
AUTHOR POV
.
“Ada rapat, aslinya aku mau libur hari ini tapi rapat kali ini nggak bisa diwakilkan sama sekali jadi aku tetep harus turun tangan,” jawab Dave.
“Emh, kebetulan kalau begitu nanti ada Fani sama Edo kesini buat nitipin Hisyam katanya, mereka mau ngurus ibunya Edo dulu di rumah sakit, kenak stroke katanya jadi Hisyam dititipin di sini, aku iyain aja toh Hisyam anaknya baik, penurut, cuman emang agak nggak cocok aja sama Syta, tapi dia ngalah banget anaknya,” ucap Kiyara.
“Mama, aku nggak suka Hisyam ke sini!” teriak Syta.
“Astaga, Kakak … Hisyam-hisyam, panggil Aa, kok nggak sopan begitu, Mama sama Papa nggak pernah loh ya ngajarin anak-anaknya nggak sopan begitu,” omel Kiyara.
“Solly, Mama,” cicit Syta.
~~
Suasana rumah kembali sepi setelah sarapan bersama, ketiga anaknya lebih memilih untuk kembali ke dalam kamarnya untuk membaca buku, meski belum sekolah ketiganya sudah bisa membaca meski masih mengeja dan semua itu tentu saja berkat asuhan dan didikan kedua orang tuanya. Kamar mereka masih menjadi satu dengan ranjang berbeda dan di tata dengan apik dan rapi tentunya, serta meja belajar kecil untuk masing-masing dari ketiganya.
“Kakak … sini Papa punya sesuatu untukmu,” teriak Dave dari arah luar kamar.
“Hey, Papa memanggilmu,” ucap Lendra pada saudara kembarnya itu.
Syta, menatap datar wajah Adiknya lalu mengalihkan kembali perhatiannya pada buku dongeng yang dia pegang karena menurutnya Adiknya itu hanya sedang mengerjainya. Karena seakur-akurnya mereka, tetap saja akan ada saatnya saling mengerjai layaknya seperti kakak beradi di luaran sana.
“Hey, apa Kakak tak mendengalku?” tanya Lendra, yang meski terlihat kalem dia sebenarnya merupakan anak paling jahil dari ketiga saudara kembar itu, tapi selalu tersamarkan oleh tatapan tenang di wajahnya.
“Aku akan memastikannya, diam jangan belisik,” ucap Syta.
“Dasar cadel, sehalusnya aku yang lebih dulu lahil agal kamu jadi adikku saja,” gumam Lendra.
Sementara itu, Rendra … dia hanya diam menyaksikan kedua adiknya seperti biasa, selalu saja beradu mulut, saling meledek cadel padahal ketiganya masih sama-sama cadel, hanya Rendra yang bisa meski sedikit sedikit belum semua kata yang ada huruf Rnya dia bisa tapi dia lebih mending daripada kedua adiknya itu.
“Kakak, Papa ada sesuatu untukmu.”
“Kali ini kamu tidak membohongiku, bye,” ucap Syta yang langsung beranjak dari kasurnya meninggalkan saudara laki-lakinya di dalam kamar berdua.
“Jangan suka menggodanya seperti itu, jika sampai menangis kita sendili yang susah … suallra tangisannya kencang sekali,” ucap Rendra.
“Tapi, Kakak memang sangat lucu jika dikeljain Bang, jadi aku tak tahan jika tak menggodanya,” kilah Lendra, meski itu benar adanya tapi tetap saja, mendengar tangisan Syta, membuat gendang telinga hampir pecah.
“Ingat jangan sampai membuatnya menangis,” pesan Rendra karena bagaimana pun menggoda adik perempuannya itu memang menyenangkan.
Tak lama berselang Syta kembali datang dengan membawa boneka beruang yang pas digendongan tangannya, lalu memamerkannya pada kedua saudaranya.
“Bagus tan?”
“Biasa saja, “ jawab Lendra dan langsung mendapat pelototan tajam dari Syta.
“Ini bagus, kalena dikasih Papa dan cuman aku yang dibelikan Papa, Abang sama Adek enggak,” ucap Syta dengan menggebu-gebu sampai hidung kecilnya itu kembang kempis dibuatnya.
“Ya, kalena kami tidak main mainan gadis kecil sepeltimu. Kami mainnya bola, lobot-lobotan, kejal-kejalan, tembak-tembakkan, iya kan Bang?” ucap Lendra tak kalah nyolot seperti Kakaknya.
“Hus, ini kenapa Kakak sama Adek, berantem, heum?” tanya Kiyara yang datang sembari membawa piring berisi kue yang baru saja dia buat, disusul Hisyam di belakangnya putra sahabatnya yang usianya dua tahun di atas triplets.
“Ini, Adek bilang boneka Kakak jelek,” adu Syta.
“Aku hanya bilang biasa saja, bukan jelek,” bela Lendra.
“Sudah-sudah jangan berantem, ini ada Aa mau main sama kalian, jangan berantem terus Adik Kakak itu harus saling menyayangi,” ucap Kiyara dan diangguki patuh oleh ketiganya meski anak ke- 2 dan ke- 3 masih mengerucutkan bibirnya.
“Maaf ya Aa, seperti biasa Syta dan Lendra tak pernah akur,” kata Kiyara pada Hisyam.
“Iya, tidak apa Tante … malah rame jadinya, seru … daripada di rumah, Hisyam tidak ada temannya,” ucap Hisyam, ya memang karena dia anak tunggal sehingga di rumah selalu merasa sepi apalagi jika kedua orang tuanya sibuk bekerja.
“Nanti, Tante akan bilang pada Mami dan Papimu agar memberimu adik,” kata Kiyara dan diangguki oleh Hisyam.
“Terima kasih, Tante.”
“Sama-sama anak manis, ini kuenya di makan sama-sama ya, jangan makan di atas kasur, makan di atas lantai saja biar nggak kotor di kasur dan anak-anak Mama disemutin,” pesan Kiyara dan diangguki patuh oleh keempatnya.
Klek …
Pintu sudah di tutup oleh Kiyara, meninggalkan anak-anak kecil itu di dalam kamar, membagi kuenya sendiri. Sebagai anak tertua di dalam kamar, Aa atau Hisyam dengan adil membagi kue satu per satu kepada triplets.
“Makanlah, dulu Syt … mainnya nanti lagi,” ucap Hisyam.
“Jangan menggangguku, ulus … ulusan Hisyam sendili,” ketusnya tapi malah terlihat sangat menggemaskan di mata Hisyam, yang mana membuatnya terkekeh kecil.
“Ndak boleh tawa,” sentak Syta.
“Adek, jangan sepelti itu, tidak sopan dan panggil Aa jangan namanya!” ucap Rendra mengingatkan Adiknya itu.
“Ndak mau, Hisyam ini selalu danggu-danggu Kakak, suka usyilin Kakak, Kakak ndak like,” gerutu Syta dengan bibir mengerucutnya.
“Hahahaha, oke-oke, aku tidak akan mengganggumu lagi, tapi janji ya mau main sama Aa … jangan marah-marah terus sama Aa,” bujuk Hisyam, karena memang selama ini Hisyam selalu menggoda Syta sampai anak kecil itu marah-marah dibuatnya dan ya seperti anak kecil lainnya, akan berakhir menangis, meski begitu Hisyam selalu bisa membujuk Syta untuk berhenti menangis, tapi kali ini hisyam malah menawarkan perdamaian pada gadis kecil nan manis itu.
“Janji ndak nakal-nakal lagi?” tanya Syta dengan menatap lekat wajah Hisyam.
“Heum janji,” jawab Hisyam.
“Plomes …” ucap Syta sambil menyodorkan jari kelikingnya dan di sambut kerutan di dahi Hisyam.
“Maksudnya?”
“Sini kelingkingna,” pinta Syta dan tanpa aba-aba langsung mengaitkan kelingkingnya dan kelingking Hisyam.
“Plomes,” ucapnya lagi.
“Oh, promise,” ucap Hisyam dan diangguki oleh Syta.
.
.
Next, kelanjutan tingkah bocil apa tingkah bapaknya ya he he he ... atau langsung mau buat judul baru buat gedenya triplets? komen yuk Kakak-Kakak Tantik dan Dantengnya, Nasyta ... Nasyta tunggu jempolna duga yaaa ...
.
.
Sehat dan bahagia selalu Readers ... selamat beraktifitas, semangat !!!