
KIYARA POV
.
.
Dadaku rasanya masih sesak, terlebih hujan yang tak mau reda sedari tadi membuat rasa sedih semakin mengalun lama di dalam hati. Merutuki kondisi fisikku yang mudah lelah juga, sehingga tak bisa menemani suamiku lebih lama dalam ketermenungannya, dalam kesedihannya. Sore tadi setelah pemakaman satu per satu orang yang aku
kenal mengundurkan dirinya masing-masing meninggalkan rumah, dan semua kembali sepi hanya ada aku, Mas Dave, dan beberapa keluarga dekatku yang tetap berada di rumah Mas Dave atas permintaan Ayah karena melihat kami yang sangat terpuruk, terlebih menantunya ini. Tak ada satu pun keluarga dari almarhumah Mommy yang
datang untuk sekadar melayat, sementara keluarga almarhum Daddy akan datang nanti di acara 3 harian karena perjalanan yang cukup jauh di tempuh dari belahan bumi lainnya.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi Mas Dave masih terjaga duduk termenung di sisi ranjang sebelahku sementara aku sudah hampir hilang kesadaran karena kantuk yang teramat sangat. Sampai usapan di perut yang terasa sangat nyaman, membuaiku dan perlahan tertidur dengan pulas.
**
“Terima kasih, Tan sudah pulang ke Bandung dan mau menginap di sini,” ucapku menyalimi Tante Fani adik dari Ayah, yang namanya samaan dengan sahabat dekatku, sama-sama Fani.
“You'r wellcome Sayang, yang kuat ya biar bisa menguatkan suamimu. Kasihan dia, bagaimana pun kehilangan orang tua adalah hal yang paling menyedihkan sekaligus menyakitkan, meski pun dia sudah besar dan bisa bertanggung jawab pada dirinya sendiri,” pesan Tante Fani sembari memelukku.
“Iya, Tan … insya Allah aku selalu kuat,” jawabku padahal sama-sama lagi diposisi rapuh saat ini.
“Om, balik dulu ya Sayang. Kamu harus tetep inget sama anak-anak kamu, ajak Dave juga buat terus bercengkrama dengan anak-anaknya ini pasti nanti sedihnya perlahan hilang,” pesan Om Bagas suami Tante Fani.
“Siap, Om insya Allah … bantu doa ya Om,” ucapku sembari memaksakan senyuman.
Pagi ini tepat jam 9.25 Om Bagas dan Tante Fani kembali ke Jakarta, setelah pagi tadi beberapa kerabat Ayah dan Bunda sudah undur diri terlebih dahulu. Rumah jadi semakin sepi, hanya ada aku, Mas Dave, Ayah, Bunda, dan Kak Dafa yang sering mondar-mandir antara rumah depan dan rumah Mas Dave, karena meninggalkan istri serta anaknya di rumah depan di temani oleh Ibunya Teh Asti.
Aku kembali masuk setelah melihat mobil Om Bagas sudah hilang dipandangan mata, berjalan perlahan dipapah Ayah masuk ke dalam rumah. “Hibur suamimu, Nak,” bisik Ayah tepat di telingaku saat kami baru saja masuk ke dalam rumah dan mendapati Mas Dave yang lagi-lagi masih termenung seperti orang kehilangan arah.
“Kamu ingat Ayah waktu kehilangan Kakek dan Nenekmu?” tanya Ayah padaku.
“Iya, Ayah aku ingat … sama persis seperti Mas Dave,” lirihku, karena benar … mereka tampak sama, seperti anak kecil yang ditinggal orang tuanya di tengah keramaian.
“Karena kami sama-sama menyayangi orang tua kami, Sayang … apalagi kepergian besan Ayah itu bisa dibilang sangat-sangat mendadak, pastilah suamimu itu terpukul. Hibur dia, beri dia semangat lagi … ingatkan si utun ini padanya biar jiwanya kembali hidup.”
“Baik, Yah … terima kasih sarannya,” ucapku tulus lalu beranjak menuju sofa di sebelah Mas Dave.
“Hay, Papa you’r be stronger,” ucapku sembari menarik pergelangan tangannya dan menaruh telapak tanganya di atas perut buncitku.
Mas Dave tersenyum kecil melihatku, lalu tangannya bergerak lembut mengusap perut buncitku lalu mendaratkan ciiuman bertubi-tubi di perutku dengan lelehan air mata yang mengiringinya. Dia mellow sekali, membuatku juga menitikan air mata kembali. Ah, kematian … selalu saja menyisakan kesedihan seperti ini, sekuat apapun orang di luaran sana tetap akan bertukuk lutut dengan yang namanya kematian.
Kecupann tanpa henti beralih di setiap inci wajahku. “Terima kasih, Sayang,” ucapnya lirih.
“Sama-sama,” jawabku meski tak tahu dia berterima kasih untuk apa.
“Ayo, kita sarapan dulu baby triplets lapar belum di kasih sarapan, nih,” ucapku padahal tadi nyemil surabi abis 3 potong, harap maklum isinya banyak jadi cepet laper sekalian buat alasan untuk membujuk suami agar mau makan karena dari semalam dia tak mau menyentuh makanan sedikit pun.
“Loh, kamu kok gituh sih Yang, kok belum sarapan ini udah berapa ini?” tanyanya dengan wajah meraut panik, aku bersyukur meski sedih dan tak memikirkan dirinya sendiri dia tetap ingat dengan anak-anaknya.
“Iya, maaf Papa tadi Mama juga sedih lihat Papa sedih jadi napsu makan Mama juga belkulang,” ucapku menirukan suara anak kecil dan yeay, dia tersenyum tipis ke arahku.
“Ya sudah ayo kita makan, maafkan Papa ya Mamanya anak-anak,” ucapnya sembari membantuku berdiri.
Sedikit susah memang, apalagi kadang sudah terasa pergerakkan di dalam sana, terutama di pagi hari kadang meleyot kanan atau kiri, ngeri sendiri kalau lihat begitu, perut yang meleyot-leyot.
“Sudah susah, ya berdirinya padahal baru jalan 5 bulan,” ucap Mas Dave.
“Iya, Mas baru juga 17 minggu ini, tapi emang kembar 3 kali ya Mas, jadi susah begini aku aja kalau nunduk udah nggak kelihatan kaki aku sendiri he he he apalagi yang sering kamu gempur kalau malem aduh ampun nggak keliatan sama sekali,” ucapku yang entah kenapa malah membahas melenceng ke sana.
“He he he, mangkannyakan aku bantu bersihin terus kalau aku habis main di sana,” ucapnya sembari terkekeh kecil, ah dia selalu begitu sedari dulu kalau sedih, bahas saja apa yang dia sukai pasti akan sedikit lupa dengan kesedihannya, intinya jangan sampai dia bersedih sendirian.
“Malu, ih,” ucapku sembari mengedikkan bahuku.
Di meja makan sudah tidak ada siapa-siapa lagi, Ayah, Bunda, dan Kak Dafa sudah makan pagi tadi bersama dengan sanak saudara lainnya, sementara aku lebih memilih menunggu Mas Dave meski tetap memakan serabi oncom sebagai pengganjal saja. Kini Ayah dan Bunda lebih memilih duduk di ruang keluarga, agar mudah jika ada tamu yang berkunjung tak perlu menunggu lama tuan rumah sudah sedia di tempat … tinggal jalan sedikit untuk menyambut, karena biasanya sampai hari ke 7 akan selalu ada sanak saudara atau kerabat yang datang untuk melayat.
“Mau sepiring berdua atau?” tanyaku.
“Heum, berdua saja,” jawabnya singkat.
Ada sayur asem khas sunda, sambal baby cumi, dan juga tempa goreng, sebetulnya ini
menu untuk makan siang nanti tapi karena bubur ayamnya udah dingin dan aku
sedikit malas untuk memanaskannya jadi aku mengambil makanan yang ada di meja
makan saja toh hari juga sudah beranjak siang.
“Sama ini tidak apa kan?” tanyaku memastikan dan diangguki oleh Mas Dave.
“Makan yang banyak ya, Papa kuatku,” ucapku menirukan suara anak kecil lagi, yang penting selalu berusaha untuk menghiburnya. Dan aku tahu, kamu adalah lelaki kuat serta hebat, Mas ... aku akan selalu menemanimu sampai ajalku tiba.