Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Kakak Beradik


Pelukkan hanagt seorang Kakak itu kini berpindah pada sosok tegap yang sedari tadi sudah memasang wajah cemberut, dan dengan senang hati Dave menerima pelukkan hangat itu karena dia pun sebetulnya menyayangi Dafa seperti Kakak kandungnya sendiri, apalagi semenjak Dafa dan Kiyara membantunya saat terkena luka tusuk bertahun silam.


“Capek, Bang?” tanya Dave setelah meeka saling melepas pelukkan.


“Nggaklah, kan aku lelaki tangguh. Oh ya, kamu ke bandara jam berapa?” tanya Dafa.


“Habis ini, mangkannya aku nunggu di lobby mau bawa barang Abang ke apart sekalian, jadi Abang di sini sama Kiyara ke kamar Mommy aku mau ke apart langsung ke Bandara,” jawab Dave.


“Serius?” tanya Dafa.


Kiyara dan Dave, mengangguk bersamaan. “Iya, Bang … sorry ya Dave merepotkan Abang. Oh, ya dan tenang aja di kamar Mommy ada sofa yang lumayan besar buat Abang istirahat, pokoknya Dave, titip Kiyara dan Mommynya ya Bang,” ucap Dave sembari menatap serius wajah Kakak Iparnya.


“Iya, iya, … santai aja kayak sama siapa aja kamu ini, dan ini aku titip koperku,” jawab Dafa dengan tulus.


“Ya sudah aku pamit ya, Yang … Bang, assalamu’alaikum,” ucap Dave sembari membawa koper kecil milik Dafa.


“Wa’alaikumsalam,” jawab keduanya.


“Hati-hati ya Kak, jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai Bandara nanti, pokoknya selalu kasih kabar,” tambah Kiyara sembari mencium punggung tangan suaminya dan di balas anggukkan kecil oleh Dave.


**


Kiyara dan Dafa, tampak berbincang dengan Mommy Dave dengan akrab meski terhitung keluarga baru tapi mereka bertiga sudah kenal sejak lama, sehingga tak ada lagi kecanggungan itu. Sebagai menantu, Kiyara sangat pandai memposisikan diri dengan baik sehingga drama-drama ikan terbang tidak terjadi.


“Mas Izam, sepertinya akan ke sini Mom, katanya mau melihat perkembangan Mommy, sekalian dia mau bertemu seniornya waktu kuliah dulu,” kata Dafa.


“Oh ya? Wah … senang sekali bertemu dengan dia, sepupu kalian itu pintar, tampan, dan lucu apalagi kalau ngomong medog Surabyaannya kentara sekali,” jawab Mommy Dave yang memang menyukai pembawaan Izam.


Kiyar, tersenyum tulus … senang rasanya melihat mertuanya kini sudah berangsur-angsur pulih.


“Mom, tidurlah ini sudah malam, kalau Kak Dave tahu pasti dia akan marah,” ucap Kiyara setelah melihat jam di dinding rumah sakit yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam, karena biasanya Mommynya itu akan tidur di pukul setengah delapan atau paling malam jam setengah sembilan malam dan ini sudah lebih dari biasanya.


“Iya, Nak … ini Mommy juga sudah mengantuk, kalian jangan tidur di sini ya, tidur di apartement saja, hoamm …"


“Iya, Mom … istirahatlah …” kata Kiyara sembari mengusap lembut bahu mertuanya itu dan tak berselang lama dengkuran halus terdengar.


“Sudah tidur, Kak … mau pulang sekarang?” tanya Kiyara, sembari membetulkan selimut Mommynya lalu mengecup pipi wanita yng sudah mempertaruhkan nyawanya untuk suaminya itu.


“Boleh, tapi beli makan dulu ya.”


“Siap, Kakak tamvanku.”


“Kamu ini, masih aja suka jahil sama Kakak.”


“Jahil tanda sayang, Kak … Oh, iya Kakak mau makan apa?” tanya Kiyara, kini mereka sudah berada di luar ruang rawat Mommy Dave.


“Aslinya Kakak mau makan Kakak Iparmu tapi karena nggak ada yaudah deh, Kakak mau makan ramen aja kayaknya enak.”


“Kakak, dasar pikirannya sama aja kayak Kak Dave. Yaudah ayo aku ajak makan ramen enak.”


Dafa, tersenyum lembut, sengaja menggoda Adiknya itu karena tadi dia sempat mendapati adiknya tengah bersedih meski dapat ditutupi oleh Kiyara dengan senyum dan kejahilannya, tapi sebagai Kakak dia tahu pasti adiknya tengah menutupi sesuatu, dan sebagai Kakak dia hanya bisa menghiburnya dengan cara seperti ini tak bisa langsung bertanya ini itu atau mendekapnya langsung. Katanya sih setiap Kakak selalu bisa membuat adiknya merasa tenang dan nyaman dengan caranya sendiri dan mungkin inilah cara Dafa untuk adiknya.