk mengisi perut sekalian mengerjakan tugas, karena dapat di lihat di tiap meja pasti ada laptop yang menyala dan itu membuat Kiyara tersenyum puas, apalagi buku-buku yang dia sediakan juga ikut di baca oleh pengunjungnya.
“Rame ya,” ucap Dave dan diangguki oleh Kiyara.
“Alhamdulillah, Mas … Mas langsung ke ruanganku ya aku mau ke bagian dapur dulu,” ucap Kiyara.
“Iya, Sayang … Mas tunggu ya.”
“Oke, Masku Sayang.”
Mereka berpisah di depan pintu ruangan Kiyara, Dave masuk terlebih dahulu ke dalam sana sementara Kiyara langsung meneruskan langkahnya menuju daour sembari membawa kresek rujaknya tadi.
“Tari, tolong ini di bagikan sama temen-temen yang lain, Teteh bawa rujak bebeuk … sama tolong ambilkan 2 mangkuk dan sendok,” ucap Kiyara pada salah satu Karyawannya yang bernama Tari.
“Siap, Teh laksanakan, mau dibuatkan minum apa Teteh?” tanya karyawannya.
“Siap, nanti Tari antar ke ruangan Teteh.”
Kiyara beranjak dari dapur cafenya menuju ke ruang manager cafenya yang selama ini dia titipi café untuk membantu mengelolanya, orang yang direkomendasikan Kakak Iparnya.
Tok … tok … tok …
“Masuk,” suara seorang pria terdengar jelas dari balik pintu ruangan yang tertutup rapat itu, membuat Kiyara dengan segera membuka pintunya.
“Assalamu’alaikum, Kak … aku mau ambil laporan yang bulan ini.”
“Wa’alaikum salam, ya Allah Ibu kenapa ke sini aturannya Ibu tinggal telepon saya terus saya langsung ke ruangan Ibu bawa yang Ibu perlukan,” ucap wanita yang usianya di atas Kiyara itu dengan nada tak enak hati, karena dia baru saja bekerja di sini sekitaran 3 bulan menggantikan teman Kiyara yang dulu ikut bekerja dengannya.
“Ah, Kakak ini aku udah bilang panggil nama aku aja, Kakak ini kan temennya Kakak ipar aku berarti kakakku juga jadi stop panggil aku dengan sebutan Ibu, santai aja di sini mah, Kak. Oh ya, aku mau ambil laporannya, Kak.”
Wanita yang dipanggil Kakak oleh Kiyara itu tersenyum lembut, selama dia kerja ikut orang tua atau muda atasannya tak ada satu pun yang seramah Kiyara dan tidak gila hormat juga, membuatnya semakin nyaman bekerja di sini, meski sepertinya hanya café biasa tapi Kiyara mampu menggajinya dengan gaji yang cukup besar menurutnya, yang seorang anak panti, kebutuhan hidupnya tak sampai menghabiskan dua juta perbulan dan gaya hidup? Dia sama sekali tak terlalu menggilai hal seperti itu lebih memilih menabungkan sisa gajinya untu tabungan masa depan.
“Terima kasih, Kiyara. Emh apa boleh aku memanggil Adek?” tanya Lina.
“Tentu saja boleh, Kak … anggap aku Adek, Kakak itu lebih baik daripada Kakak memanggilku dengan sebutan Ibu,” jawab Kiyara.
“Emh, ini laporan bulan ini Dek,” ucap Lina dengan senyum yang mengembang.
“Makasih, Kak aku ke ruanganku dulu ya … dadah,” ujar Kiyara dengan riangnya … membuat Lina tak kuasa menahan senyumnya.
“Dia baik sekali,” cicit Lina ketika melihat Kiyara menutup pintu ruangannya kembali.
Ceklek …
“Sayang, kenapa lama sekali?”
Kiyara, telonjak kaget mendengar suara bariton ketika menutup pintu ruangannya ternyata dia melupakan sesuatu. “Astaghfirullah, kaget aku Mas … maaf-maaf tadi aku sekalian ambil ini juga soalnya,” ucap Kiyara sembari mengacungkan map yang dia bawa.
“Aku bosen nggak ada kamu di sini, bingung mau ngapain. Ini makanannya juga udah di anter sama karyawan kamu tapi kamunya nggak dateng-dateng,” ucap Dave, sedikit kesal pada istrinya itu karena bisa-bisanya melupakan dia yang sendirian di dalam ruang kerja istrinya itu.
“Iya, Masku Sayang … maafin ya, sini aku suapin deh makanannya … mau yang mana dulu? Dimsum apa rujak? Atau mau yang lain biar aku bilang ke karyawanku, gimana?” tanya Kiyara.
“Sini aku mau makan kamu dulu aja, tadi aku lihat di sana ada tempat istirahat, cukuplah buat kita berdua olahraga di sana,” jawab Dave sembari tersenyum mesum menatap istrinya.
"Eh, kok jadinya malah ke sana-sana sih Mas, nih aku suapin rujak bebeuknya dulu nanti keburu basi loh," ucap Kiyara mencoba mengalihkan perhatian Suaminyaa.
"No ... no ... no, mau kamu dulu ayo ke sana, dilarang menolak suami loh Sayang, nanti dosa," ucap Dave dengan menggoda istrinya.
.
.
Lah, modus itu mah si Dave pura-pura ngambek aslinya mah … wakakakkak …