
Dunia Pernikahan
.
.
KIYARA POV
Tak terasa kini sudah berjalan 2 bulan pernikahanku dengan Mas Dave, lelaki belasteranku yang sudah membuat sayap-sayapku kembali bisa mengepak indah, meski dunia pernikahanku tak semulus jalan tol tapi semua bisa dilalui dengan baik setiap ada permasalahan yang menerpa.
Kata orang lima tahun pernikahan adalah tahun-tahun riskan pertengkaran karena masalah finansial ataupun karena ego yang masih labil, dan tentu saja penyesuaian diri terhadap pasangan. Terlebih nikahnya yang dadakan seperti aku dan Mas Dave, belum banyak yang kami obrolkan pada saat itu, apalagi satu bulan lebih di awal pernikahan kami harus merawat Mommy yang menjalani pengobatan di Singapura kala itu, semakin mempersempit
waktu saling mengenal lebih dekat satu sama lain, obrolan tentang masalah keuangan secara detail, sesuatu yang di suka atau tidak, bagaimana kebiasaan di rumah dan sebagainya. Kami saat itu hanya berusaha menjalankan peran sebagai suami istri dengan baik, mencoba saling mengerti dan mengalah dan memupuk dengan cinta kasih itu saja. Sampai, aku keguguran lalu bedrest, masalah Tya juga, dilanjut dengan pernikahan Mommy dan Daddy kembali, perjalanan ke Jerman untuk menyelesaikan permasalahan masa lalu, dan baru kembali 1 minggu lalu ke Bandung, kadang semua yang sudah aku lalui terasa membingungkan.
2 bulan berlalu, tapi baru beberapa hari aku merasa baru tahu kebiasaan Mas Dave seutuhnya saat baru bangun tidur, saat di rumah, saat mau ke tempat kerjanya, atau hal-hal apapun itu yang dia lakukan, yang selama ini luput dari perhatianku seutuhnya. Dan melihatnya setiap hari seperti ini membuatku aneh sendiri, tak mengira di
usiaku yang baru 23 tahun aku sudah memiliki pendamping hidup seperti dia, dia yang sempurna … kalau kata Sammy Simorangkir, he he he.
“Hey, jangan melamun …”
“Eh, Bunda maaf Bun,” ucapku sambil meringis malu, aku hari ini mengungsi di rumah Bunda sebab Mas Dave ada pekerjaan dari pagi sampai sore nanti, kantornya sudah mulai beroperasi dan awal-awal seperti ini kehadiran direktur utama sangat penting untuk menangani hal teknis perusahaan sebelum dilimpahkan pada orang kepercayaan seperti yang Mas Dave inginkan, meski begitu tetap saja tidak bisa lepas tangan begitu saja.
“Melamun apa kamu?” tanya Bunda.
“Masih terbayang ya, bagusnya Jerman? Pulang dari Jerman jadi suka ngelamun gini,” ucap Bunda sembari mencubit pipi empukku.
“He he he, Jermannya bagus, cuman Ara nggak lagi ngelamunin Jerman, Bun. Cuman lagi terbayang dunia pernikahan aja, nggak nyangka Ade udah menjalani dunia itu saat usia Ade baru 23 tahun, aku kira teh bakalan di atas 25 tahun sebelumnya. Baru sadar juga, kebiasaan suami selama satu minggu ini tinggal berdua, sebelumnya perhatian aku terbagi sama Mommy juga, belum lagi aku yang sempet keguguran jadi asana teh kumaha gituh Bun,” ucapku pada Bunda.
“Awal pernikahan yang kamu lalui bersama Dave, itu luar biasa cobaannya. Kalau biasanya awal-awal pernikahan
pasangan muda itu kalau nggak keuangan ya adaptasi antar individunya maupun keluarganya yang susah, tapi kamu dan Dave masyaAllah langsung di beri tugas mulia mengurus ibu kalian. Dan Bunda bangga sama anak Bunda, bisa membantu suaminya merawat ibunya sampai sembuh kembali. Bunda juga bangga, anak Bunda
“Nah, selama seminggu ini wajar kalau kamu baru tahu bagaimana-bagaimananya suami kamu. Seperti kata kamu tadi, perhatian kamu lagi fokus ke suami kamu saja tidak pada yang lain, lalu bagaimana apa semua yang ada pada Dave kamu merasa bisa menerima semuanya?” tanya Bunda dengan nada serius.
Aku tersenyum. “Ada yang nggak cocok sedikit, Bun. Tapikan manusia tidak ada yang sempurna, aku saja masih
banyak kurangnya jadi aku tidak menuntut lebih Mas Dave harus seperti apa, atau seperti yang aku inginkan. Dia menerima aku apa adanya, begitu pun aku. Lagian kekurangannya Mas Dave itu bisa jadi ladang pahala buat aku, Bun. Ini aku inget banget wejangan Bunda waktu malem sebelum aku menikah, Bunda kan bilang begitu
sama aku. ‘Kekurangan suami bisa jadi ladang pahala buat kamu nanti, misalnya kalau habis mandi, handuknya cul aja di kasur bisa kamu ambil dan di taruh di tempatnya, kalau suaminya salatnya masih bolong-bolong bisa di ajak jama’ah biar nggak bolong-bolong lagi’ itu kan pesen Bunda dulu,” ucapku.
“Iya betul, tapi harus ingat ada sesuatu yang bisa di ubah ada juga yang susah bahkan tidak bisa di ubah, kalau hal seperti kebiasaan masih bisa di ubah, tapi kalau sudah sifatnya duh susahnyaa … jadi ya satu-satunya cara adalah menerima tapi kalau sekiranya itu sifatnya jelek ya perlahan di lurusin dikit-dikit. Sama harus mawas diri, jangan
pernah merasa benar sendiri karena rumah tangga itu harus saling yang dalam kebaikan jangan saling yang dalam keburukkan,” kata Bunda.
“Harus saling menyayangi, saling mengasihi, saling menerima pasangan dengan baik, saling mencintai, dan
saling-saling yang lainnya, jangan saling menang sendiri, egois itu namanya, saling mau jadi yang unggul, atau saling-saling yang buruk lainnya,” sambungnya lagi lalu beralih mengambil gelas kecil berisi the hangat yang tadi aku buat untuk menemani mengobrol santai pagi menjelang siang ini.
“Iya, Bun … insya Allah, tapi sejauh ini alhamdulillah aman. Seperti kata Bunda, kami juga dari awal pernikahan sudah saling mengasihi, saling mengerti, dan saling menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain meski kadang masih ada cek-coknya, wajar saja menurut Kiyara dan memang satu minggu belakangan ini yang terasa sekali tapi kami senang bisa melalui ini semua dengan baik dan masih saling berpegangan tangan untuk saling menopang satu sama lain. Tapi kadang lucu juga kalau di ingat-ingat Bun, selama dua bulan menikah aku baru
menyadari jika Mas Dave kalau tidur kadang suka ngigo, atau kadang-kadang kalau mandi suka lupa bawa handuk, astaga dia benar-benar berbeda rasanya dengan dulu,” ucapku sembari membayang wajah tampan suamiku itu dan Bunda hanya tersenyum gemas melihatku.
“Kamu itu, ya iya atuh … dulu kamu ketemunya paling-paling sehari cuma 1 sampai 2 jam aja paling lama mungkin
5 jam, ah sekarang kamu hampir 24 jam sama suami kamu terus ya beda atuh, semakin keliatan kebaikan dan keburukkannya, kebiasannya, sifat dan sikapnya jadi terlihat semua aslinya yang sebelumnya kamu tidak tahu banyak jadi lebih tahu lagi sekarang, begitu pun kamu di mata Dave pasti ada bedanya mungkin dulu tahunya kamu kalem anaknya eh ternyata aslinya nggak kalem sama sekali hi hi hi," kata Bunda yang ujung-ujungnya menggodaku..
Aku terkekeh kecil mendengar Bunda berbicara seperti itu, memang betul apa yang di katakan Bunda. Ibarat
dulu aku cuman bisa pegang tangannya sekarang udah bisa pegang yang lainnya juga semuanya tanpa terkecuali, hi hi hi hi.