Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Bipolar?


“Sayang, kamu kenapa menangis hem?” tanya Dave khawatir, sebab saat masuk ke dalam kamarnya ia sudah di


suguhi oleh istri gendutnya itu menangis sesenggukkan di dekat jendela balkon, sembari memegangi hpnya.


“Mas … El sakit, hiks … kasihan … dia masih terlalu kecil untuk menerima suntikkan,” jawab Kiyara dengan tangisan yang semakin kencang dan itu sukses membuat Dave khawatir, sebab dia sangat tahu jika Kiyara adalah gadis yang tak mudah menangis di hadapan orang lain meski itu dirinya sendiri.


“Hey, kenapa semakin kencang begini nangisnya, jangan bikin Mas khawatir … memangnya El sakit apa?” tanya Dave yang kini mulai merengkuh istrinya ke dalam pelukkannya.


“Hiks …. Hiks … hiks … pokoknya El sakit, tadi nangis hiks … kenceng banget,” jawab Kiyara sembari sesenggukan.


“Iya … iya, sekarang kamunya jangan nangis … ayo sini duduk di sini,” ajak Dave.


Dengan pelan Kiyara di bantu Dave untuk duduk di pinggiran ranjang, meski otaknya masih berpikir keras tentang keadaan istrinya yang sangat sensitif ini, tapi dia tetap diam dan tak menyinggungnya terlebih dahulu tentang perubahan sang istri. “Kamu mau istirahat dulu? Tiduran aja gak apa-apa.”


“Emh,” jawab Kiyara sembari merebahkan dirinya di ranjang tapi tangannya tetap memegang tangan suaminya.


“Jangan tinggalin aku ya, Mas.”


Dave, tersenyum kecil lalu mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut. Dia sangat senang dengan Kiyara yang seperti ini meski sedikit aneh tapi rasanya dia menjadi suami yang sangat dibutuhkan oleh istrinya, karena dulu dia berpikir Kiyara adalah gadis yang terlalu mandiri, meminta bantuan padanya saja segannya bukan main, apalagi


bersikap manja seperti ini bisa dihitung jari selama masa pernikahannya.


“Kamu kenapa Sayang, kenapa moodmu belakangan ini naik turun, lalu sekarang sangat sensitif, apa kamu terkena bipolar atau sakit apa?” gumam Dave dalam hati, meski tadinya dia senang dengan perubahan Kiyara yang mendadak menjadi manja padanya, lama-lama jika dipikirkan kejadian beberapa hari belakangan ini dia ngeri sendiri, karena perubahan Kiyara bisa dikategorikan ekstrim oleh dia yang sangat mengenal kepribadian istrinya sendiri itu.


Tok … tok … tok …


Dave menoleh ke arah pintu, lalu kembali lagi menatap istrinya yang ternyata sudah tertidur pulas dengan masih


“Nak, boleh Mommy masuk?” tanya sang Mommy di balik pintu.


Ceklek …


“Boleh, Mom … masuk saja,” ucap Dave sembari membuka pintu semakin lebar. “Daddy di mana, Mom?”


Klek … pintu kembali di tutup oleh Dave dan membiarkan Mommynya masuk ke dalam kamarnya.


“Daddymu ada di kamar Mommy, mau mandi katanya, gimana udah nggak kesel?” tanya Mommy sembari melihat Kiyara yang kini tengah tertidur pulas di ranjang.


“Enggak, udah punya obatnya. Mommy, mau ada yang dibicarain?” Mommy Dave, mengangguk lalu memilih duduk di sofa kamar anaknya diikuti oleh Dave.


“Maafkan Mommy, yang dulu juga ikut membohongimu secara tidak langsung.”


“Emh, iya Mom … nggak apa, tadi juga aku heran kenapa reaksiku seperti itu, biasanya emosiku cukup bisa diandalkan sekarang kembali seperti dulu meledak-ledak lagi, tapi udah liat Kiyara jadi adem lagi.”


Mommy, tersenyum lalu mengusap punggung tangan anaknya, cukup lega karena Dave sudah menemukan pawang yang tepat, membuatnya tak khawatir jika sewaktu-waktu Sang Pencipta memanggilnya.


“Syukurlah, lalu itu kenapa Kiyara tidur perasaan semalam kalian nggak begadang kan ya?”


“Iya, Mom tau tuh, aku juga heran tadi aku masuk dia nangis-nangis katanya El lagi sakit, bentar deh aku mau vicall Bunda, dulu mau tanya kondisi El, Mommy mau istirahat aja di sini sama Kiyara, tidur di sana, biar Dave di kamar Mommy, sekalian mau ngobrol sama Daddy.”


Mommy Dave, menganggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan anaknya. “Emh, Dave … kata Daddymu kamu menyutujui kami kembali?”