Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Ayo Kita Buatkan !


Pov DAVE


RUMAH DAVE (SEBRANG RUMAH Kiyara)


“Kak, kenapa kita ke sini? Kenapa nggak ke kamar Kiyara aja, di sana juga ada kamar mandi buat kita bersih-bersih,” ucap istriku ini tak tahu saja jika ini adalah salah satu modus pengantin baru.


“Di rumahmu masih ramai saudara Bunda dari Surabaya, lalu Adik Ayah yang dari Jakarta juga, jadi rumahmu sangat ramai,” jawabku.


“Lalu kenapa Mommy nggak ikut kita ke sini?”


“Mommy mau bobok sama cucunya dulu sebelum kia berangkat ke Singapur nanti, jadi kita di sini aja sekalian packing barang-barang yang mau kita bawa ke sana, tadi aku udah izin Bunda, Ayah, dan yang lainnya jug, jadi kamu tenang aja ya,” ucapku meyakinkan Kiyara dan memang adanya begitu.


“Ya sudah aku mau mandi dulu ya, dan apa tadi Kak Dave sudah membawa bajuku?” tanyanya.


Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban, dan langsung menyuruhnya masuk ke dalam kamar mandi kamarku. “Nanti, bajunya Kakak antar.”


Kiyara sudah masuk ke dalam kamar mandi tanpa perlawanan sedikit pun, sementara aku langsung berlari ke arah kamar mandi luar untuk segera membersihkan diri di sana tanpa berniat memberi baju ganti buat Kiyara terlebih dahulu. Aku mandi super kilat dan segera meraih handuk untuk menutupi kebanggaanku dan berjalan cepat menuju kamarku.


Ceklek …


“Aaaaaa … Kak Dave.”


.


.


.


Puk …


Bahuku di tepuk pelan dari belakang lalu tangan putih melingkar di pinggangku, membuat lamunan tentang hari pernikahanku (FLASHBACK END) buyar begitu saja.


“Kenapa Sayang?” tanyaku lembut.


“Mommy menginginkan cucu, Kak … tapi aku takut ada yang bermasalah dengan kesuburanku karena aku dulu sempat tidak teratur dalam menstruasi,” jawabnya lirih, aku membelai punggung tangannya untuk menenagkan kegundahan hatinya.


“Ayo kita kembali ke dalam kamar, di sini udaranya semakin dingin,” sambungku mengajak Kiyara, dengan patuh Kiyara mengikuti langkahku masuk ke dalam kamar.


“Kak, bagaimana tadi hasil pemeriksaan dokter … kenapa tidak langsung mengatakannya di hadapan Mommy dan aku seperti biasanya?” tanyanya dengan meraut heran dan penasaran.


“Alhamdulillah, semuanya membaik kata dokter ini semua keajaiban karena belum sampai selesai tahap pengobatan pertama Mommy sudah menunjukkan perkembangan yang sangat baik,” jawabku dengan senang, meski entah mengapa tetap ada rasa sesak di dalam hati.


“Alhamdulillah …,” pekiknya senang lalu menghambur kepelukkanku dengan riang, membuat rambut sebahunya bergerak lucu.


“Lalu, Kak?”


“Ya, karena Kakak tidak ingin Mommy langsung merasa senang dan meminta pulang, jadi Kakak tidak mengucapkan semuanya pada Mommy agar Mommy tetap menyelesaikan pengobatannya sampai selesai di sini.”


“Betul, Mommy pasti akan langsung mengajak kita pulang dan tidak menyelesaikan pengobatannya dengan baik, karena beberapa waktu lalu juga Mommy sempat merengek ingin pulang. Oh iya, kata Kak Dafa Kakak akan pulang beberapa hari dan Kak Dafa akan ke sini menggantikan Kakak untuk sementara?”


Aku mengecup keningnya sembari memejamkan mataku sebentar, sedikit kesal karena Kak Dafa malah lebih dulu memberi tahu Kiyara padahal niatku akan memberitahunya lusa, saat Kak Dafa sudah berada di negara ini.


“Emh, ada pekerjaan yang tidak bisa diwakilkan oleh staf Kakak … apa kamu keberatan jika Kakak pulang sebentar dan di gantikan oleh Kak Dafa?”


Tangannya, memelukku erat lalu membenamkan kepalanya di dadaku, dia menggeleng kecil. “Tidak, aku tidak keberatan. Kakak, kerja saja aku tidak masalah di sini bersama Mommy berdua pun aku bisa, Kak … Kakak tenang saja dan percayakan semuanya pada Kiyara,” jawabnya sembari menatap wajahku dengan intens, dan aku balas menatapnya dengan penuh damba, pipi chubbynya yang putih bersih, bibirnya yang penuh nan ranum, hidungnya yang sedikit mancung, matanya yang bulat dan alis tebalnya membuatku gemas sendiri dan sangat ingin memakannya saat ini juga.


“Tadi Mommy memnita cucu kan?”


“Emh,” jawabnya sembari mengangguk samar.


“Ayo, kita buatkan!”


.


.


.


Sorry, telat update untuk hari ini ... selamat membaca, ya readers ... selamat berisitirahat ...