
Mata Dave, membulat sempurna melihat tubuh istrinya yang sudah terendam air bathup hanya menyisakan kepalanya saja, itu pun bagian dagu sudah ikut terendam, membuat jantungnya berpacu cepat khawatir dengan istrinya.
“Astaghfirullah, Kiyara …” pekiknya, dan langsung menggendong tubuh Kiyara yang terasa sangat dingin.
Tubuh bagian depan Dave, ikut basah terkena air tapi dia tak memperdulikan itu sama sekali yang terpenting istrinya segera bisa terhangatkan. Meski terasa sangat berat, dia tetap mengangkat tubuh gendut istrinya itu yang semula berbobot 79 kg mungkin sekarang sudah bertambah akibat air yang membasahi tubuh istrinya. Dengan
hati-hati, Dave meletakkan tubuh istrinya yang polos itu di atas ranjang dan mulai mengeringkannya dengan handuk, mengolesinya dengan kayu putih, lalu langsung menyelimuti tubuh istrinya dengan sellimut tebal dan mendekapnya erat setelah ia melepaskan bajunya yang basah.
“Sayang, bangun …” ucap Dave yang kini sudah mulai tenang tak sepanik tadi, karena wajah Kiyara yang kini sudah tak seberapa pucat.
“Apa kamu pingsan dari tadi Sayang? Kenapa sampai dingin sekali seperti ini, maafkan aku yang tak langsung mencarimu ke apartemen,” ucapnya lagi sembari mengusap lembut pipi istrinya yang masih setia memejamkan matanya.
“Eungh …”
“Alhamdulillah … Sayang, kamu sadar?”
Mata bernetra coklat gelap itu memandang Dave dengan sendu. “Emh …”
Dave, yang senang melihat istrinya sudah sadar langsung saja menciumi wajah istrinya dengan semangat, bebannya, khawatirnya, hilang seketika. “Jangan cium-cium,” ketus Kiyara.
“Kenapa?” tanya Dave yang masih mencuri ciumannn dari Kiyara.
“Aku lagi marah sama kamu,” ucap Kiyara sembari memalingkan wajahnya.
“Maaf ya, kan hari ini aku janji mau ngelurusin semua … nanti habis duhuran di rumah sakit kita datangi temen-temen Mas ya, kita luruskan semuanya, sama aku juga mau ngobrolin hasil pemikiran aku semalam,” ucap Dave.
“Kalau masalah itu aku udah maafin kamu, tapi aku lagi marah sama kamu soalnya tubuh kamu ini udah berani-beraninya meluk perempuan lain di tempat umum dan parahnya lagi di depanku juga,” rajuk Kiyara.
“Hah, maksudnya gimana? Aku nggak pernah peluk-pel …” Dave, menghentikan ucapaannya ketika mengingat pertemuannya dengan Novi di tengah jalan tadi pagi.
“Sayang, jangan salah paham dulu … tadi Novi itu emang sengaja menghadangku di tengah jalan, waktu aku selesai membentaknya dia malah memelukku erat, tapi setelahnya apa kamu tidak melihatnya?”
Dave, melihat istrinya menggelengkan kepala lalu mencubit pipi tembab Kiyara dengan gemas, pantas saja istrinya itu salah paham karena tidak melihat kejadian tadi pagi sampai selesai.
“Ish, sakit,” ucap Kiyara sembari mengusap pipinya sendiri. “Lalu apa yang terjadi setelahnya?”
“Aku mendorongnya keras sampai dia jatuh terduduk di tempat umum dan menjadi pusat perhatian orang-orang,”
sambung Dave.
“Serius? Kamu mendorongnya Kak?” tanya Kiyara dan diangguki oleh Dave.
“Padahal, tadi pagi aku sudah memasak spesial untuk kita makan di rumah sakit, tapi saat aku sampai di rumah sakit kamu tidak ada dan tak kunjung kembali. Hp kamu juga aku telepon berkali-kali tapi tidak kamu angkat Sayang, membuatku khawatir dan akhirnya Mommy menyuruhku melihatmu di apartemen atau mencari di sekitaran apartemen dan rumah sakit.”
“Maaf … aku salah paham dan berpikir buruk tentangmu, aku takut kamu akan kembali jatuh cinta pada Novi,” cicit Kiyara.
“Hey, kenapa kamu bisa bilang seperti itu, memang aku pernah jatuh cinta sama Novi? Tahu dari mana kamu, Yang?” tany Dave sembari menangkup pipi Kiyara dan menghadapkan kepadanya.
“Kamu ini polos banget sih, aku itu nggak pernah jatuh cinta sama Novi cuman sebatas suka aja dulu soalnya dia dulu itu baik, pekerja keras buat keluarga dan sekolahnya dia dulu, pokoknya bedalah sama Novi yang sekarang apalagi tutur bahasanya jauhh banget sama Novi yang aku kenal dulu, so … jangan pernah berpikiran buruk aku bakal ketikung sama orang ketiga, di rumah tangga kita hanya ada aku kamu dan anak-anak kita kelak,” ucap Dave lalu memagut bibir ranum istrinya.
Cup …
“Terima kasih, Sayang. Kamu sudah enakkan?” tanya Dave sembari mengusap lembut bibir istrinya.
“Alhamdulillah, sudah Kak,” jawab Kiyara malu-mslu.
“Ya sudah aku mau pamit sama Mommy buat mengurus club yang aku hibahkan ke tean-temanku dulu, kamu ganti baju ya kamu harus ikut aku,” ucap Dave.
“Pamit ke rumah sakitnya sama aku aja,” jawab Kiyara.
Dave, terkekeh … “Aku hanya pamit lewat telepon Sayang, sana pakai bajumu dulu atau …” ucap Dave sambil tersenyum mesum.
“Fine …”
20 menit berlalu, kini Dave dan sang istri sudah berada di dalam taxi menuju tempat usaha Dave semasa kuliah dulu. Tangan keduanya saling bertaut satu sama lain.
“Kak, aku lupa bilang tadi aku kan pas habis lihat kamu sama cewek itu, langsung puter balik nyari makanan di tempat biasa cuman aku masuk ke resto western, kamu tahu aku ketemu siapa?”
Dave, menatap gemas istrinya katanya mau bilang sesuatu eh malah ujung-ujungnya memberi pertanyaan. Sudah
seperti acara tanya jawab saja.
“Siapa? Mana aku tahu, Sayang.”
“Aku ketemu Kak Tama di resto tadi,” ucap Kiyara sembari menatap dalam wajah suaminya.
“APA?”
"Calm down, Sayang ... dia nggak godain aku kok, malah bikin tensiku naik," ucap Kiyara sembari membelai rahang tegas suaminya.
"Kamu panggil aku Sayang?" ucap Dave malah teralihkan fokusnya karena mendengar istrinya memanggil Sayang padanya.
"Iya ..."
"Akhirnya ..." ucap Dave dengan senang mengabaikan rasa cemburunya tadi.
.
.
.
Sorry kemaleman updatenya ... aku tambahin banyak kata dari biasanya ... selamat membaca readersku tersayang.