
AUTHOR POV
Acara 4 bulanan itu disambung dengan acara bbq-an di belakang rumah yang sudah di sulap sedemikian rupa agar cukup untuk keluarga besar Kiyara yang datang dari Jakarta dan Surabaya, keluarga dari Tante (Adik Ayah Akbar) dan Pakde Reza (Kakak Bunda Alana), sementara dari keluarga Dave hanya ada Daddy dan Mommynya saja, lalu ada sahabat-sahabat Kiyara dan satu teman lama Dave.
Di bawah temaramnya langit malam yang cerah, di bawah lampu-lampu yang sengaja di pasang banyak di pohon pohon buah, semua orang tampak berkumpul dan berbincang akrab, meski tak sering juga para jomlo memekik histeris kala pasangan halal saling menunjukkan kebucinannya pada pasangan masing-masing.
“Kayaknya kita salah ikut acara, ku kira hanya empat bulanan ternyata ada acara pamer pasangan juga,” lirih Rendi pada Cakra.
“Sama, Bang … mana bonyok gue nggak bisa ikut ke sini malah makin sepi aja idup gue, untung ketemu lu Bang jadi gue nggak jomlo sendirian,” jawab Cakra sembari tersenyum kecut.
“Ck … nasib-nasib,” gumam Rendi.
“Meratapi nasib bener lu pade,” goda Dafa yang berdiri di dekat kedua pria jomlo itu sembari menggendong Baby El yang sudah berusia 9 bulan itu.
“Udah lah Bang, ngecengin kita mulu. Kita masih muda wajarlah kalo masih single and very happy,” jawab Rendi.
“Very happy kok mukanya syedddihh kayak gitu. Mending lu gendong anak gue, terus jalan noh ke deket gazebo ntar pasti ada yang ngedeketin lu, sepupu gue cantik-cantik mau yang dari Jakarta ataupun dari Surabaya semuanya cantik. Tapi inget yang ngomongnya pada medog jawa udah punya gandengan ndiri, nah yang ngomongnya gaul-gaul tuh yang masih single, pepet dah bawa nih anak gue, jadiin pancingan biar dapet gebetan,” ucap Dafa memberi penawaran yang menarik untuk para jomlo itu, apalagi tadi mereka melihat adik kakak yang sangat bening melewati mereka.
“Sini, Bang. El … Sayang ayo ikut Om,” ucap Cakra langsung menyambut tawaran Dafa dengan senang hati, dan tanpa dinyana El juga langsung merentangkan tangannya pada sahabat Tantenya itu.
Rendi, menggelengkan kepalanya melihat tingkah Cakra yang berhasil dikibulin oleh Dafa. Dia tahu tadi, saat Dafa merengek pada sang istri untung menggendong anaknya dengan alasan pegal tapi istrinya menolak karena lebih memilih membantu membuat bumbu bbq bersama para perempuan lainnya juga, katanya mau Q-Time sama ciwi-ciwi. Tapi satu hal yang tidak diketahui Rendi, bahwa Dafa memiliki rencana usil bersama dengan Adiknya juga Adik Ipar sebagai saksinya.
“Ha ha ha, tuh anak polos bener, langsung cabut aja,” gumam Dafa.
“Kualat lu entar, Bang … mendzolimi jomlo,” bisik Rendi.
Puk …
“Apaan sih, gue nggak mendzolimi ya, cuman mencari kesempatan aja buat para jomlo seperti kalian biar cepet dapet gebetan,” kilah Dafa.
Sementara itu seorang laki-laki sembari menggendong tubuh gempal seorang bayi berusia 9 bulan sedang melancarkan aksinya berjalan mendekat menuju gazebo yang dimaksud oleh si Bapak dari bayi yang digendongnya.
“Ahemm, El Sayang … kamu mau maem?” ucap Cakra dengan mengeras-ngeraskan suaranya.
Bugh …
Tapi sayang, malah wajah manisnya itu terkena pukulan dari tangan kecil bayi tampan yang berada digendongannya. Mungkin El ingin menyelamatkan Tante-Tantenya dari Cakra. “Aduh, kok aku dipukul sih El, kamu mah ngga pro sama aku,” gerutu Cakra.
“Hallo, baby El … sini sama Aunty,” ucap gadis berambut sebahu yang ditutup pashmina sedikit disebagain pucuk kepalanya, seperti hanya menyampirkannya saja untuk menghormati acara tasyakuran tadi sore dilihat dari gamis berwarna peach yang dikenakannya juga.
“Emh, siapa?” tanya Cakra seolah berhati-hati untuk menyerahkan El pada orang yang tak dikenal padahal di acara itu khusus untuk keluarga terdekat serta sahabat-sahabat dekat saja.
“Oh sepupunya Kiyara, kenalkan juga, Cakra sahabatnya Kiyara. Ini aku dititipi El sama Bang Dafa, dia lagi ngobrol sama temennya Kak Dave,” jawab Cakra dengan tersenyum ramah.
“Salam kenal Kak,” ucap Shakira ramah dan di balas anggukan serta senyuman tak kalah ramah oleh Cakra, si tukang modus yang dapet mangsa, gebetan muda anak kuliahan gitu loh.
“Mau gendong, El?” tawar Cakra.
“Boleh, sini aku gendong ya … uh gemesnya, tambah endut aja dari terakhir kali ketemu,” ucap Shakira, membuat Cakra terpesona dengan kelembutan Shakira dalam memperlakukan bayi.
“Emang terakhir kali ketemu kapan?” tanya Cakra.
“Pas dia 7 bulanan, kan ada acara kecil-kecilan di rumah depan,” jawab Shakira.
“Lagi sibuk apa di Jakarta, sampek jarang ke Bandung buat nemuin keponakan gemoy kayak gini, apalagi next bakal ada 3 bayi yang nggak kalah gemoy pastinya dari El.”
“Modus mode on, dasar Cakra bisa aja ngorek informasinya alus bener,” gumam ibu hamil yang sedang duduk di gazebo sembari memperhatikan sahabatnya yang sedang PDKT-in sepupunya.
“Biarin, Yang … kasihan tuh si Cakra abis kenak tipu sama adik tirinya si Abang. Tapi lucu juga, kalau ujung ujungnya dia berjodoh sama keluarga kamu lagi, hi hi hi,” bisik suaminya.
“Ish, Tya bukan keluarga aku tau Yang.”
“Eh, iya-ya … udah yuk kita nguping lagi,” ucap Dave.
“Kuliah Kak, aku masih semester 5 baru masuk lagi sih ini abis libur semesteran, next semester lebih berat lagi soalnya aku harus magang. Bakalan susah sih kalau ke Bandung, kecuali aku dapet tempat magang di sini, kayaknya seru juga,” ujar Shakira.
“Memangnya jurusan apa, kuliahnya siapa tahu aku bisa nyariin tempat magang di sini.”
“Aku Teknik Lingkungan, Kak.”
“Serius? Kebetulan sekali ha ha ha sepertinya kita jodoh, aku juga alumni Tekling di almamater yang sama dengan Kiyara. Kalau kamu mau, boleh magang di kantorku, aku baru aja mengakuisisi salah satu perusahan pelayanan lingkungan milik mendiang Kakekku ayng sempat diambil alih oleh pamanku. Perusahaannya cukup besar, soalnya bukan hanya melayani pembuatan dokumen lingkungan dan pelayanan laboratorium lingkungan skala Bandung aja tapi nasional, kamu boleh magang di sana, itu pun kalau kamu mau,” ucap Cakra dengan menahan letupan kebahagiaan di dalam hatinya karena seolah semesta memihak kepadanya.
“Siap, Kak nanti aku konsulin dulu sama dosen aku. Thank’s banget ya, udah nawarin ini aku seneng banget,” kata Shakira dengan melompat kecil di sana.
Dari sudut lain, Dafa kini sedang memanasi Rendi karena sudah kalah start oleh Cakra. “Tuh kan liat, hoki banget emang si El, lu sih tadi kagak mau. Langsung dapet gebetankan tuh bocah. Tu … tuh … liat si Bianca, dia Kakaknya Shakira yang ngedatengin Cakra tadi. Nggak mau ke sana lu PDKT-in sepupuku si Bia?” goda Dafa.
Dengan langkah 45, Rendi berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Cakra yang kini sudah dikerubuti dua wanita cantik. Sementara dari tempatnya duduk Dafa sedang mengangkat jempolnya tinggi-tinggi dan di balas acungan jempol juga oleh sang adik yang tak lain adalah Kiyara Wulandari, sepasang adik-kakak yang sedang menjadi cupit cinta untuk sepupu-sepupunya dan juga sahabatnya.
“Kalian ya, kompak bener,” gumam Dave sembari menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istri dan kakak iparnya itu.
"Kita hanya memberi sedikit jalan, sisanya biar mereka berusa sendiri," ucap Kiyara sambil terkikik geli.