Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Belum Ada Perkembangan


Kiyara, membelalakan matanya ketika mendengar bahwa wanita bernama Tya yang merupakan pacar Cakra ternyata adalah Adik Tiri sang Kakak. Wanita yang ia gadang-gadang pernah mengancamnya dari sewaktu kuliah dulu sampai beberapa waktu terakhir ini, karena selalu memojokkannya atas sikap Cakra yang katanya banyak berubah setelah tinggal di Bandung dan kenal dengannya.


"Kalau wanita itu tahu aku adik Kak Dafa, pasti dia makin benci dan salah paham sama aku Ya Allah, gara-gara Cakra lebih memilih tinggal di Bandung aja aku udah disalah-salahkan," ucap Kiyara dalam hati.


"Iya kah, Kak? Tya Anindita adik tirinya Kak Dafa?" tanya Cakra antusias.


"Iya, Tya ini adik tiri Kakak yang tinggal di Surabaya," jawab Dafa.


"Dia pacar aku, Kak dari awal SMA dulu. Ya Allah, ternyata adik tiri Kakak ... dunia emang bener-bener sempit kali ya," ujar Cakra.


"Itu adik tiri Kakak, Ki dan masih ada dua lagi mereka usianya dibawah kamu."


"Oh, iya Kak ... berarti mereka adik-adikku juga ya?" tanya Kiyara dengan pura-pura tersenyum menutupi keterkejutannya.


"Iya betul."


"Permisi Teh, ini pesenan Aanya, sama titipan Teteh tadi tiga perangkat alat makan," ucap salah satu pramu saji yang bekerja di cafe Kiyara.


Mereka memakan makan siangnya dengan lahap dan diiringi sedikit candaan serta obrolan ringan membahas apapun yang terlintas di benak mereka.


***


"Gimana sama Dave?" tanya Asti yang kini tengah duduk di samping kursi kemudi yang di tempati Kiyara, selepas makan siang tadi Dafa ada urusan mendadak sehingga terpaksa meminta bantuan Adiknya untuk mengantar istrinya pulang ke rumah mereka.


"Belum ada perkembangan, toh aku juga nggak berharap banyak Kak, inget ya aku cuman kagum sama Kak Dave bukan suka atau cinta tapi K A G U M ... nggak kurang dan nggak lebih," ujar Kiyara sembari menatap jalanan yang ada di hadapannya.


Sebetulnya jika boleh jujur, mungkin perasaan yang awalnya kagum itu kini sudah bermetamorfosis menjadi sebuah rasa cinta dan sayang, bagaimana tidak? Setiap hari mereka selalu berjumpa dengan segala peristiwa yang mengiringi hari-hari mereka membuat Kiyara semakin terkesan dan terkagum-kagum dengan kepribadian Kakak kelasnya dulu.


"Ah, iya-iya yang cuman kagum. Tapi ya, Ki ... kita nggak akan pernah tahu takdir di depan sana seperti apa, mending dari sekarang kamu sudah mulai mencoba, berusahalah jika memang kamu menginginkan imam seperti Dave, berusaha yanh dalam artian wajar aja sih jangan terlalu menggebu-gebu, santuy tapi mak jleb," ucap Asti menanggapi ucapan adik iparnya itu.


"Aku mau berdoa saja Teh, usahanya melalui doa kalau mau usaha mepet-mepet ke Kak Dave, aku pikir kayak yang gimana gitu. Aku juga nggak mau mendahului takdir Allah, biar siapapun itu jodohku ... semoga dia selalu menjaga diri dengan baik, sayang sama orang tua, tidak lupa dengan kewajiban dia sebagai muslim," ucap Kiyara.


Asti menganggukkan kepalanya. "Siapa pun itu semoga tiba di saat yang tepat untuk wanita hebat, Adikku ini," ujar Asti tulus, memang Asti adalah salah satu sosok orang luar yang mengagumi Kiyara karena kehidupannya yang penuh dengan kejutan dan bertambah kagum lagi ketika dia sudah menjadi bagian dari keluarga Kiyara, sosok yang terlihat tegar nan kuat itu ternyata begitu rapuh, membuatnya semakin banyak belajar dari gadis itu.


"Aamiin ... doain ya Teh, semoga dia juga mau menerima segala kekurangan Kiyara ini terutama fisik Kiyara," kata Kiyara dengan lirih.


"Heeyy, you'r beatifull ... hati kamu, wajah kamu, cantik Ki. Dan inget apa yang aku bilang ini, orang yang akan datang nanti untuk menjadikanmu separuh hidupnya tidak akan pernah melihat fisikmu bagaimana, tapi dia akan jauh mempertimbangkan bagaimana hatimu Ki, cukup percayakan semuanya pada Allah."


"Iya, Teh ... semoga ya."


Mereka berdua terdiam, menikmati jalanan menuju rumah mereka ditemani alunan musik yang tengah hits belakangan ini, lagu yang menceritakan kerisauan seorang anak muda yang memasuki usia 20 tahunan.


***


Lika-liku perjalanan


Ku terjebak sendirian


Tumbuh dari kebaikan


Berusaha pendamkan kenyataan bahwa


Takut tambah dewasa


Takut aku kecewa


Takut tak seindah yang kukira


Takut tambah dewasa


Takut aku kecewa


Takut tak sekuat yang kukira


***


"Lagunya gini amat, bikin Teteh mikir aja," seloroh Asti dipertengahan lagu yang masih mengalun pelan.


"Memangnya kenapa Teh? Takut apalagi coba kalau Teteh mah, udah tenang udah ada yang ngimamin," ucap Kiyara.


***


Pertengahan 25


Selanjutnya bagaimana?


Banyak mimpi yang terkubur


Mengorbankan waktu tidur


Ku tak tahu apa lagi yang 'kan kukejar


***


"Iya sih, dan lagian cita-cita Teteh dulu juga setidaknya udah banyak yang terwujud, sekarang udah mau masuk usia 25 tinggal mikir lagi gimana nanti merawat bayiku ini, terus mendidiknya, tapi Teteh beruntung, teramat beruntung malah bisa jadi istrinya Kakak kamu, Ki. Laki-laki dengan sejuta pesonanya, makasih ya ... secara tidak langsung jodoh Teteh datang di perantarai oleh kamu," ucap Asti sembari mengelus perut buncitnya.


"Sama-sama Teh. Tapi ya, sekarang malah aku yang kepikiran rasa-rasanya aku kok masih gini-gini aja belum banyak perubahan yang berarti di kehidipanku," ucap Kiyara.


"Kamu udah banyak berubah Ki, kamu merasa belum karena memang banyak yang ingin kamu ubah."


Kiyara manggut-manggut membenarkan ucapan Kakak Iparnya itu.


"Huft, iya-ya ... eh itu mobil siapa Teh?" tanya Kiyara pada Asti ketika mendapati mobil asing terparkir di halaman rumahnya.


"Tamunya Ayah kali."