Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Keberanian Yang Tiba-Tiba Muncul


AUTHOR POV


Kiyara berjalan seorang diri di jalanan kompleks perumahannya, sembari memasukkan tangan pada kantung saku jaketnya karena udara Bandung di pagi hari yang menurutnya sangat dingin. Beberapa kali ia juga bertemu dengan tetangga kompleksnya yang sedang jalan-jalan pagi, entah dengan pasangannya, cucunya, ataupun seorang diri sama sepertinya.


“Loh, Ki sendirian aja,” ucap lelaki seusia Kiyara yang menyapanya, dia Alfi teman Kiyara saat masih kecil dulu tapi sudah lama tak pernah bertemu karena berbeda sekolah, dan Alfi juga baru kembali dari studinya di luar negeri.


“Iya, suami lagi nggak enak badan, sudah lama kembali ke Bandung?” jawab Kiyara dengan ramah dan memberi pertanyaan kembali pada teman lamanya itu.


“Sayang, kok  kamu ninggalin aku sih,” ucap wanita yang tiba-tiba berdiri di samping Alfi.


“Sorry, Sayang aku menyapa tetangga sekaligus kawan kecilku dulu … ini kenalin tunangan aku, namanya Arin, Arin ini Kiyara,” ucap Alfi mengenalkan tunangannya pada Kiyara.


Wajah Kiyara tiba-tiba berubah mimik, terlihat sedih, takut dan tak suka dalam waktu yang bersamaan.


“Waow, kau terlihat sedikit lebih kurus daripada terakhir kita berjumpa di saat SMA dulu. Apa suamimu tak bisa memberimu makan, sehingga kau menguruskan perut buncitmu itu? Ha ha ha, tapi tenang saja kau masih terlihat gendut meski ya harus aku akui tak segendut dulu. Oh ya, jika suamimu pengangguran suruh saja datang ke purasahaan tempatku bekerja sepertinya ada lowongan sebagai office boy di sana,” ejek Arin membuat Alfi melirik tunangannya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Kiyara, tersenyum sinis … entahlah kemana rasa takutnya itu pergi ketika melihat kembali Arin, salah satu teman SMAnya yang sangat suka membullynya dahulu. Dan apa katanya? Suaminya pengangguran? Ha ha ha rasanya Kiyara ingin tertawa lepas saat ini, tapi biarlah dulu Arin merasa di atas angin sebelum menjadi pengangguran. “Aku harus memberinya perhitungan,” gumam Kiyar dalam hati.


“Wah, ternyata tukang bully tetap akan jadi tukang bully, sekalipun sudah berpendidikan tinggi katanya. Sayang sekali, tak punya tata krama sama sekali, oh ya Alfi apa kamu tak mau mempertimbangkannya lagi? Aku rasa dia sangat tak pantas untukmu, lihatlah kau lulusan pesantren terbaik di Jawa Timur, lulusan kampus ternama di luar negeri, dan malah terjebak dengan perempuan macam dia,” ucap Kiyara sembari tersenyum mengejek pada Arin, apalagi ketika melihat tangan rivalnya itu mengepal erat.


“Jangan dengarkan dia Sayang, ingat kita sudah di jodohkan sedari kecil,” ucap Arin sembari bergelayut manja di lengan Alfi yang terdiam sejak tadi.


“Ha ha ha, Alfi kau punya hak untuk menolak bukan? Saranku carilah jodoh yang sepadan denganmu yang menyayangimu tulus apa adanya, karena aku rasa dia tak tulus dalam mencintaimu. Satu lagi Alfi, kamu ingat Herlina yang rumahnya di dekat lapangan dulu? Dia sudah kembali ke Bandung, dia sangat cantik dengan penampilan syar’inya, tipe idamanmu sekali bukan?” ucap Kiyara.


“Dasar GENDUT … ! Jangan bicara sembarangan, jangan menghasut tunanganku awas kau sialaannnn !” teriak Arin sembari berusaha menggapai tubuh Kiyara, namun di hadang oleh Alfi.


“Jaga sikapmu Arin, jangan membuatku malu,” bentak Alfi yang membuat Arin langsung diam seketika, karena menurutnya Alfi adalah lelaki pendiam yang sangat jarang marah.


“Aku permisi dulu Alfi, tolong pikirkan ucapanku lagi kau berhak memilih yang pantas dan cocok di hatimu, bicarakan baik-baik pada orang tuamu. Atau jika kamu memang menyukai Arin, tolong ubah dia, terima kasih,” kata Kiyara sebelum dia kembali melanjutkan langkahnya menuju tukang bubur.


“Astaga, keberanian dari mana itu? Kenapa aku jadi berani dan bisa mengeluarkan kata-kata itu? Seperti bukan aku saja,” lirih Kiyara sembari memegangi dadanya yang terasa berdegub kencang karena upayanya melawan Arin, dia sudah berjalan cukup jauh dari Arin dan Alfi tapi masih terdengar suara umpatan dari teman SMAnya itu, membuatnya geleng-geleng kepala.


“Hufft … sudahlah jangan dipikirkan, nah itu gerobak si Mamang bubur udah keliatan,” ucap Kiyara sembari terus berjalan menuju arah tujuannya.


“Mang bubur spesialnya dua bungkus ya, sama tambah sate usus dan telur puyuhnya sepuluh ribu, tambah kerupuknya juga 5 ribu ya,” pesan Kiyara pada Mamang-mamang penjual bubur ayam.


“Siap, Neng … mangga duduk dulu,” ucap penjual itu dengan ramah pada pelanggan pertamanya pagi ini.


“Iya, Mang.”


“Kuahnya mau campur atau di pisah aja, Neng?”


“Pisahin aja, Mang.”


Tak sampai 10 menit, pesanan Kiyara sudah siap di bawa pulang ke rumah, setelah wanita itu membayarnya. Semakin siang seperti ini, jalanan kompleks sudah akan ramai dengan hilir mudik kendaraan roda dua maupun roda empat, karena aktifias mereka masing-masing, ada yang membeli sarapan seperti Kiyara, ada yang pergi ke pasar, ada juga anak-anak berseragam sekolah yang sudah berangkat dari pagi karena jarak sekolah yang cukup jauh, pun dengan orang-orang berseragam kantoran.


Sama  seperti tadi saat berangkat menuju tukang bubur, kini juga dia membalas sapaan para tetangganya dengan senyuman ramahnya sesekali dia juga menyapa terlebih dahulu. Di nikahi lelaki seperti Dave, membuat Kiyara memiliki rasa percaya diri yang membuatnya sedikit lebih berani bertemu dengan orang banyak, tak seperti dulu yang sangat jarang keluar rumah dan berbaur dengan tetangganya.


“Dari mana, Dek?” sapa Asti yang sedang berjalan-jalan di depan rumah Ayah dan Bunda sembari mendorong kereta bayi.


“Dari beli bubur Teh, Mas Dave lagi nggak enak badan,” jawab Kiyara sembari mengangkat sedikit belanjaannya.


“Oh, ya udah atuh buru masuk bisi si Dave udah nyariin,” ucap Asti dan diangguki oleh Kiyara.


“Iya, Teh … aku masuk dulu ya, nanti kalau ada waktu aku main ke rumah,” ucap Kiyara.


“Iya,” jawab Asti sembari tersenyum melihat adik iparnya itu, teringat jelas di ingatannya beberapa waktu lalu Kiyara mengeluh kepadanya, karena rumah yang bersebrangan seperti ini ternyata tak melulu menguntungkan, kadang dia merasa tak enak hati jika sehari saja tak berkunjung ke rumah orang tuanya merasa berdosa katanya. Padahal dia di rumahnya sendiri pun tak pernah diam ada saja yang harus dikerjakannya.


“Anak yang berbakti ya seperti dia, tak lupa dengan orang tua meski sudah menikah malah lucu aja sekarang dia, suka bingung sendiri padahal Bunda udah bilang jangan bingungin apapun lagi, he he he, perempuan perasa sekali adik iparku itu,” gumam Asti sembari melihat gerbang rumah adik iparnya yang di tutup dari dalam.